Memeras Terduga Khalwat di Jalan Elak

PRIA 39 tahun itu nyaris sehitam arang. Badannya berotot, kekar. Namanya, Samsul Bahri. Ia warga Meunasah Blang Kandang, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe. Di KTP-nya, status pekerjaan ayah tiga anak ini adalah buruh harian lepas.

“Saya buruh bangunan,” kata Samsul Bahri kepada ATJEHPOST.com, di gedung Satreskrim Polres Lhokseumawe, Senin siang tadi.

Samsul Bahri berada di gedung Satreskrim itu sejak dinihari tadi setelah ditangkap di Jalan Elak, Jeulikat, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe. Ia disangka menculik, mengancam, memeras, dan menganiaya sepasang kekasih berstatus mahasiswa. Mulanya, Samsul Bahri dan kawan-kawan menghadang korban dengan tuduhan melakukan mesum atau khalwat di Jalan Elak, Alue Lim, Lhokseumawe. (Baca: Penculik Sepasang Kekasih Ditangkap Usai Terima Tebusan 5 Juta).

Jalan Elak teramat gelap ketika malam menyergap. Kawasan yang jauh dari pemukiman penduduk itu retan menjadi tempat mesum atau khalwat. Selain itu, rawan pula tindak kriminal.

Dan kini terungkap, dugaan khalwat di Jalan Elak dimanfaatkan pelaku kriminal untuk memeras. “Informasi yang kita peroleh, sebenarnya sudah lama terjadi aksi seperti itu (pemerasan terhadap terduga khalwat). Itu sudah menjadi modus baru dan diduga dilakuka secara berkomplotan. Tapi selama ini tidak ada korban yang melapor kasus itu kepada kita,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Lhokseumawe, AKP Dicky Hendra Wijaya.

Muncul dugaan, selama ini terduga khalwat yang menjadi korban pemerasan di Jalan Elak lebih memilih “jalan damai” dengan pelaku. “Mungkin korban pemerasan selama ini adalah orang yang ‘isi dompetnya tebal’, sehingga tidak disekap oleh pelaku,” kata satu sumber.

Ketika korban “isi dompetnya tipis”, ceritanya akan berbeda. Kasus dialami sepasang kekasih berstatus mahasiswa pada Minggu, 3 Agustus 2014, malam, misalnya.

Menurut pihak Satreskrim Polres Lhokseumawe, mahasiswa korban penyekapan malam itu, saat kejadian, dompetnya “hanya” berisi uang sekitar Rp120 ribu. Sedangkan pelaku pemerasan berjumlah lima orang. Jika uang Rp120 ribu dibagi lima orang, masing-masing “hanya” kebagian Rp24 ribu.

Kabarnya, itulah salah satu alasan para pelaku menyekap sepasang kekasih tersebut. Tersangka Samsul Bahri yang ditangkap polisi, menggelengkan kepalanya ketika ditanyakan hal tersebut.

Samsul Bahri menuduh salah satu temannya sebagai dalang pemerasan. “Ini ide salah satu teman saya yang sudah kabur,” ujarnya.

Namun, Samsul Bahri mengakui dirinya yang menerima uang tebusan Rp5 juta dari korban. “Lima puluh ribu saya kembalikan (kepada korban) untuk dibeli bensin sepeda motornya agar dia bisa pulang,” kata dia.

Samsul Bahri juga membantah sudah beberapa kali memeras korban lainnya dengan tuduhan berbuat khalwat. “Baru ini yang pertama saya lakukan, itu pun karena diajak teman,” ujarnya. Memurut dia, temannya bilang “ayo kita peras pelaku khalwat di Jalan Elak”.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply