Mengenang Perlawanan Teungku Djalil di Masjid Cot Plieng

LHOKSUKON – Aceh Utara masih menyimpan sejarah perlawanan masyarakat Aceh terhadap penjajahan Jepang. Salah satunya Masjid Cot Plieng. Di masjid ini pernah ada perlawanan sengit terhadap Jepang hingga peusijuek senjata GAM.

Majid Syuhada Cot Plieng di Desa Beunot, Syamtalira Bayu, Aceh Utara, pekan lalu terlihat sepi. Matahari tepat di atas ubun-ubun. Seorang jamaah menunaikan salat di teras masjid.

Ketika melangkah lebih dekat ke pintu masuk masjid, mata tertuju pada sebuah tulisan. Tepatnya, tulisan-tulisan itu terpatri pada sebuah prasasti di dinding masjid.

Bunyinya begini: “Masjid Syudaha Cot Plieng Bayu, dibangun pada Bulan Maret 1988, atas swadaya masyarakat setempat dan dana bantuan teman-teman kami warga Jepang yang berada di Jepang dengan harapan mempererat persaudaraan dan persahabatan yang abadi di antara kedua negara dan bangsa”.

Di bawahnya, ada tulisan dengan aksara kanji Jepang. Di prasasti itu juga terdapat tandatangan Ketua Panitia Pembangunan Masjid Cot Plieng Bayu Imam yang kelima, Tgk. Ahmad Bin Tgk Ishak.

Selain di bagian dinding, aksara jepang juga terdapat pada kotak amal mesjid yang diletakkan di teras. Panjang kotak amal itu kira-kira semeter.

Masjid itu seperti tak terawat. Kotoran cicak berserakan di lantai masjid. Jendela yang sebagian terbuat dari kaca juga terlihat bolong. Pagar masjid dari kawat sebagian juga sudah putus.                

Masjid Cot Plieng. Jejak sejarah menuliskan, tempat ibadah ini sempat dibakar Jepang ketika negeri matahari terbit ini menjajah Aceh. Ukurannya 12×12 meter persegi. Pembakaran terjadi pada tahun 1942.

Riwayat lengkap masjid itu lalu dituturkan oleh pengurusnya yang sekarang. Penulis menemui Teungku Iskandar. Ia anak dari almarhum Teungku Ahmad Bin Teungku Ishak, cucu ulama Aceh almarhum Teungku Abdul Djalil, atau lebih dikenal dengan Teungku Cot Plieng.

Menurut Teungku Iskandar alasan Nippon (Jepang) membakar masjid ketika mereka tidak menemukan ulama Aceh Teungku Abdul Djalil yang sangat dicari tentara Jepang pada masa itu.

Teungku Abdul Djalil kemudian wafat dalam sebuah pertempuran dengan Jepang. Makamnya kini terletak di samping masjid, berdampingan dengan makam dua istrinya yang juga syahid dalam pertempuran itu.

Pertempuran dahsyat ini terjadi satu lawan satu. Sekitar 109 pejuang Aceh yang bersenjatakan pedang dan rencong akhirnya syahid pada pertempuran itu. Di pihak Jepang, kata Teungku Iskandar, jumlah korban juga sama.

Selain Teungku Cot Plieng dan dua istrinya, di situ juga ada makam lain seperti Teungku Muhammad Hanafiah, Teungku Muhammad Abbas Punteuet,  Teungku Badai,  Teungku Bidin,  Teungku Husen Hasyem, Teungku Muda Yusuf dan Teungku Nyak Mirah. Semuanya ditempatkan dalam sebuah bangunan.
                    
Teungku Abdul Djalil atau Teungku Cot Plieng merupakan sosok pejuang Aceh yang lahir di Desa Blang Ado Buloh Blang Ara, Kuta Makmur, Aceh Utara.

Teungku adalah anak dari Nyak Cut Buleun, seorang guru agama di kampung. Ketika remaja, Abdul Djalil aktif menuntut ilmu pengetahuan juga agama. Pada 1911 hingga 1921, beliau belajar di Volk School. Setelah itu belajar agama dan bahasa Arab di dayah-dayah terkenal. Antara lain di Bireuenghang, Ie Rot Bungkaih (Muara Batu), Tanjong Samalanga, Mon Geudong, Cot Plieng, Krueng Kale (Banda Aceh), dan Teuping Pungit. Pada 1937 ia kembali ke Dayah Cot Plieng yang masih dipimpin Teungku Ahmad.

Setelah Teungku Ahmad meninggal dunia pada 1937, secara resmi Teungku Abdul Jalil diangkat menjadi pimpinan Dayah Cot Plieng. Selama memimpin, Teungku Abdul Djalil banyak merintis perubahan-perubahan di dayah. Ia juga mengadakan hubungan-hubungan kerjasama dengan dayah-dayah lain di seluruh Aceh. Satu yang pasti, ia antipenjajah.

Kunjungan ke dayah lain ia lakukan hingga ke Aceh Selatan. Sepulang dari kunjungan, Teungku Abdul Djalil kerap memberikan semangat patriotisme kepada para santrinya guna menghadapi penjajahan. Ia tak mudah terpopraganda oleh Jepang, PUSA, dan barisan-barisan Fujiwara Kikan.

