Mengenal Masjid Taqwa Aron Hasil Gotong–royong Masyarakat

Mengenal Masjid Taqwa Aron Hasil Gotong–royong Masyarakat

LHOKSUKON – Masjid Taqwa Aron yang terletak di perbatasan Gampong Dayah Aron dan Gampong Aron, Kecamatan Syamtalira Aroen, Aceh Utara itu berdiri pada tahun 1982.

Proses pembangunan masjid tersebut terbilang cepat. Dalam jangka waktu empat tahun masjid rampung dikerjakan dan sudah dapat difungsikan. Berukuran 30×30 meter dan dibangun di atas lahan seluas 2.000 meter, masjid itu mampu menampung sekitar 700-an jamaah.

Amatan portalsatu.com, lingkungan perkarangan masjid berwarna paduan orange dan putih itu sangat bersih dan tertata rapi. Di sisi kiri gerbang masuk terdapat tempat wudhu pria yang disusul menara setinggi 27 meter.

Di belakang masjid terdapat sebuah balai peristirahatan yang dibangun ExxonMobil. Halaman masjid sangat luas dan mampu menampung puluhan mobil atau sepeda motor. Pelataran parkir terlihat sejuk dengan banyaknya pohon rindang di sekeliling masjid.

Di halaman masid juga terlihat beberapa pasang lampu taman yang menyala indah di malam hari.

Panitia Masjid Taqwa Aron perdana, M Idris Abbas, Minggu 28 Juni 2015 mengisahkan asal mula berdirinya masjid tersebut. Dikatakan, awalnya masjid lama berdiri di lahan Gampong Aron yang kemudian ditemukan ladang gas dan dibeli ExxonMobil.

Kala itu, oleh rekanan PT Kualisi Bumu Agung di bawah pimpinan H Abdul Jalil membangun masjid baru di lahan berbeda desa yang sama. Selang beberapa tahun, masjid yang dibangun tersebut dianggap masyarakat sudah tidak layak karena tidak mampu menampung banyak jamaah.

Berdasarkan hasil kesepakatan bersama, masyarakat kemudian membeli lahan dari hasil swadaya untuk pembangunan masjid baru. Sebagian lahan masjid diwaqafkan oleh PT Kualisi Bumi Agung. Proses pembangunan masjid itu sendiri dilakukan gotong royong bersama sembilan desa.

Dari milyaran dana yang habis untuk pembangunan masjid, hanya sekitar 14 persen bantuan dari ExxonMobil. Padahal di desa inilah gas cair pertama kali ditemukan pada tahun 1971.

“Peletakan batu pertama masjid dilakukan oleh Tgk H Muhammad Syafi’i. Seiring dengan berjalannya waktu, panitia masjid pun berganti. Saat ini H Terpiadi A Majid sebagai Ketua Umum, H M Yusuf Harun sebagai Ketua I, Zulfikar sebagai Sekretaris dan Tgk M Jafar Salam sebagai bendahara,” bebernya.

Dijelaskan, selain hasil swadaya masyarakat, dalam pembangunan masjid itu juga ada mengalir bantuan dari ExxonMobil sekitar 14 persen dari total anggaran yang ada. Demikian juga dari PT Arun yang ikut menyumbagkan semen.

“Konsep pembangunan masjid itu kita padu-padankan dari sejumlah masjid besar yang ada di Aceh. Untuk cetakan kaligrafi tulisan arab berasal dari Aceh Timur,” jelasnya.

Beberapa tahun terakhir pihak panitia masjid kembali melakukan renofasi. Di antaranya pergantian seng biasa dengan dikrabon yang menelan biaya sekitar Rp 200 juta. Lalu pemasangan kaca masjid pada awal tahun 2014 yang menelan biaya Rp 265juta.

“Dalam kemasjidan ini terdapat satu tradisi yang dilestarikan sejak lama, yakni pembagian amplop kepada warga saat Ramadhan. Nantinya sumbangan warga selama sebulan Ramadhan itu akan masuk ke kas masjid,” katanya.  | [] (mal)

Leave a Reply