Mengintip pengepakan lobster Simeulue

MAGRIB hampir menjelang. Namun, di sebuah keramba lobster, kesibukan masih kentara. Belasan pekerja laki-laki dan perempuan hilir mudik, seakan berkejaran dengan waktu. Di sekeliling mereka, ratusan lobster menunggu dikemas.

Berada di Pulau Simeulue, keramba apung tempat memelihara lobster itu adalah milik Mahlil. Ia memelihara, sekaligus menampung lobster milik warga lain untuk dikirim ke luar pulau.

Lobster adalah hewan laut yang bentuknya unik. Sekilas, bentuknya seperti gabungan udang dan kepiting. Di Simeulue, orang-orang biasa menyebutnya lahok. 

Hewan laut ini adalah salah satu komoditi andalan Simeulue. Di sana, hampir setiap restoran menyajikan lobster sebagai menu andalan. Rasanya gurih dan berlemak. Lobster Simeulue bahkan ada yang diekspor hingga ke Singapura, Malaysia, Taiwan, dan Hongkong.

Mahlil membuat keramba penangkaran dan penampungan lobster di  rumahnya di pinggiran Kota Sinabang, ibukota Simeulue. Melewati garasi rumahnya, bagian belakangnya langsung berbatasan dengan Teluk Sinabang.  Di sanalah para pekerja mengepak lobster.

Mahlil ikut bergabung bersama belasan pekerja untuk membantu menyortir dan membungkus lobster dengan koran koran bekas. Sesekali ia memberi instruksi kepada pekerjanya.

"Malam ini ada kapal feri, yang berangkat  dari Simeulue ke Labuhan Haji. Makanya kita buru pengemasannya, yang kita kirim malam ini ada 150 kilogram," kata Mahlil saat ditemui ATJEHPOSTcom. Sabtu sore, 9 Maret 2013.

Pedagang pengumpul seperti Mahlil menjual lobster seharga Rp200-Rp300 ribu per kilogram. Sedangkan di tingkat nelayan, harganya bervariasi. Lobster mati dihargai Rp80 ribu per kilo. Sedangkan yang masih hidup, harganya mencapai Rp175 ribu. Setiap kilogram rata-rata berkisar antara 4-8 ekor lobster. Bahkan, ada juga yang satu ekor beratnya mencapai 1 kilogram.

Untuk mendapatkan 150 kilogram lobster, Mahlil telah dua minggu mengumpulkannya dari nelayan dan penangkap lobster. Sebelumnya, "udang raksasa" itu dikirim secara rutin melalui transportasi pesawat udara.

"Biasanya kita kirim dengan pesawat udara biar bisa lebih cepat sesuai dengan permintaan konsumen konsumen", imbuhnya.

Kini, Mahlil tak lagi mengirim lobster dengan pesawat karena kontraknya dengan pesawat NBA telah berakhir.

Begitulah. Hilir mudik pekerja dan teriakan instruksi sesama pekerja menjadi pemandangan sehari-hari di keramba itu.

Pekerja terlihat sangat hati-hati melaksanakan tugasnya. Proses mengemasan dimulai dengan mengambil lobster dari dalam fiber, dimasukkan ke keranjang, lalu satu per satu badan lobster ditaburi pasir halus. Setelah itu, satu per satu dibungkus dengan kertas koran bekas dan dimasukkan ke dalam kardus ukuran besar. 

Pasir halus sengaja ditaburkan agar lobster tidak banyak bergerak dan memperlambat kematian.

Satu persatu dibungkus denga koran bekas, dan dimasukan kedalam kardus ukuran besar. Setelah dilakban, kardus berisi lobster diberi nama sesuai alamat pengiriman dengan tujuan Provinsi Aceh dan Sumatera Utara.

Satu per satu kardus berisi lobster itu lalu diangkut pekerja ke mobil angkutan yang telah menunggu sejak sore. Tak lama, mobil melesat menuju pelabuhan kapal feri di Kuta Batu, Kecamatan Simeulue Timur.

Dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara azan Magrib seakan mengantar lobster yang akan dikirim keluar pulau dan menjadi santapan lezat di berbagai restoran.[]  (yas)

  • Uncategorized

Leave a Reply