Membaca perilaku lewat rasa jijik

TERDENGR aneh, namun Valerie Curtis terpesona oleh tinja. Doktor di bidang antropologi yang juga pakar kebersihan dan perilaku ini juga juga tertarik pada muntahan, urin, nanah, belatung dan daging busuk. Yang dia pikirkan tentu bukan substansi busuknya tapi bagaimana manusia memberikan respons terhadap hal yang kerap dianggap menjijikkan itu.

Curtis menyatakan bahwa kotoran bisa menunjukkan gaya hidup manusia mulai dari apa yang dimakan, dipakai, dibeli hingga bagaimana mereka memilih sesuatu dan siapa yang diidolakan. Dalam sains, rasa jijik itu jarang dipelajari dan dijuluki "emosi yang terlupakan". Orang lebih tertarik membahas jenis emosi lain seperti rasa takut, cinta dan amarah.

Curtis adalah bagian dari grup peneliti yang meneliti bagaimana mengetahui adanya perubahan atau reaksi mendadak dalam segala sesuatu. "orang bahkan kadang merasa jijik tanpa menyadarinya. Hal itu mempengaruhi kita dalam berbagai cara dan penting bagi kita untuk tahu seberapa besar pengaruh tersebut," kata Curtis.

Curtis lama bekerja di bidang kesehatan publik dan mengembangkan cara memperbaiki higienitas serta mengurangi kematian yang tidak perlu akibat wabah di berbagai tempat. Direktur London School of Hygiene and Tropical Medicine ini telah melakukan penelitian tentang perilaku hidup bersih di Bangladesh, Burkina Faso, China, India, Uganda, Vietnam, Indonesia dan Kyrgyzstan.

"Selama 30 tahun saya mempelajari tentang rasa jijik. Saya menemukan bahwa orang-orang ternyata jijik terhadap hal yang sama yaitu kotoran manusia, makanan basi, cairan seksual, yang tentu saja dengan beberapa pengecualian tak ingin kita bagikan ke orang lain, sikap buruk dan perilaku amoral," kata Curtis.

Dalam bukunya "Don't Look, Don't Touch" Curtis menjelaskan bahwa reaksi terhadap aksi cabul dan rasa jijik terhadap kotoran anjing sekilas adalah hal yang berbeda. Namun sebenarnya ada kemiripan dalam hal yang disebutnya "parasite avoidance theory". Teori ini menyoroti rasa jijik dari pandangan evolusioner, bahwa nenek moyang manusia bisa bertahan dengan bantuan naluri rasa jijik atau muak seperti menghindari penyakit, cacat dan kematian.

Rasa jijik jika dibandingkan dengan rasa takut, menurut Curtis, membuat manusia secara alamiah menghindari sesuatu yang mungkin akan memangsanya. "Ini juga dilakukan terhadap penyakit. Penyakit adalah sesuatu yang memakan kita dari dalam, karena itulah rasa jijik yang menjaga manusia jauh dari sumber penyakit," katanya.

Rasa jijik juga menentukan sikap perilaku sosial manusia. "Ada kalanya saat berinteraksi dengan manusia lain, kita melakukan sesuatu untuk mendekatkan diri tapi di saat yang sama sangat berhati-hati untuk tidak membuat mereka jijik," kata Curtis. Rasa jijik itulah yang menjaga sikap dan membangun moralitas manusia. "Itulah emosi yang mengajarkan kita cara berperilaku, membantu membangun kerangka moral dalam masyarakat." | sumber : tempo

  • Uncategorized

Leave a Reply