Menikmati Chiang Mai di Musim Bunga

Sudah 15 jam kereta api malam yang membawa kami berderak, melintasi areal pertanian nan luas dan perbukitan. Itu artinya, satu jam lagi akan tiba di Chiang Mai, kota sejuk di utara Thailand yang berbatasan dengan Myanmar. Jaraknya sekitar 700 kilometer dari Bangkok.

Berangkat dari stasiun Pu Lamphong di Bangkok pukul 10 malam, kereta tiba di Chiang Mai pukul 1.27 siang.  Harga tiketnya 862 Bath per orang pulang pergi. Dengan kurs Rp380 per Bath, untuk sekali jalan tarifnya Rp163.780.

Kereta api bukan satu-satunya tranportasi menuju Chiang Mai. Bagi yang tak betah berlama-lama di kereta, bisa naik pesawat yang hanya butuh waktu satu jam. Jika naik bus melintasi jalur highway, hanya perlu waktu 7-8 jam.

Saya memilih perjalanan dengan kereta api agar bisa menikmati suasana perkampungan di Thailand. Lagi pula, berdasarkan informasi yang dikumpulkan sebelumnya, jalur kereta dari Bangkok menuju Chiang Mai menawarkan pemandangan alam berupa kawasan perbukitan.

Benar saja, dari atas kereta api saya menyaksikan hamparan areal persawahan dengan latar belakang perbukitan. Ketika saya terbangun di pagi hari, matahari baru muncul dari balik bukit.  Cahayanya masih samar-samar tertutup kabut. Pagi-pagi begini, matahari merah menyala, tapi tanpa pendar cahaya di sekelilingnya.

Semburat merah matahari pagi yang berpadu dengan kabut dan hijaunya alam benar-benar memanjakan mata. Indah nian.

Kereta melaju membelah hutan belantara. Sesekali diselingi perkampungan penduduk dengan rumah-rumah kayu berbentuk panggung. Sekali waktu kami berteriak girang ketika kereta melewati sungai berbatu dengan areal perbukitan di kiri kanan, juga di latar belakang. 

Ini pertama kalinya saya melihat lahan pertanian yang begitu luas. Bayangkan, lima jam perjalanan, yang terlihat hanya hamparan ladang pertanian dan areal persawahan. Sesekali terlihat hamparan kebun bunga matahari, lalu berganti sawah-sawah nan hijau.

Melihat pemandangan ini, saya jadi paham mengapa hingga kini Indonesia masih mengimpor beras dari Thailand yang kalau dilihat di peta, ukurannya tak sampai seperempat wilayah Indonesia.

Vegetasi tumbuhannya hampir mirip dengan di Indonesia. Ada pohon jati, areal persawahan, kebun mangga, bunga matahari dan pohon lengkeng.   

Di dalam kereta ada sebuah gerbong yang diperuntukkan sebagai kafe tempat menjual aneka jajanan. Kami sarapan dengan secangkir kopi dan roti.  Di belakang kami duduk empat pemuda Arab.  Di depan, tiga bule berwajah Eropa bercengkrama ria. Agak ke belakang, ada dua perempuan muda berwajah Eropa yang belakangan memperkenalkan diri berasal dari Perancis.

***
Chiang Mai mengingatkan saya pada nama seorang gadis yang muncul dalam telenovela Thailand yang diputar oleh salah satu stasiun televisi Indonesia ketika saya  masih remaja. Gara-gara telenovela itu, setiap mendengar kata Chiang Mai, ingatan saya langsung melayang ke gadis pemeran telenovela itu. 

Tiba di stasiun kereta api Chiang Mai, kami langsung menuju hotel yang telah dipesan sebelumnya lewat transaksi online di Agoda.com. Letaknya di pusat kota, atau sering disebut sebagai Old Town oleh turis asing yang berkunjung ke sana. Dari stasiun kereta api hanya berjarak beberapa kilometer.

Kesan pertama saya, Chiang Mai adalah kota yang romantis. Bagaimana tidak, kota ini bertabur bunga. Bahkan, tiang listrik pun dihiasi aneka bunga hidup yang dimasukkan dalam pot.

