Mengapa Digitalisasi Data Sektor Kehutanan Penting?

ASOSIASI Jurnalis Lingkungan Indonesia SIEJ (The Society of Indonesian Environmental Journalist) menggelar workshop digitalisasi data sector kehutanan bagi media massa. Acara ini digelar di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau, pada 16-19 Oktober 2014.

ATJEHPOSTco diundang menghadiri workshop ini karena terlibat sebagai salah satu dari delapan media sindikasi SIEJ di seluruh Indonesia untuk isu-isu penyelamatan lingkungan.

“Selama ini data sektor kehutanan masih susah sekali ditemukan secara online. Kalau pun ada, sifatnya masih sangat terbatas,” kata Untung Widyanto, Dewan Pengawas SIEJ yang juga wartawan Tempo.

Selain dari pengelola Taman Nasional Tesso Nilo dan LSM setempat, panita juga menghadirkan pembicara dari World Resources Institute, lembaga riset yang berpusat di Washington DC, Amerika Serikat, yang melahirkan Global Forest Watch.  Diundang pula,  perwakilan dari Earth Journalism Network yang juga berkantor pusat di Washington.

Andika Putraditama, perwakilan World Resources Institute di Jakarta mengatakan, di Indonesia lembaganya banyak terlibat dalam menyediakan data-data digital di sektor kehutanan.

Salah satu proyek yang mereka garap adalah menyajikan data kondisi hutan di seluruh dunia. Data yang berasal dari satelit Landsat 7 milik NASA, diolah dalam bentuk digital dengan bekerjasama dengan Google.

“Setelah diolah sedemikian rupa, pengakses data bisa membandingkan perubahan kondisi hutan di satu tempat dari tahun ke tahun,” kata Andika.

Menurut Andika, proyek itu lahir dari pengalaman susahnya memperoleh data sektor kehutanan.

“Bandingkan dengan data saham sektor ekonomi, dimana orang-orang bisa mengakses setiap hari bahkan di media umum. Namun, di sektor kehutanan hal itu belum terjadi,” kata Andika.

Global Forest Watch lewat situsnya globalforestwatch.org, kata Andika, menyajikan data kehutanan yang dapat diakses dan dipakai oleh media umum secara gratis.  Data itu juga menyajikan nama-nama pemilik areal Hak Pengelolaan Hutan (HPH), kawasan lindung, kawasan pertambangan, hingga lahan yang ditanami kebun sawit.

“Jadi ini tidak sekedar berbagi informasi, tetapi juga mengembangkan advokasi berbasis data yang terus diperbarui,” kata Andika.

Data yang diperoleh dari citra satelit Landsat 7 dalam resolusi tinggi, kata Andika, oleh Google diolah sedemikian rupa sehingga bisa tersaji dalam bentuk peta grafis satu layar.

“Kalau kita olah manual, butuh waktu 300-an tahun saking banyaknya, sementara dengan bantuan Google bisa selesai dalam 1,5 bulan,” ujarnya.

Sementara Wlliam Shubert mengatakan, sudah saatnya media menggunakan metode geojurnalime untuk pelaporan kondisi sektor kehutanan di satu tempat.

“Geojornalisme adalah kombinasi dari peta dan cerita. Peta untuk memberikan gambaran lokasi dan bukti, sementara cerita menjelaskan apa yang terjadi di lokasi dalam peta itu,” kata William.

Data citra satelit, kata William, bisa diverifikasi menggunakan alat bantu berupa kamera yang disematkan pada layang-layang, balon, dan drone yang diterbangkan ke udara dan dapat dikontrol menggunakan remote control dari bawah.

“Inti dari jurnalistik adalah verifikasi untuk mendapatkan bukti apa yang sesungguhnya terjadi di satu kawasan hutan,” kata William.

Workshop yang berlangsung tiga hari ini akan dilanjutkan dengan studi lapangan di Taman Nasional Tesso Nilo yang berada di dua kabupaten: Pelalawan dan Indragiri Hulu, Riau.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply