Mengenal Piyu, eks gitaris Padi yang memilih solo karier

MANTAN gitaris grup band Padi, Piyu, dijadwalkan akan menunjukkan kebolehannya dalam bermain gitar di hadapan anak-anak muda Lhokseumawe.

Piyu akan menghibur dan memberi materi khusus tentang teknik bermain gitar di Corner Cafe, Lhokseumawe, pukul 4 sore, Sabtu 15 Juni 2013.

Nama lengkap Piyu adalah Satriyo Yudi Wahono. Ia lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 15 Juli 1973.

Sebelum mendirikan Padi, Piyu pernah bergabung dengan grup lain, yaitu Crystal, Airo dan Rotor.

Selain sibuk di Padi, putra alm. Soeprajitno Adie ini juga menjadi manajemen sekaligus produser dari grup musik baru, Drive.

Piyu pun pernah menjajal dunia akting dengan turut serta dalam film Tina Toon & Lenong Bocah. Di film bergenre komedi anak-anak itu, Piyu hanya muncul selintas atau tidak lebih dari dua menit saja.

Ia berperan sebagai penjaga sekolah. Keikutsertaannya ini sebagai langkah awal belajar untuk menggarap album soundtrack.

Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga ini menikah dengan Anastasia Florin pada tanggal 17 September 2005.

Flo, panggilan akrab Anastasia Florina Limasnax, adalah putra Frans Limasnax, importir dan distributor VCD/DVD original Vision Interprima Pictures dan Horizon.

Dari pernikahan ini, mereka telah dikaruniai tiga anak, Anastasia Mikaela Satriyo (lahir 4 September 2006), Aryanna Noella Satriyo (lahir 25 Desember 2007) dan Avanindra Satriyo (lahir 12 Maret 2012).

Di blantika musik Indonesia, Piyu dikenal sebagai lead gitar Padi. Namun, kini ia menolak dikaitkan dengan band yang ia dirikan itu.

“Jangan kait-kaitkan saya lagi dengan grup band Padi,” ujar Piyu seperti dikutip Tabloid Bintang.

Di akhir 90-an hingga awal 2000, semua lagu Padi selalu menjadi hits. Siapa yang tidak mengenal band yang digawangi Fadly (vokal), Piyu (gitar), Ari (gitar), Rindra (bas), dan Yoyok (drum).

Namun lambat laun Padi redup. Singel terakhir mereka, “Terbakar Cemburu”, pun seperti tak bergaung.

Piyu mengaku tidak tahu harus bagaimana lagi dengan Padi. Ia pun sudah berkonsentrasi ke karier solo.

Tidak hanya sebagai gitaris. Di bawah label yang dibangun bersama istrinya, E-Motion, tahun ini Piyu ingin meneguhkan identitasnya sebagai produser, pemain gitar, pencipta lagu, juga penyanyi.

Tidak ada lagi embel-embel Padi di belakang namanya. “Kali ini saya ingin mengklaim, bahwa saya adalah Piyu, bukan Piyu anggota band Padi yang lagi ingin pindah ke jalur solo. Bukan. Ini saya yang sekarang. Jadi jangan panggil saya Piyu 'Padi' lagi. Hanya Piyu. Sebagai penyanyi, produser, pencipta lagu, pemain musik. That's it.”

Pilihan bersolo karir melahirkan tudingan bahwa Piyu pemantik vakumnya Padi. Sobat Padi, fans band ini, banyak yang memusuhi Piyu.

"Saya dibenci penggemar," kata Piyu di Nutz Culture, Senayan City, Jakarta Pusat, Februari 2013 lalu seperti dikutip wowkeren.com.

"Ada Loverand Haters. Saya dianggap biang kerok Padi pecah, bubar."

Padahal Piyu tetap menjalin komunikasi dengan personil Padi lainnya. "Kalau support, kita masih sering komunikasi."

Diakui Piyu, ia tak menyesal memilih jalur solo karir meski dibenci fans Padi. Pasalnya, Piyu melakukan itu karena ingin mengembangkan kemampuannya sebagai musisi.

"Saya bersyukur saya bisa melakukan hal yang dulu enggak bisa," tutur penggarap lagu "Firasatku" itu. "Dan beruntung itu bukan sesuatu yang merugikan."

Bagaimana pun pilihan Piyu, ia setidaknya telah berjasa mewarnai aroma musik Indonesia lewat instrumen gitarnya.

Piyu mendalami gitar saat duduk di kelas dua Sekolah Menengah Pertama. Piyu yang ketika itu berumur 13 tahun, jatuh cinta dengan alat musik petik tersebut ketika melihat gitar elektrik Gibson bertipe double neck milik kakak dari teman satu bandnya.

Pria pengidola gitaris Led Zeppelin, Jimmy Page itu pun mulai suka melihat buku kord-kord gitar milik kakaknya. Dari sang kakak pula Piyu mendapatkan gitar pertamanya.

"Gitar pertama dibelikan kakak saya seharga Rp 295 ribu. Itu belinya di Surabaya," ujarnya seperti dikutip detikhot.com.

Piyu memodifikasi gitar Yamaha miliknya untuk mendapatkan karakter suara yang seperti ia inginkan. Gitar tersebut pun menjadi teman setia Piyu selama meniti karier di Jakarta sebagai musisi.

Perjuangan Piyu menggapai cita-citanya juga tidak mudah. Ia membeli gitar pertamanya dari hasil keringat sendiri bermerek Gibson Les Paul saat bekerja sebagai crew band. Gitar itu juga yang menjadi favorit Piyu, dan dipakai untuk rekaman album pertama Padi.

Hingga saat ini, Piyu telah mengoleksi 40 buah gitar. Dari sekian banyak gitarnya itu, ia merasa paling cocok dengan karakteristik dan sound gitar Gibson Les Paul.

Dalam membuat melodi gitar untuk sebuah lagu, Piyu memiliki filosofi sendiri. Seperti yang ia tuangkan dalam buku biografinya, melodi gitar harus bisa disenandungkan dan diingat selalu.

Ia pun berusaha mencari nada-nada dari gitar yang memiliki 'hook' layaknya mengomposisi sebuah lagu. Bagian interlude atau intro disebutnya sebagai pendekatan terhadap lagu itu sendiri.

Setelah menemukan nada-nada yang pas di benaknya, barulah Piyu mengaplikasikannya dengan mengombinasikan beberapa teknik-teknik permainan di atas fret gitar.

Piyu masih memiliki mimpi-mimpi lain sebagai seorang musisi. Jadi, jangan pernah tanyakan kepadanya kapan akan pensiun dari dunia musik.[] DARI BERBAGAI SUMBER

  • Uncategorized

Leave a Reply