Mimpi Munir setelah 20 tahun jadi pegawai honorer

LELAKI paruh baya itu tampak ceria. Jalan mondar-mandir, sesekali tertawa lepas mendengar guyonan dari teman penyuluh dan staff di Badan Penanggulanan Ketahanan Pangan (BPKP) Pidie Jaya. Selinting rokok les merah, erat terselip di sudut kiri bibirnya.

“Sudah 20 tahun saya mengabdi, dek. Sekarang saya salah satu penangkar benih unggul di Pidie Jaya,” kata Munir, 50 tahun, Kamis 24 April 2013.

Saat berbicara, kepulan kecil asap rokok keluar pelan dari celah gigi yang sebagiannya kini ompong.

Nyan meu igoe gohlom abeh timoh, ka honorer K2 (itu yang giginya belum semua tumbuh, sudah masuk honorer K2),” kata Syahrul Nurfa, anggota Pansus bergurau sebelum memasuki ruang kepala BPKP Pidie Jaya. Riuh tawa tak terelak, Munir pun terpaksa nyengir malu.

Penampilan dan perawakan Munir mencuri perhatian ATJEHPOSTcom saat meliput Panitia Khusus (Pansus) Honorer K2 yang dibentuk Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pidie Jaya.

Kamis Siang, 25 April 2013. Hari itu, gerimis sebentar turun, sebelum secara pelan berubah hujan lebat, mengguyur Meureudu selama tiga jam lebih.

Nama Munir tercatat di daftar uji publik Honorer Kategori Dua (K2) yang dirilis Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) sejak tanggal 1 April lalu. Dia seorang penyuluh yang bekerja sebagai Tenaga Harian Lepas (THL) di Badan Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BPKP) Kabupaten Pidie Jaya.

Munir memang bukan salah satu nama yang dipermasalahkan Tim Pansus DPRK. Sejak riuh tuduhan “Honorer Siluman K2” yang didemo mahasiswa Pidie Jaya medio April lalu. Kini sejumlah honorer yang “terlibat” mulai kasak-kusuk. Terlihat beberapa pegawai honorer yang usianya jauh muda dari Munir, duduk tidak tenang di tengah keramaian ruangan BPKP.

“Lihat ini, dek. Kelas berapa kamu saat tahun itu?” tanya Munir saat memperlihatkan satu eksemplar Surat Keterangan Kerja Bakti. Surat itu diketik menggunakan mesin tik dan tertanggal, 4 Juli 1993.

Munir saat itu kerja bakti di Koperasi Catur Karya, Aceh Utara. Tiga tahun dia lalui hidupnya di kota petro dolar Lhokseumawe sebelum pindah kerja ke Dinas Pertanian Kabupaten Pidie.

“Tahun 2004 saya dapat SK Bakti juga di BBU (Balai Benih Utama) Meureudu,” kata Munir.

Saat itu, kata Munir, dia tidak mendapat bayaran bulanan dengan angka Rupiah yang tak pasti. “Menyoe na peng lubeh, na dibayeu (kalau ada uang lebih, ada bayaran),” ujarnya.

Baru pada Tahun 2005, Munir mendapat SK Penyuluh Swakarsa dari Pemerintah Kabupaten Pidie. Mulai tahun itu Munir telah mendapatkan upah yang telah dialokasi khusus pemerintah untuk anggota penyuluh.

“Kerja penyuluh bagi saya adalah kesempatan belajar, membagi ilmu, dan membantu kawan-kawan petani. Saya punya tekat, Pidie Jaya harus maju dalam bidang pertanian,” kata Munir.

Kali ini, dengan mimik muka serius dia menunjuk ke jendela kaca. Di luar tampak padi mulai menguning dan hamparan sawah yang membentang.

Beutoi, beutoi, Pak Munir,” ujar teman-teman yang seprofesi dengannya mengamini. Munir juga ikut angguk kepala dan tersenyum.

Atas kesabaran dan perjuangan, Munir saat ini dipercaya sebagai salah seorang penangkar benih unggul untuk petani di Pidie Jaya. “Untuk benih unggul jenis Ciherang, Cibogo, Inpari itu saya bisa produksi,” kata Munir.

Di tahun 2013 ini, nasib baik masih memihak Munir. Namanya tercatat di uji publik Honorer K2, artinya tinggal satu tahap lagi untuk menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ditanya ATJEHPOSTcom tentang perasaannya, Munir menjawab, “semoga mimpi jadi kenyataan.”[](bna)

  • Uncategorized

Leave a Reply