Mengintip Tionghoa Menari Aceh

Anak-anak Tionghoa tanpa malu terus belajar tari Aceh, orang-orang Tionghoa di Peunayong berharap damai bisa terus terjaga di Aceh.

______________________________________

Rumah toko dua pintu dan berlantai dua itu tampak sibuk dengan aktivitas jual beli bahan bangunan. Pemiliknya adalah etnis Tionghoa. Kawasan Peunayong sejak ratusan tahun lalu memang menjadi pemukiman etnis Tionghoa paling banyak di Aceh.

Terletak di Jalan Panglima Polem, Kawasan Peunayong, Kota Banda Aceh, ruko itu berlantai dua. Lantai pertama digunakan untuk aktivitas jual beli bahan bangunan. Lantai dua untuk arena gym dan latihan menari khusus anak-anak etnis Tionghoa.

“Biasanya tempat ini digunakan untuk gym, kadang juga untuk latihan menari anak-anak,” kata Suryani yang biasa disapa Amy. Dia adalah guru menari anak-anak etnis Tionghoa di Kawasan Peunayong.

Lantai dua itu luasnya sekitar 10 x 10 meter. Di sekelilingnya ditempel cermin besar. Tiang penyangga di tengah juga dibalut dengan cermin. Tak ada perabot selain satu kursi kayu panjang yang diletakkan di dekat tangga turun ke bawah. Dua kipas angin ukuran besar tergantung di sebelah selatan dan utara.

Mengenai nama, Amy mengatakan tidak memberi nama untuk tempat ini seperti sanggar-sanggar tempat menari lainnya yang ada di Kota Banda Aceh.

Di tempat yang tak jauh dari Vihara Tapekong itu, anak-anak etnis Tionghoa latihan menari setiap hari libur. “Kita bisa mengumpulkan anak-anak pada hari tanggal merah, kalau hari biasa anak-anak sibuk sekolah,” kata Amy.

Kamis pekan lalu, sekitar pukul 15.00 WIB, The Atjeh Times berkesempatan bertandang ke tempat tersebut. Ketika itu belasan remaja etnis Tionghoa sebenarnya sudah selesai latihan. “Apa mau dilihat lagi orang ini menari? Kalau mau, orang ini akan menari lagi,” kata Amy kepada The Atjeh Times. “Tapi tidak lengkap lagi, seharusnya ada 12 orang, satu sudah pulang,” kata Amy.

Akhirnya, mereka menyatakan ingin menari lagi di depan The Atjeh Times. Belasan remaja itu berjejer, yang pendek berada di depan, sedangkan yang tinggi berada di belakang. Musik pengiring dalam bahasa Mandarin diputar di laptop dalam ruangan itu. Ada satu remaja laki-laki dalam barisan itu, namanya Ceril.

Jika dilihat dari depan, akan tampak seorang perempuan yang berdiri dengan puluhan tangan. Para penari yang berada di belakangnya hanya menggerakkan tangannya saja, sedangkan tubuhnya tidak.

Mereka membawakan tarian Tangan Seribu. Dalam bahasa Mandarin, tari ini disebut Qian Shou Guan Yin. Tari yang berasal dari Cina daratan ini adalah tariannya Dewi Budha, dalam bahasa Sanskerta disebut Dewi Avalokistesvara, atau dalam bahasan Mandarin Hakka disebut Dewi Kwam Im.

“Itu namanya tarian Dewi Seribu Tangan dan Seribu Mata,” kata Amy.

Tarian ini gerakannya perlahan, jari-jari lentik gadis remaja ini bermain, kadang mereka merapat, kadang menyebar lagi, berlari kecil seperti Seudati dan tari pada umumnya.

Amy mengatakan tarian ini mengandung makna religius dan juga kekompakan. Dia menceritakan, kekompakan antarsesama penari menjadi syarat wajib sebelum memulai tarian ini. “Satu orang saja tak kompak, semuanya tak bisa menari,” kata Amy.

Walau Tangan Seribu adalah budaya Cina, tari itu baru ditampilkan pertama kali di Aceh dua tahun lalu dalam peringatan hari raya Waisak di Sakyamuni Peunayong.

Anak-anak etnis Tionghoa itu tidak hanya belajar menari budaya mereka seperti Tangan Seribu, Liong, dan Barongsai. “Kita juga belajar menari Aceh,” kata Amy yang dulunya belajar tari dari seorang penari Aceh sebelum tsunami 2004. Mereka menyebut “tari Aceh” atau “menari Aceh” untuk seluruh tarian dari Aceh.

