Menilik Buku Politik Jarak Jauh Diaspora Aceh

“Indonesia adalah sekadar kelanjutan Hindia-Belanda seutuhnya secara politis, ekonomi, dan yuridis”

Pernyataan tersebut dilontarkan oleh Hasan Tiro pada 1985, duapuluh tahun sebelum MoU Helsinki ditandatangani. Pernyataan tersebut merupakan penolakan orang Aceh terhadap Indonesia, dan juga berarti pernyataan perang.

Keadaan orang Aceh yang mengidam-idamkan utopia [kemerdekaan] tersebut seakan-akan mengingatkan kita pada pepatah lama; Si vis pacem, para bellum (jika kau mendamba-dambakan perdamaian, maka bersiaplah untuk perang)—karena toh pasca ditandatanganinya-MoU Helsinki 2005 para diaspora Aceh masih tetap menggeliat dengan politik jarak jauhnya.

Namun apa sebenarnya yang mendasari geliat diaspora Aceh pasca-MoU Helsinki 2005?Apakah ia tetap berkutat pada agama sebagai dasarnya, seperti halnya gerakan Darul Islam di masa silam?

Ataukah hanya ekonomi dan politik? Apakah usaha rekonsiliasi lewat MoU Helsinki sudah cukup manjur untuk membendung gelora separatism segelintir orang Aceh tersebut?

Buku ini menawarkan solusi dalam memahami akar permasalahan konflik separatis di Indonesia, khususnya Aceh.

Dengan informasi berasal dari tokoh-tokoh diaspora Aceh dari Skandinavia, Australia, Malaysia, hingga Amerika, buku ini menawarkan pembahasan yang mendalam tentang konflik Aceh. Bukan mustahil dengan meluasnya wawasan kita tentang keIndonesiaan, maka rekonsiliasi dan perdamaian akan tercapai.[]

Judul : Politik Jarak Jauh Diaspora Aceh: Suatu Gambaran tentang Konflik Separatis di Indonesia
Penulis : Antje Missbach

Penerbit : Ombak

Cetakan : Desember 2012

Tebal : xxxiv + 362 hlm

Ukuran : 15 x 23 cm

Harga :

  • Uncategorized

Leave a Reply