Menelisik Puing-puing Peninggalan Sejarah di Gampong Pande

NISAN-nisan tua itu berserak tak beraturan, di atas lumpur, di antara pohon-pohon bakau yang tumbuh liar di rawa-rawa itu. Di tempat itu, dalam perjalanan kami hari ini, sesekali, biawak tampak berlarian dari satu belukar akar-akar bakau ke bakau lainnya.

Itu adalah rawa-rawa yang ada di Gampong Pande, Kecamatan Raja Raja, Banda Aceh. Letaknya hanya hitungan puluhan meter dari jalanan yang bisa dilewati kendaraan beroda empat di desa itu. Konon, katanya, Gampong Pande ini merupakan asal muasal lahirnya kota Banda Aceh.

Hari ini, Kamis, 7 Mei 2012, sekitar pukul 10.00 wib, saya, bersama dua anggota  Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa), Mawardi Usman dan Muhajir, bertandang ke tempat tersebut.

Kedatangan kami -atau tepatnya mereka, karena saya hanya menyertai perjalanan mereka- adalah untuk menelusuri situs sejarah Aceh, utamanya mengenai jejak kerajaan Aceh Darussalam. Dalam perjalanan ini,  mereka melakukan identifikasi sejumlah puing-puing peninggalan sejarah Aceh yang ada di Gampong Pande.

Rupanya, kondisi lokasi tempat tergeletaknya nisan-nisan kuno itu tak begitu bersahabat untuk melakukan penelitian. Kondisi medan yang dipenuhi berlumpur serta digenangi air di sana-sini membuat proses identifikasi menjadi lebih sulit.

"Namun, dengan semangat untuk menggali dan mengupayakan pelestarian sejarah, kami tetap memutuskan untuk memasuki wilayah lumpur ini," kata Mawardi.

Menurut cerita Mawardi, sejak bencana air bah besar menerjang Aceh pada 2004 lalu, kondisi situs sejarah tersebut sudah tidak beraturan, bahkan tidak terawat lagi.  Akibatnya, benda-benda peninggalan sejarah, seperti nisan-nisan kuno itu bertaburan tak tentu arah dari tempatnya semula.

"Untuk itu, kami mencoba mengidentifikasi ulang peninggalan kerajaan Aceh Darussalam tersebut, supaya ada dari pihak (yang berwenang) yang bisa menata ulang kembali (situs peninggalan sejarah itu)."

Dalam perjalanan itu, kami melihat banyak nisan-nisan tua yang menurut penjelasan Mawardi dan Muhajir merupakan peningalan kerajaan Aceh Darussalam. Selain itu, di tempat itu, juga terlihat tembikar (pecahan-pecahan keramik) yang -kata mereka- juga peninggalan kesultanan Aceh.

"(Di tempat ini) juga terdapat tiga nisan kerajaan Samudra Pasai, juga masih banyak peninggalan-peninggalan yang belum teridentifikasi nama-namanya yang mencapai ratusan hingga ribuan peninggalan, yang masih terbengkalai," kata Muhajir, rekan Mawardi dalam penelusuran ini.

Kondisi ini mengusik batin kedua pecinta sejarah Aceh itu. Mereka berharap seyogyanya pemerintah melakukan perawatan dan pelestarian terhadap keberadaan situs sejarah tersebut. 

"Bagi dinas-dinas terkait seperti Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Wilayah Aceh dan Sumatera Utara, serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, agar betul-betul menjaga aset tersebut."

Pun kepada masyarakat sekitar, mereka juga berpesan agar selalu menjaga keberadaan situs sejarah Aceh itu. Konon lagi, itu merpakan peninggalan kerajaan Aceh yang pernah masyhur beberapa abad silam. []

  • Uncategorized

Leave a Reply