Mengapa Doto Zaini Sibuk Urus Waduk?

Tiga waduk skala besar bakal dibangun di Aceh. Pemerintah Aceh mengajak lembaga-lembaga donor membantu pembangunan waduk tersebut demi peningkatan ketahanan pangan dan sumber daya energi. Seberapa penting untuk Aceh?
_____________________________________

Dua pintu irigasi itu terpampang di sisi kanan Jembatan Krueng Tiro, Pidie. Air jernih dari gunung mengalir dari salah satu pintu ke sebuah saluran berdinding beton. Air itu disambut dua pintu kecil di ujung saluran selebar lima meter. Selanjutnya, air itu akan dipakai para petani untuk mengairi sawah. Petani yang mendapat suplai air itu tersebar mulai dari Tiro, Sakti, Mutiara Timur, Glumpang Baro, hingga ke Kembang Tanjong.

Warga sekitar menyebut tempat ini irigasi Baro Raya. Letaknya di Pinto Sa, Gampong Blang Rikui, Kecamatan Tiro, Pidie. Menurut Ramlan, warga setempat, irigasi Baro Raya sudah digunakan lebih dari 20 tahun.

Irigasi itu masih berfungsi baik. Sawah petani di Tiro, kata Ramlan, jarang kekurangan air. Namun, akhir-akhir ini air di irigasi itu berkurang dibandingkan dulu. “Saya tidak tahu penyebabnya,” ujar Ramlan.

Air yang masuk ke saluran irigasi tadi berasal dari Krueng Tiro di bawah jembatan. Rabu pekan lalu, sungai itu kering kerontang. Hanya ada alur kecil di tengah badan sungai yang airnya mengalir ke mulut irigasi. Krueng Tiro yang lebarnya sekitar 80 meter itu dipenuhi kerikil.

Di hulu sungai ini direncanakan pembangunan waduk berskala besar di Aceh. Waduk Tiro-Rukoh, begitu Gubernur Aceh Zaini Abdullah menyebutkannya dalam lokakarya di Manado, Selasa pekan lalu. Lokakarya itu bertajuk peningkatan kapasitas pengelolaan sumber daya air dan wilayah sungai Aceh dan Sulawesi Utara. Selain Tiro-Rukoh, ada dua lagi waduk yang bakal dibangun, waduk Keureuto dan Jambo Ayedi Aceh Utara.

Beberapa warga di sekitar irigasi Baro Raya mengaku sudah tahu rencana pembangunan waduk itu. Namun, kata warga, Rukoh berada di hulu sungai, di balik Gunung Alue Bakong, Kecamatan Titeu. Sementara waduk Tiro terletak di Gampong Blang Keudah, di atas irigasi Baro Raya. Artinya, waduk Rukoh-Tiro, seperti disebutkan Doto Zaini, terletak dalam satu Daerah Aliran Sungai atau DAS Krueng Baro.

Menurut warga sekitar, proyek waduk Rukoh-Tiro kini masih dalam tahap survei. “Masih pada tahap ukur tanah,” kata Kak Mah, warga Blang Dalam Tong Peudeng, Titeu, kepada The Atjeh Times, Rabu pekan lalu. Tanah-tanah milik warga di balik Gunung Alue Bakong, kata dia, sedang diukur untuk diganti rugi oleh pemerintah. “Tak jelas kapan dibangun. Menurut kabar, waduk tersebut akan dibangun oleh Jepang pada 2013,” ujar Kak Mah.

“Jepang” yang dimaksud Kak Mah mungkin saja JICA atau Japan International Cooperation Agency. JICA memang salah satu lembaga yang diajak Doto Zaini membangun tiga waduk jumbo itu di Aceh. Selain JICA, dalam pidatonya di Manado, Gubernur juga mengajak pemerintah pusat, Asian Development Bank, dan World Bank membantu pembuatan waduk.

Pembangunan tiga waduk itu digadang-gadang bisa menyuplai kebutuhan air di lahan pertanian beririgasi seluas 730.000 hektare. Kini lahan yang baru disuplai irigasi hanya 384.171 hektare. Tujuannya, kata Doto Zaini, untuk peningkatan ketahanan pangan dan sumber daya energi. Energi bisa didapatkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Air. Ajakan Doto Zaini itu sepertinya selaras dengan terpilihnya Aceh sebagai proyek percontohan implementasi Undang-Undang  Nomor 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air.