Pada suatu malam di bulan Juli 1942, teungku diundang berceramah di Kampung Krueng Lingka Baktia, Aceh Utara. Dalam dakwah, ia berkisah tentang hal-hal yang membahayakan agama dan keadaan rakyat yang kian lama terpuruk ekonominya. Ia juga menyinggung hak-hak rakyat yang tidak diperdulikan lagi. Isi pidato ini membuat orang-orang yang berpihak kepada Jepang merasa tidak senang.

Mereka melaporkan isi pidato itu kepada polisi Jepang yang bermarkas di Sigli. Sehingga pejabat polisi Jepang di Lhokseumawe dan Bayu diperintahkan memanggil teungku agar datang ke markas Sigli guna mempertanggungjawabkan isi pidatonya. Namun, panggilan ini tidak dipedulikan Teungku Abdul Djalil.

Melihat hubungan yang tidak antara ia dengan Jepang, Teungku Abdul Djalil mulai melatih murid-muridnya mempergunakan senjata perang.

Pada Juli 1942 ia beserta sekitar 300 pengikutnya berikrar dan bersumpah untuk melawan Jepang apabila mereka datang untuk menangkap dan menyerang.

Peristiwa ini diketahui penguasa Jepang. Para pembesar-pembesar di  pemerintahan baik yang berkedudukan di Lhokseumawe, Sigli, Kuta Raja melakukan panggilan terhadap teungku.

Tetap saja panggilan demi panggilan tak pernah ia pedulikan. Walhasil, para ulama seperti Tengku Mahmud, Tengku Abdul Azis, bahkan mantan gurunya sendiri Tengku Hasan Krueng Kale ikut membujuk. Namun bujukan ini tetap tak mengubah sikap dan pendirian Teungku Abdul Djalil terhadap Jepang.

Bertolak belakang dengan pemerintah, masyarakat malah mendukung Teungku Abdul Djalil dengan menyuplai bahan makanan ke dayah.

Lalu, pada 7 November 1942, seorang komandan kempetai (polisi militer Jepang) dari Lhokseumawe bernama Hayasi langsung datang ke Cot Plieng dengan tujuan membujuk Teungku Abdul Djalil. Tapi Hayasi tidak diperkenankan masuk. Ia malah ditikam dengan tombak oleh seorang penjaga dayah. Dalam kondisi berlumur darah Hayasi dibawa pulang oleh temannya ke Lhokseumawe.

Berpunca dari sini, Jepang mengerahkan pasukan-pasukan dari Bireun, Lhokseumawe, dan Lhoksukon dengan persenjataan lengkap untuk menyerang dayah.

Pertempuran berlangsung dari jam 12.00 WIB hingga pukul empat sore. Pasukan Jepang dapat menguasai kompleks dayah dan membakar habis semua bangunan, masjid, dan sebelas rumah warga di sekitarnya. Dalam pertempuran ini gugur 86 orang pengikut Teungku Abdul Djalil.

Karena kekuatan tak seimbang, teungku dan sisa pengikutnya mundur ke Mesjid Paya Kambok di Meurah Mulia. Di sini pun terjadi pertempuran untuk kedua kalinya pada 8 November 1942.

Setelah itu pejuang Aceh mundur lagi ke Desa Buloh Gampong Teungoh. Perjalanan ditempuh selama dua hari. Di sini terjadi pertempuran nandahsyat dan pamungkas. Tepatnya pada 10 November 1942 di Meunasah Blang Buloh Gampong Teungoh, usai salat Jumat.

Sekitar pukul enam sore, Teungku Abdul Djalil syahid. Jenazahnya dibawa ke Lhokseumawe beserta dengan keluarga beliau yang masih hidup. Pada 11 November 1942, jenazah dibawa kembali ke Bayu dan dimakamkan di komplek Dayah Cot Plieng.
                    
“Komplek  Masjid Cot Plieng  sekarang dijadikan sebagai tempat para wanita lanjut usia yang tinggal di asrama tersebut. Pada bulan Ramadhan mereka melakukan pengajian dan tadarus untuk mendekatkan diri kepada Allah  SWT,” ujar Teungku Iskandar.
 
Setelah dibakar, pada 1988 seperti tertera di prasasti, masjid kembali dibangun oleh Jepang karena merasa bersalah terhadap masyarakat Aceh. Pembangunannya dikoordinir oleh Mahmud Syarakawa.

Ternyata, tak cuma Jepang yang bersinggungan sejarah dengan masjid itu. “Pada 1998, senjata GAM juga pernah  dipeusijuk di masjid ini. GAM juga berdoa di makam teungku,” kata Iskandar.

Sebagai bukti sejarah pula, tugu pahlawan dibuat di depan Jalan Medan-Banda Aceh.  Pada tugu tertera jumlah pejuang Aceh yang syahid dalam perang melawan Jepang.

Kini, masyarakat berharap Pemerintah Jepang dan Indonesia dapat memugar kembali  masjid termasuk makam para syuhada agar terlihat lebih indah. Selain itu juga untuk mendatangkan wisatawan lokal dan mancanegara untuk melihat sejarah masa lalu.[ ]

  • Uncategorized

Leave a Reply