Menanti Branded Kopi Gayo Di Dunia

Potensi kopi Bener Meriah yang besertifikat Fair Trade and Organic (FTO) dapat mencapai 9.496 ton. Sayang sekali, bisnis kopi ini belum menjadi proyek penting bagi pemerintah setempat.++

Al Liu memperhatikan dengan saksama wadah biru yang telah diisi dengan bubuk kopi Gayo, 14 November 2012. Bersama enam rekannya dari Amerika Serikat, buyer kopi keturunan Cina ini melakukan cupping test kopi Gayo di warung Trend Coffee, Simpang Tiga, Redelong, Kecamatan Bikut, Bener Meriah. Cupping test tersebut didampingi langsung oleh beberapa penguji kopi dari Gayo Cuppers Team.

Al Liu merupakan warga Amerika Serikat yang kini bekerja dengan perusahaan Atlas Importer. Dia kerap menggunakan kopi Gayo dan kopi Brazil sebagai dasar untuk mencampur kopi (based for blend). Perusahaannya sangat suka membeli kopi dari Gayo karena kualitasnya yang konsisten dan memiliki citarasa ‘klasik’ khas Sumatera.

Selain Al Liu, turut hadir buyer Amerika lainnya, seperti Dustin Johnson dari Organic Products Trading Company (OPTCO),  Jim Munson dari Brooklyn Roasting Company, dan Jude Toepfer dari ICC.

Buyer Amerika lainnya, General Manager Organic Products Trading Company (OPTCO), Dustin Johnson, mengatakan, kopi Gayo sangat disukai oleh perusahaannya dan sangat disukai oleh penikmat kopi Amerika. Menurut dia, citarasa yang terkandung dalam kopi Gayo diibaratkan seperti rasa coklat yang lembut (light chocolate), madu, dan earthy (tanah).

“Kopi Gayo juga memiliki rasa di antara rasa buah-buahan (fruity) dan earthy (tanah), yang terkadang orang salah menganggap bahwa kopi Gayo itu lapuk (fermented),” tutur Dustin, di sela-sela cupping test tersebut.

Kunjungan tujuh pembeli kopi atau buyer dari Amerika tersebut, selain mengikuti International Coffee Festival yang bertajuk “Gayo Specialty Coffee Festival”, juga sekalian berwisata ke Gayo. Mereka turut menyaksikan panorama dan keindahan Danau Lut Tawar, serta keindahan lainnya.

***

Festival kopi yang dihelat oleh 16 produser kopi dan 16 eksportir, yang telah besertifikat Fair Trade dan Organic (FTO) pada 11 – 16 November 2012 di dataran tinggi Gayo, merupakan Festival Coffee Gayo Speciality pertama. Direncanakan, festival tersebut akan dilaksanakan setiap tahun.

Festival itu diberi nama International Coffee Festival yang langsung dihadiri oleh tujuh pembeli atau buyer dari Amerika Serikat. Dalam festival ini diselenggarakan berbagai kegiatan, seperti berdiskusi tentang kopi, simposium, uji citarasa kopi, kunjungan ke produser (koperasi), dan kunjungan ke kebun petani.

Dalam festival ini banyak hal yang ingin dicapai, ujar Mustawalad, Ketua Asosiasi Produser Fair Trade Indonesia (APFI) yang juga General Manager Koperasi Gayo Linge Organic Coffee (GLOC), kepada The Atjeh Times, Rabu 14 November 2012.

Mustawalad menyebutkan hal yang ingin dicapai seperti bagaimana menciptakan kesadaran para pelaku kopi tentang pentingnya penamaan kopi Gayo sebagai asal-usul kopi tunggal (single origin). Saat ini, kopi Gayo lebih dikenal dengan nama Mandheling Sumatera.

Selain itu, Mustawalad mengatakan pentingnya perluasan pasar dan peningkatan produktivitas di tengah tantangan perubahan iklim. Perubahan tersebut sedikit banyaknya akan mempengaruhi kopi.
“Sementara tujuan lain adalah menjaga eksistensi kopi Gayo yang telah mendunia,” kata Mustawalad.

