Mengenal konsep kerja Nasruddin, Direktur Utama PDPA yang baru

GUBERNUR Aceh Zaini Abdullah Rabu kemarin, 13 Maret 2013, melantik empat direksi dan lima orang Badan Pengawas Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh atau PDPA.

Keempat dewan direksi dilantik berdasarkan Surat Keputusan Gubenur Aceh nomor 539/110/2013, tentang pengangkatan dan pemberhentian Dewan direksi PDPA. Salah satu nama yang muncul dan menjadi Direktur Utama PDPA adalah Ir. Nasruddin Daud, M.Sc. Siapa dia?

Nasruddin Daud adalah putra asli Aceh kelahiran Aceh Besar, 6 Juli 1951. Ia juga tercatat sebagai alumni Fakultas Teknik Sipil di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh pada 1981.

Pada 1983, Nasruddin memulai bekerja di Dinas PU Pengairan Aceh. Saat itu, sambil menjalani bekerja, ia berinisiatif untuk kembali belajar dengan mengambil jalur pendidikan strata dua.

Akhirnya, pada 1989 ia memperoleh gelar Master Of Science (M.Sc) dengan program studi Agriculture di Cranfield Institute Technology, Inggris.

"Pulang dari sana pada tahun 1992 lalu saya diangkat sebagai pimpinan bagian proyek irigasi," ujarnya kepada ATJEHPOSTcom, Jumat 15 Maret 2013.

Memiliki karir yang baik di bidang teknik, pada 1998, Nasruddin menjadi Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Banda Aceh.

"Selesai dari situ, pada 2005, saya menjadi Wakil Kepala BPKS. Saya menetap di Sabang hampir lima tahun," ujarnya.

Setelah terpilih sebagai Direktur Utama PDPA, bagaimana cara Nasruddin memajukan perusahaan daerah tersebut?

Kepada ATJEHPOSTcom, Nasruddin mengatakan Aceh sejak dulu dikenal sebagai salah satu lumbung padi nasional. Sektor pertanian Aceh memiliki potensi luar biasa untuk dikembangkan.

Lebih lagi, kata dia, jika hal itu dipadukan dengan potensi lain, seperti potensi pelabuhan. "Aceh memiliki potensi yang luar biasa di sektor pertanian, perkebunan dan lainnya. Tapi sayangnya potensi itu belum dapat memberi sesuatu yang lebih untuk Aceh," ujarnya.

Menurut Nasruddin, selama ini hasil panen padi serta beberapa produk perkebunan yang menonjol di Aceh, selalu dibawa ke luar Aceh.

"Orang membeli padi kita di sini dengan harga yang murah. Lalu diolah menjadi beras atau kebutuhan lain. Setelah itu produk tersebut kembali dikirim ke Aceh dengan harga yang lebih mahal tentunya. Jika melihat itu sudah berapa banyak kerugian kita," ujarnya.

Untuk itu, selama menjabat sebagai Direktur Utama PDPA, Nasruddin akan berupaya memanfaatkan potensi pertanian sebagai penambah pendapatan bagi daerah.

Kata dia, hal itu akan ditempuh dengan cara bekerjasama dengan outlet-outlet penampung di luar daerah. Hasil pertanian akan dikumpulkan lalu diekspor.

"Kalau untuk sekarang karena kita belum bisa mengekspor secara langsung, saya akan coba jalin kerjasama dengan outlet-outlet yang ada di luar. kita kumpulkan hasilnya, lalu kita pasarkan bersama mereka," ujarnya.

Sedangkan langkah lain, Nasruddin akan berupaya meningkatkan fungsi pelabuhan. Dengan aktifnya pelabuhan di Aceh, proses ekspor impor komoditi hasil pertanian dan perkebuan akan menjadi mudah.

"Kalau ingin hasil lebih, pelabuhan harus hidup. Dan saya harap agar Bea Cukai juga jangan setengah hati untuk ini. Tidak ada proses ekspor tanpa didukung impor. Jadi agar kita bisa membawa hasil kita keluar, produk luar juga harus bisa kita terima," ujarnya.

Selama ini, kata dia, pelabuhan di Aceh masih banyak yang tertidur diakibatkan tidak adanya hasil impor maupun ekspor. Pengusaha luar tidak berani membawa kapalnya langsung ke Aceh dalam keadaan kosong.

"Siapa yang mau bersandar kalau hanya untuk mengangkut. Tentu ini haru kita perhatikan. Jika kita mau bangkit, hubungan satu sama lain itu harus ada. Oh ada ekspor, berarti ada impor," ujarnya.

Selain itu, selama menjabat, Nasruddin akan berupaya membangkitkan potensi alam di bidang energi, perikanan dan lainnya.

"Jadi kita akan terus berupaya menjalin kerjasama di berbagai bidang, sesuai  dengan potensi yang ada di Aceh. Sehingga kita harap ke depan PDPA dapat membantu pendapatan Aceh."

Foto-foto pelantikan Direksi PDPA bisa dilihat di sini. [](rz)

  • Uncategorized

Leave a Reply