Tiba di pusat kota, kesan romantis itu kian terasa. Bunga-bunga aneka rupa mekar di pinggir trotoar. Ada yang dibentuk menyerupai lambang hati,  berbentuk gajah, dan sebagainya. Itu sebabnya, kota ini juga dijuluki Rose From the North, mawar dari Utara Thailand.

Chiang Mai memang dikenal sebagai kota kembang. Tak hanya karena bunga dalam artinya sebenarnya, tapi juga konon kabarnya karena gadisnya yang cantik-cantik. Barangkali serupa dengan karakter Bandung jika di Indonesia.

Setiap tahun, di awal Februari, Chiang Mai menggelar festival bunga. Ini menandai dimulainya musim semi, saat bunga-bunga tropis bermekaran. Festival ini terbukti mampu menyedot ribuan wisatawan berkunjung ke sana. Kami tiba di sana sehari sebelum festival bunga dimulai pada 7 hingga 9 Februari.

Kawasan  yang disebut sebagai pusat kota berbentuk bujur sangkar dengan jalan dua jalur yang dipisah oleh sungai kecil di setiap sisinya.  Panjang setiap sisinya sekitar 1,5 kilometer.

Di setiap sisi jalan, di tepi sungai, ada bekas reruntuhan tembok kuno terbuat dari bata merah, peninggalan berabad silam.  Di beberapa tempat, ada gerbang yang masih utuh. Salah satunya adalah Tha Pae Gate. Unesco telah memasukkan tembok kuno itu sebagai salah satu peninggalan warisan dunia. 

Chiang Mai berarti kota baru. Dalam cerita yang diwariskan turun temurun, warga Chiang Mai tahu benar, pada 1296, raja Kerajaan Lamnathai menjadikannya sebagai ibukota baru, menggantikan Chiang Rai. Maka dibangunlah tembok kota bujur sangkar yang bagian luarnya dikelilingi oleh sungai kecil untuk melindungi kota dari serangan luar.

Chiang Mai sempat ditaklukkan oleh Burma yang sekarang dikenal dengan nama Myanmar. Raja Thaksin dari Ayyuthaya merebut Chiang Mai dari Burma pada 1774. Belakangan, Chiang Mai menjadi salah satu provinsi Thailand.

Ketika kami tiba di sana, ada air mancur di dalam sungai yang mengelilingi pusat kota. Untuk menjaganya tetap bersih, pemerintah setempat membuat sistem penyaringan air.  Jika malam tiba, lampu aneka warna menyala ke arah tembok kuno.

Sungai kecil mengelilingi pusat kota, taman bunga, tembok kuno, sungguh perpaduan yang menyihir mata. Saya pun terkesima karenanya.

***
Hotel tempat kami menginap terletak di Mon Muang  Road 2. Namanya Pepper House. Terletak di jalan kecil, bangunan tiga lantai itu lebih mirip guest house. Tampaknya, geliat industri pariwisata telah membuat warga di sana menyulap rumah-rumahnya menjadi penginapan bagi para turis. Di sepanjang lorong itu, turis-turis asing berseliweran.

Pusat kota Chiang Mai berada pada ketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan laut.  Ketika kami datang, suhu di Chiang Mai lumayan dingin, terlebih pada pagi dan malam hari yang mencapai 17 derajat Celcius.

Usai meletakkan barang-barang di penginapan, kami keluar mencari makan. Seperti biasanya, panduan kami mencari makanan halal adalah di dekat masjid. Untungnya, di peta yang diberikan pengelola penginapan, tercantum sebuah masjid. Letaknya tidak terlalu jauh dari penginapan, masih di kawasan pusat kota.

“Di sana ada kampung muslim, banyak makanan halal juga,” kata pengelola penginapan menjelaskan dengan ramah. Ia pun dengan suka rela menjelaskan rute yang harus kami lalui untuk tiba di kampung muslim itu.

Untuk ke sana, kami memilih menyewa sepeda motor seharga 200 Bath untuk pemakaian 24 jam. Karena berempat, kami menyewa dua motor. Tanya sana sini sambil menunjukkan letaknya di peta, akhirnya kami tiba di kampung itu.