Menurut Mustawalad, buyer dari Amerika, yaitu Jim Munson dari Brooklyn Roasting Company (BRC) juga datang langsung ke Gayo. Perusahaan ini memproduksi kopi kemasan di Amerika dengan nama Java Nila Chocholate Volcano Gayo Mountain.

Perusahaannya, kata Mustawalad, membeli kopi dari Gayo dan akan mencampur (blend) dengan kopi yang berasal dari Ethiopia. Sehingga, kopi produksi perusahaannya akan memiliki rasa yang unik, dan sangat disukai oleh penikmat kopi di Amerika.

Sementara Al Liu, kerap menggunakan kopi Gayo dan kopi Brazil sebagai dasar untuk mencampur kopi (based for blend). Nantinya, masing-masing dari kedua kopi ini akan dicampur dengan kopi yang berasal dari negara pengekspor kopi lainnya, seperti Honduras, Kolumbia, Peru, Bolivia, dan Kostarika.

Full Washed Arabica Gayo sangat mahal dan perusahaannya lebih memilih membeli kopi seperti ini dari Amerika Tengah karena harganya yang lebih kompetitif dengan perusahaannya. Selain itu, menurut Mustawalad, harganya jauh di bawah kopi Gayo. “Pada umumnya kopi Gayo yang diproduksi adalah  Semiwashed Arabica,” ujar Mustawalad.

Para retailer kopi di Amerika juga memproduksi kopi Gayo kemasan. Kopi tersebut sama sekali tidak dicampur dengan bubuk kopi dari negara lain, seperti yang dilakukan oleh perusahaan Green Mountain Coffee Roaster (GMCR). Produk GMCR ini seperti Wih Pesam Gayo Single Origin dan Lake Tawar Gayo Single Origin.

Dari hasil Coffee Speciality Festival tersebut, para buyer Amerika menyampaikan beberapa hal kepada produser dan eksportir kopi di Indonesia. Salah satunya, mereka ingin membeli kopi dari produser yang memiliki kualitas, citarasa yang antik, klasik, dan konsisten.

“Selain itu, buyers kopi juga menginginkan produser tidak menipu petani, dan memberdayakan petani dengan sungguh-sungguh akan menciptakan kopi Gayo lebih dari kopi spesial,” ujar Mustawalad.

***

Bisnis kopi saat ini belum menjadi proyek penting bagi pemerintah daerah di dataran tinggi Gayo. Padahal, potensi kopi untuk kopi yang besertifikat FTO bisa mencapai 9.496 ton dan potensi untuk mendapatkan sosial Premium Fair Trade untuk petani sebesar Rp39,6 miliar per tahunnya. “Itu untuk Kabupaten Bener Meriah saja,” ujar Mustawalad.

Berdasarkan hasil kunjungan tujuh buyers Amerika tersebut, para produser juga dituntut pertanggungjawabannya tentang manfaat bisnis kopi pada petani. Hal tersebut, kata Mustawalad, seperti yang dikatakan oleh tokoh penting perusahaan retail kopi Starbuck, “Kita berada dalam bisnis manusia yang melayani kopi, bukan bisnis kopi yang melayani manusia.”

Mustawalad menceritakan, para pembeli dari Amerika saat mengunjungi kebun dan berdialog dengan petani sering menanyakan pendapat mereka. Hal-hal yang kerap ditanyakan adalah koperasi mana yang terbaik menurut petani.

Pernyataan petani tersebut, kemudian dijadikan rujukan para buyers untuk melakukan kerja sama dengan koperasi yang memiliki hubungan dan positif di mata para petani.

“Sinyal ini menjelaskan, produser kopi yang busuk akan tersingkir dari persaingan bisnis kopi yang fair (adil),” ujar Mustawalad.

Pembeli dari Amerika tersebut, kata Mustawalad, juga telah memberikan sinyal akan melakukan kerja sama atau semacam kontrak untuk membeli kopi Gayo lebih banyak.

“Karena mereka telah melihat langsung kebun kopi rakyat dan merasakan citarasa kopi Gayo,” tutur Mustawalad.[] BOY NASHRUDDIN AGUS | ZULKARNAIN

  • Uncategorized

Leave a Reply