Gubernur berharap kelanjutan pengelolaan sumber daya air seperti amanah undang-undang itu dapat segera terwujud. Walaupun banyak instrumen kebijakan telah dibuat, kata dia, dalam pelaksanaannya tak semudah membalik telapak tangan. “Kita masih perlu usaha keras dan komitmen bersama,” ujar Doto.

Pembangunan waduk di Aceh, kata Gubernur, juga dilatari beberapa persoalan di sektor pengelolaan sumber daya air. Salah satunya, kata Gubernur, Aceh kerap mengalami fluktuasi debit air sungai antara musim hujan dan kemarau. Saat kemarau, debit air sungai menurun. Efeknya, irigasi yang ada hanya mengairi sebagian persawahan. “Namun, pada musim hujan banjir juga terjadi di wilayah sungai,” ujar Gubernur.

Persoalan lain, kata dia, perambahan hutan yang tidak terkontrol menyuplai banjir ke wilayah sungai. Waduk-waduk tadi setidaknya menjawab persoalan-persoalan itu. “Pembangunan di wilayah sungai tidak bisa dikelola satu lembaga saja, mesti melibatkan masyarakat dan lembaga lain yang terkait,” ujar Doto Zaini.

Rencana pembangunan waduk Rukoh – Tiro di DAS Krueng Baro, kata Gubernur, sangat dibutuhkan untuk meningkatkan intensitas tanam dari 140 persen menjadi 200 persen di daerah irigasi Baro Raya seluas 19.118 hektare. Waduk Keureuto di DAS Pase-Peusangan, diancang-ancang dapat meningkatkan intensitas tanam dari 150 persen menjadi 200 persen di area 4.800 hektare.

Adapun waduk serba guna Jambo Aye direncanakan dapat meningkatkan layanan irigasi dari 19.360 hektare menjadi 41.200 hektare. Selain itu, waduk tersebut bisa juga menyediakan air baku untuk rumah tangga, perkotaan dan industri, serta konservasi sumber daya air.

Waduk serba guna itu dibangun di atas Krueng Jambo Aye. Wilayah sungai ini terbentang mulai dari Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Utara, hingga Aceh Timur. Lokasi waduk berada di Pureng, pedalaman Aceh Utara. Tempat ini terletak di antara perbatasan Aceh Utara, Aceh Timur, dan Bener Meriah.

Menurut Aiyub, warga Pante Bidari Aceh Timur, hingga kini belum ada pembebasan lahan di lokasi rencana pembangunan waduk. “Yang ada baru pendataan rumah dan kebun masyarakat,” ujar Aiyub, Kamis pekan lalu, kepada The Atjeh Times.

Kawasan pedalaman itu, kata dia, kaya hasil bumi, seperti cokelat, pinang, dan jagung, sedangkan untuk padi tidak ada, mengingat kawasan bukit dan sulit dialiri air sehingga tidak ada sawah. “Kita harap dengan adanya waduk itu semakin mendongkrak perekonomian masyarakat,” ujarnya.

Lokasi rencana pembangunan waduk Keureuto berada di Dusun Pante Kiro, Desa Blang Pante, Paya Bakong, Aceh Utara. Kini baru ada rencana pembebasan lahan untuk waduk. Menurut Kepala Kepolisian Sektor Paya Bakong, Iptu Idris, delapan bulan lalu Muspika Paya Bakong telah mengadakan rapat bersama masyarakat Blang Pante terkait rencana pembebasan lahan. “Kala itu tidak ada pembahasan tentang biaya yang akan diberikan. Hingga saat ini belum ada perkembangan lainnya,” ujar Idris.

***

Jafar, Kepala Seksi Sungai Dinas Sumber Daya Air Aceh Utara, mengatakan rencana pembangunan waduk Keureuto dan Jambo Aye sudah masuk tahap final. Hasil perencanaan terhadap dua waduk itu, kata dia, tinggal menunggu sertifikat izin bangun dari komisi bendungan atau departemen yang membawahkan pembangunan waduk di Jakarta.

“Saat ini kita sedang mengupayakan pembebasan lahan masyarakat supaya tidak ada kendala dalam pembangunan,” kata Jafar, Kamis pekan lalu. Pembayaran tanah, kata dia, bakal diupayakan dengan Anggaran Pendapatan Belanja Aceh. Karena itu, Pemerintah Aceh Utara sudah menyurati Pemerintah Aceh dan DPR Aceh untuk meninjau lokasi. “Sebab tanah yang harus dibebaskan mencapai kurang lebih seribu hektare,” ujarnya.