Benar saja, tiba di sana, kami menemukan sebuah rumah makan yang menempel logo halal di papan namanya. Rumah makan ini hanya terpisah oleh jalan dengan masjid. Pemiliknya, warga Chiang Mai keturunan India, menyambut kami dengan ramah. Dengan bahasa Inggris yang terbatas, dia melayani kami. Saya sempat mengajarinya bahasa Indonesia untuk ikan dan ayam. Dia pun berulang kali mencoba mengingat-ingat. “Ikan…ayam, ikan…ayam.”

Kami baru saja makan ketika suara azan terdengar dari masjid. Ada rasa yang berbeda mendengar suara azan di sana. Bergegas saya melangkah ke masjid. Di sana, sang imam telah bersiap-siap untuk salat berjamaah.

Kepada saya, sang imam mengaku belajar Islam di Mekkah. Namanya Mustafa. Sore itu, hanya ada enam warga yang sembahyang berjamaah. Mustafa menjelaskan, biasanya pada hari Jumat ramai umat muslim yang bersembahyang di sana. “Sebagian warga kampung ini tinggal di luar kota karena berkebun. Hari Jumat mereka akan kembali ke sini untuk bersembahyang bersama,” ujarnya.

Mustafa lantas menyarankan saya mendatangi Night Bazaar, pasar yang hanya dibuka pada malam hari. Katanya, di sana ada kampung Cina muslim. Sebelum berpisah, ia sempat memeluk saya erat, hal yang meninggalkan haru mendalam di hati.

Ketika malam tiba, ke sanalah kami mengarahkan sepada motor. Pasar malam ini terletak di depan hotel Le Meridien.

Tak sulit menemukan lokasi yang disebut oleh Mustafa. Di pintu gerbangnya ada tulisan “Halal Street”. Di mulut gerbang, seorang perempuan berjilbab menjual roti. Tak jauh dari gerbang, ada sebuah masjid besar. Sejumlah anak muda bermata sipit dan berpeci putih berseliweran. Saya menduga mereka adalah santri di masjid yang juga dipakai sebagai pusat pendidikan Islam di sana.

Di sepotong jalan itu, saya menyaksikan wajah muslim Chiang Mai. Di kiri kanan jalan beberapa rumah makan memajang logo halal. Gampang ditebak, tiga hari di sana, kami bolak-balik ke kampung itu saat waktu makan tiba. Keramahan pemilik warung saat menerima kami meninggalkan kesan mendalam. Meskipun dengan bahasa Inggris terbatas, pemilik warung berusaha mengerti keinginan kami. (Lihat: Galeri Foto Kehidupan Muslim Chiang Mai)

***

Meskipun sama-sama kota turis, Chiang Mai punya karakter berbeda dengan Pattaya yang kami kunjungi sebelumnya. Karena di kawasan pegunungan, tak ada turis-turis berbikini di pusat kota.

Jika Pattaya menawarkan wisata pantai, Chiang Mai mengandalkan wisata gunung. Selain kebun-kebun bunga yang bertebaran di mana-mana, Chiang Mai “menjual” wisata gajah.

Gajah-gajah juga mewujud dalam berbagai bentuk souvenir seperti bantal, dompet, tas, pashmina, baju, patung kayu, gantungan kunci, juga celengan. Mamalia besar ini memang dijadikan icon Chiang Mai. Di stasiun kereta, saya disambut tiga patung kepala gajah. Di atasnya, ada foto penguasa setempat.

Dari sejumlah brosur yang saya temukan di penginapan, ada sejumlah tempat pemeliharaan gajah yang dikelola oleh pihak swasta. Para turis pun diberi kesempatan mandi bersama gajah sambil belajar menjadi pawangnya alias mahout. Belajarnya kilat, hanya sehari. Untuk menikmati fasilitas itu, dipungut biaya 2.500 Bath per orang. Berhubung isi kantong kian menipis, kami memilih tidak ke sana.

Hal lain yang dijual untuk wisatawan: belajar memasak. Bagi wisatawan yang berminat, boleh akan diajarkan memasak makanan Thailand seperti Tom Yam hingga mahir. Tentu saja harus membayar untuk mengikuti pelatihan itu.

Tanggal 7 Februari kesibukan mulai terlihat di Tha Pae Gate. Sejumlah pekerja sibuk menyiapkan pembukaan festival bunga yang akan dimulai pada malam hari.  Sedangkan parade karnaval bunga dimulai pukul empat sore, keesokan harinya.