Salah seorang peserta tari Tangan Seribu, Aprilyani mengaku pernah mementaskan tari Likok Pulo dan Tarek Pukat. Dia belajar tari Aceh itu ketika masih duduk di bangku Sekolah Methodist Banda Aceh. “Asik tariannya, saya senang belajarnya,” ujar perempuan mahasiswi semester I Fakultas Teknik Unsyiah ini.

The Atjeh Times juga sempat melihat lima penari cilik berlatih tari Ranup Lampuan. Kelimanya dengan lugu bergerak menari memegang mangkuk plastik. Diiringi lagu Ranup Lampuan, mereka dengan senangnya belajar dasar gerakan tari Ranup Lampuan. Gadis-gadis cilik itu anak-anak Tionghoa usia sekolah dasar yang sedang belajar menari Aceh.

***

Di depan Kantor Keucik Gampong Peunayong, satu panggung ukuran 5 x 5 meter didirikan. Jalan H.T. Mahmudsyah yang berhadapan dengan SMP 4 Banda Aceh itu ditutup untuk kendaraan.

Di atas jalan yang sudah dijadikan lapangan pertunjukan itu, 9 orang remaja meliuk-liuk membawakan tari Liong. Dengan tongkat di tangan masing-masing yang menyangga naga, mereka bergerak lincah. Kepala naga, kadang-kadang bergerak, naik turun seperti sedang ingin bertarung.

Di samping mereka, para penari Seudati juga tak kalah meliuk memukul tubuh. Kedua tari yang berbeda asal itu dibawa secara bersamaan, diiringi rapa-i dan gendang tari.

Malam itu, Sabtu 12 Januari 2013, etnis Tionghoa yang berada di Kawasan Peunayong mengadakan acara “Malam Persaudaraan”. Acara itu dilaksanakan bekerja sama dengan Gampong Peunayong.
Ratusan orang tumpah ruah di badan jalan depan Kantor Keucik Peunayong malam itu. Tari Ranup Lampuan, tari Tangan Seribu, Liong, dan Seudati dimainkan.

Ketua Komunitas etnis Tionghoa Hakka, Kho Khie Siong atau yang biasa disapa Aky mengatakan acara itu dilaksanakan untuk mengampanyekan kehidupan di Peunayong yang damai.

“Orang luar harus tahu bahwa etnis Tionghoa dan orang Aceh hidup secara berdampingan di sini,” kata Aky.

Malam itu, Aky sempat berbicara dengan beberapa bule yang datang menonton acara itu. “Mereka terkejut, melihat ada acara ini. Mereka tak menyangka orang Aceh dan Tionghoa di sini bisa damai,” kata Aky kepada The Atjeh Times.

***

Peunayong adalah satu-satunya daerah pemukiman etnis Tionghoa paling besar di Aceh. Ada yang berpendapat, orang-orang Tionghoa sudah datang ke Aceh sejak zaman sebelum Islam ketika pasukan Nian Nio Liang Khie atau Putro Neng – pasukan tentara perempuan dari daratan Cina – menaklukkan kerajaan Indra Purwa di barat daya Banda Aceh, atau di kawasan Lhokseudu sekarang.

Cerita kedatangan dan kemegahan pasukan perempuan dari daratan Cina ini direkam oleh salah seorang penulis Aceh Ayu Jufridar dalam novelnya Putro Neng.

Saat ini orang-orang Tionghoa yang berada di Aceh berasal dari berbagai suku. Dari beberapa suku itu, yang paling besar adalah Hokian atau Hakka.

Ketua Komunitas etnis Tionghoa Hakka, Kho Khie Siong mengaku tidak mengetahui secara pasti kapan pertama sekali datangnya orang Tionghoa ke Aceh. Menurutnya, sumber yang ada berbeda-beda. “Dari para pakar sejarah dan orang-orang tua kami di sini juga berbeda,” kata Aky kepada The Atjeh Times, dua pekan lalu.

Saat ini, Aky berharap etnis Tionghoa dengan Aceh dan orang lokal lainnya bisa terus hidup berdampingan dengan damai, seperti yang telah terjalin selama ratusan tahun. “Semoga kehidupan damai seperti ini bisa terus terjaga,” kata Aky.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply