Mengintip Proyek Monorel Jakarta (3)

Di atas lintasan baja sepanjang 50 meter itu, prototipe kereta monorel buatan Kusnan Nuryadi diuji. Suara mesin pendorong halus, mirip mesin pompa air. Laju kereta juga mulus. Namun untuk kelengkapan kereta, misalnya mesin pendingin pada gerbong penumpang dan pompa angin otomatis untuk mengisi ban kereta kala kempes, belum dipasang.

Kusnan Nuryadi, pakar Teknik Konstruksi dan Mesin dari Universitas Indonesia, itu memberi nama monorel buatannya Urban Transit Monorail (UTM-125). Satu gerbong berkabin memiliki panjang 13.2 meter, gerbong penumpang tengah sepanjang 12 meter, dengan jarak antar gerbong 0.7 meter. "Gerbong depan dan belakang memiliki pintu darurat untuk evakuasi penumpang jika terjadi sesuatu dalam perjalanan," ujar Kusnan.

Di dalam gerbong disiapkan 22 kursi duduk dan pegangan tangan untuk penumpang berdiri. Dengan ukuran seluas itu, satu gerbong mampu menampung 125 hingga 140 penumpang duduk dan berdiri. Sekali jalan, Kusnan menyarankan membawa lima gerbong. Sehingga kapasitas total kereta bisa mencapai 625 penumpang.

Desain pintu gerbong monorel buatan Kusnan juga berbeda dengan teknologi monorel buatan Malaysia dan Jepang. Monorel buatannya memiliki dua pintu penumpang dan satu pintu darurat di moncong kereta. Sementara monorel di beberapa negara maju lain hanya satu pintu. Pintu darurat, lanjut Kusnan, berfungsi untuk keamanan penumpang.

Pintu darurat digunakan jika terjadi sesuatu dalam perjalan. Penumpang bisa langsung pindah ke monorel bantuan datang melalui pintu darurat, tanpa turun dari monorel. "Model pintu darurat itu belum ada di negara lain, sekarang ini masih akan mengajukan hak paten," dia menegaskan.

Pintu darurat terinspirasi dari kasus macetnya perjalanan monorel di Malaysia dua tahun lalu karena sebuah insiden. Pengelola harus mengeluarkan penumpang secara paksa dari dalam gerbong selama dua jam. Begitu juga desain teknologi mesin pengontrol kereta pada kabin. Driver di kabin bisa mengontrol laju kereta secara manual atau otomatis tanpa Driver.

Bagaimana dengan kecepatan? Pria 65 tahun itu melanjutkan, monorel buatanya memiliki daya motor penggerak 260 kilo watt atau setara 350 tenaga kuda. Dengan daya sebesar itu, kereta bisa melesat sekencang mobil Ford Focus buatan Amerika Serikat. Namun untuk kecepatan normal di Jakarta sudah dihitung cukup dengan 60 hingga 80 km per jam dengan waktu tunggu dua menit pada jam sibuk dan 4 menit di jam normal.

"Dengan penggunaan waktu seperti itu, perjalanan kereta dan penumpang harus tepat waktu. Dua menit ya harus dua menit, tidak seperti KRL atau Trans Jakarta," ujarnya.

Teknologi roda peluncur juga buatan dalam negeri, mirip ban truk. Dua bagian roda ini dipasang tepat di bawah gerbong kereta. Roda ban dipilih karena mampu melaju cepat di awal lintasan dan tetap konsisten di tanjakan. Sedangkan 12 roda ban penyeimbang dipasang di samping dan mengapit erat trek lintasan.

Ukuran roda penyeimbang lebih kecil dibanding roda peluncur, dengan jumlah enam ban di masing-masing sisi kanan dan kiri. Dengan teknologi roda seperti itu, dia melanjutkan, kereta menempel erat pada lintasan dan mampu berjalan di atas trek dengan kemiringan hingga delapan derajat dan mampu melaju di tikungan sepanjang 50 meter.| sumber: merdeka.com

  • Uncategorized

Leave a Reply