Waduk Keureuto, kata Jafar, dibangun di Paya Bakong. Tujuan utamanya untuk pengendalian banjir di Matangkuli, Lhoksukon, Tanah Luas, dan Paya Bakong. “Kalau biasanya banjir, dengan ada waduk, tingkat pengontrolan air jadi lebih terpusat. Jadi, tidak tumpah lagi secara sembarang ke pemukiman warga.”

Namun, waduk itu dibangun tidak cuma untuk menghalau banjir. Waduk Keureuto juga diharapkan dapat menyimpan cadangan air baku terhadap layanan irigasi Alue Ubay di Matangkuli. Dari sini aliran irigasi tersebut dapat menyuplai tempat di bawahnya, yakni irigasi Krueng Pase.

Adapun waduk Jambo Aye diancang-ancang bisa mengairi 19 ribu hektare lebih sawah. Menurut Jafar, luas ini mungkin bakal bertambah karena waduk itu berada di dua kabupaten, Aceh Utara dan Aceh Timur. “Ada rencana perluasan areal waduk yang direncanakan dibangun intek sebelah kanan di wilayah Aceh Timur,” ujarnya. Selain untuk irigasi, waduk Jambo Aye juga dapat dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air.

Pembangunan waduk Jambo Aye, menurut Jafar, diprakarsai Balai Wilayah Air dan Sungai yang ada di provinsi. “Kalau perencanaan waduk Krueng Keureuto, digerakkan oleh Pemkab dengan memanfaatkan dana APBA otonomi khusus kabupaten kota,” ujarnya. Namun, ia tak tahu realisasi fisik pembangunan waduk menggunakan dana APBN, APBA, atau bantuan asing. “Yang jelas pembangunan tidak bisa kita lakukan dengan APBK karena terlalu besar, bisa mencapai satu triliun rupiah lebih.”

Namun, menurut Kepala Dinas Pengairan Aceh Slamet Eko Purwadi, jumlah waduk yang akan dibangun berjumlah empat. Satu lagi, kata Eko, waduk Seulimum, Aceh Besar. Waduk ini berlokasi di DAS Krueng Aceh. Waduk Seulimum diharapkan dapat meningkatkan intensitas tanam dari 160 persen menjadi 200 persen di area seluas 7.384 hektare.

"Keempat waduk ini kita telah memiliki desainnya. Yang jadi masalah saat ini adalah pembebasan lahannya," kata Eko kepada The Atjeh Times Jumat pekan lalu. Menurutnya, pembangunan waduk bisa meningkatkan panen padi dua kali setahun.

Pembiayaan keempat waduk ini diharapkan dapat menggunakan sumber keuangan yang berbeda-beda. "Waduk Rukoh-Tiro dan Keureuto direncanakan menggunakan APBN, sedangkan dua lainnya dibantu donor," ujar Eko. Tahun depan, kata Eko, Pemerintah Aceh akan fokus pada pembebasan lahan. Lalu, di tahun berikutnya barulah waduk-waduk itu dibangun. | MUJAHID ARRAZI | MURDANI ABDULLAH (Banda Aceh) | MUHAMMAD ISA (Pidie) | ALFIANSYAH OCXIE (Lhokseumawe) | ZULKIFLI ANWAR (Aceh Utara)

 

Potensi Irigasi Aceh

Waduk Rukoh-Tiro

Lokasi: Daerah Aliran Sungai Krueng Baro, Pidie (Tiro dan Titeu)

Luas layanan irigasi: 19.118 hektare

 

Waduk Keureuto

Lokasi: Daerah Aliran Sungai Krueng Peusangan, Aceh Utara

Luas layanan irigasi: 4.800 hektare

 

Waduk Jambo Aye

Lokasi: Daerah Aliran Sungai Jambo Aye, Aceh Utara

Luas layanan irigasi: 41.200 hektare

 

Waduk Seulimeum

Lokasi: Daerah Aliran Sungai Krueng Aceh, Aceh Besar

Luas layanan irigasi: 7.384 hektare
 

Potensi Lahan Pertanian Beririgasi: 730.000 hektare

Baru Dikembangkan: 384.171 hektare

Jumlah Irigasi (teknis, semiteknis dan sederhana): 1.176

  • Uncategorized

Leave a Reply