Malam itu, kami menonton pemilihan Chiang Mai Miss Flower Bloom. Ini adalah kontes Putri Bunga. Pesertanya ada 29 orang, dari berbagai negara. Salah satunya orang Indonesia yang sudah tiga tahun menetap di Chiang Mai. Saya menduga, pelibatan peserta dari negara lain tujuannya untuk memperluas jangkauan promosi wisata Chiang Mai.

Benar saja. Salah satu pertanyaan yang diajukan kepada tiga finalis adalah,”apa yang akan anda lalukan apabila terpilih sebagai Miss Flower Chiang Mai?”

“Saya akan mempromosikan Chiang Mai yang indah di jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Saya ingin dunia tahu bahwa Chiang Mai adalah tempat wisata yang indah dan nyaman,” jawab kontestan asal Belanda yang akhirnya terpilih sebagai Putri Bunga Chiang Mai 2014.

***

Tanggal 8 Februari siang, jalanan di pusat kota Chiang Mai terasa lengang. Hanya sedikit mobil yang lalu lalang. Hari itu, kami telah memesan tiket kereta api kembali ke Bangkok pukul 5 sore. Rupanya, parade festival bunga dimulai sore itu. Awalnya kami menduga parade bunga dilakukan pada 7 Februari. Itu sebabnya, kami memesan tiket pulang pada 8 Februari. Tapi tak apa, ada sisa waktu satu jam  untuk menyaksikan parade.

Menjelang sore, kami keluar dari penginapan dengan membawa serta seluruh koper. Pemilik penginapan sudah wanti-wanti agar keluar lebih cepat, sebab jalanan di pusat kota banyak yang ditutup.

Kami pun menuju ke Tha Pae Gate dengan berjalan kaki. Di sana, telah dipajang aneka bunga ukuran raksasa. Sejumlah turis terlihat antusias berfoto di antara bunga-bunga, termasuk kami.

Di sepanjang jalan menuju terminal kereta api, orang-orang menyemut, berbaris di sisi kiri dan kanan jalan. Wajah-wajah asing bercampur dengan penduduk lokal. Mereka sedang menunggu karnaval parade bunga lewat.

Yang ditunggu akhirnya tiba juga. Parade bunga telah dimulai. Sekitar seratus meter di hadapan kami, ratusan mobil yang dihiasi dengan aneka bunga berjalan perlahan dan berhenti di beberapa tempat, memberi kesempatan jika ada penonton yang berbaris sepanjang jalan mengambil  foto.

Di atas mobil yang dihiasi bunga aneka bentuk, gadis-gadis cantik mengenakan gaun aneka warna, memamerkan senyum indahnya. Di jalanan, kelompok pejalan kaki mengenakan pakaian tradisional. Ada juga kelompok drumband. Festival bunga itu sekalian memamerkan kebudayaan warga Chiang Mai.

Seorang gadis yang mengenakan pakaian bersayap segera beraksi dan memamerkan senyum indahnya ketika saya jepret. “Kap kun khaa…. ,” ujarnya dalam bahasa Thailand yang berarti terima kasih.

Menurut cerita pengelola penginapan tempat kami menginap, festival bunga adalah salah satu momen yang ditunggu-tunggu oleh para wisatawan dan penduduk lokal.

Benar saja, hari itu saya menyaksikan bagaimana bunga bisa menyedot ribuan orang untuk mendekat. Bunga-bunga menjelma dalam wujud gajah atau lambang hati

Selain gadis-gadis muda, festival bunga juga ikuti oleh ibu-ibu dan bapak-bapak paruh baya. Seluruh warga Chiang Mai larut dalam perhelatan akbar itu. Tetabuhan gendang, bunyi terompet, dan alat musik tradisional berpadu mengiringi parade. (Lihat: Foto-foto Festival Bunga Chiang Mai)

Di atas kereta api yang membawa kami ke Bangkok, keramahan Chiang Mai masih terbayang. Sungguh, tak salah kota ini pernah masuk sepuluh besar kota nyaman untuk ditempati.

Di Chiang Mai, saya menemukan pelajaran baru; pariwisata bukanlah soal keindahan alam semata, tapi bagaimana menciptakan kreativitas, juga kenyamanan bagi pendatang. Di Chiang Mai, saya menemukan itu saat musim bunga mekar.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply