Melihat Sentra Kerajinan Rotan di Keude Bieng Lhoknga

Melihat Sentra Kerajinan Rotan di Keude Bieng Lhoknga

JANTHO – Saat melewati Lhoknga, kita akan menemui sejumlah pedagang yang menjual berbagai jenis hasil kerajinan tangan berbahan rotan. Di tangan para pengrajin, rotan-rotan itu diolah menjadi berbagai bentuk seperti tudung saji atau tampah.

Salah satu pengrajin rotan di Desa Keude Bieng, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, Ai, 45 tahun, menjelaskan, membuat kerajinan rotan harus fokus dan serius. Dua hal ini akan menentukan hasil dari bentukan rotan tersebut, rapi atau tidak.

“Rata-rata barang dagangan di sini saya sendiri yang membuatnya, tetapi ada juga sebagian dari tempahan masyarakat setempat, karena sementara ini saya sedang tidak membuat tetapi hanya menjual,” kata Ai saat ditemui portalsatu.com, Rabu, 29 Juli 2015.

Bahan baku rotan didapatkan pengrajin dari daerah sekitar hingga ke Leupung dan Lhoong, termasuk di Seulimum.

“Biasanya kalau rotan saya membeli sama orang di sekitaran sini juga, banyak ibu bapak dan orang-orang tua yang mencari rotan di hutan. Kalau orang perempuan yang mencari rotan biasanya pendek-pendek tetapi kalau laki-laki panjang-panjang rotannya dan lebih banyak,” ujarnya.

Menurut Ai, laki-laki lebih banyak memperoleh rotan dan berukuran panjang dibandingkan perempuan. Biasanya ia mengambil pada perempuan kisaran 2-4 kilogram ukuran pendek sementara laki-laki mencapai 10 kilogram. Harga rotan yang dibelinya Rp10.000 per kilogram.

Pembuatannya, kata Ai, lebih mudah menggunakan rotan yang panjang karena tidak banyak sambungan dan hasilnya kelihatan rapi. Ai melanjutkan, rotan yang telah dibeli tersebut awalnya dijemur terlebih dahulu sehari hingga tiga hari jika cuacanya mendung. Setelah dijemur baru dibentuk dengan kreativitas masing-masing. Dalam pembuatannya ada juga rotan yang dibelah menjadi dua dan masih utuh.

“Kalau rotan yang sudah terbelah itu tipis dan tidak begitu tahan lama meskipun hasilnya dalam ukuran besar dan murah. Sementara rotan utuh yang tidak dibelah lebih tahan lama dan sedikit mahal karena jumlah rotan yang digunakan lebih banyak,” kata Ai.

Berbagai jenis koleksi bisa diolah dari rotan, mulai dari tutup saji, keranjang pakaian, keranjang mencuci daging, tampah, pot bunga, ayunan anak-anak, ayunan boneka, keranjang parsel hingga tatakan periuk alias reungkan, dan kateng. Kateng biasanya digunakan masyarakat untuk menanak nasi dan makanan lainnya.

Harga jual hasil kearajinan tangan ini mulai dari Rp 15.000 dan maksimal Rp. 200.000. Tutup saji misalnya, berkisar Rp 70 ribu  hingga ratusan ribu rupiah. Sementara kateng, tampah dan keranjang parsel kisaran puluhan ribu rupiah.

“Kalau soal harga sangat bervariasi tergantung bentuk, jenis dan ukurannya, sementara pendapatannya tergantung pembeli jika ramai orang ada, tapi kadang-kadang juga sepi,” katanya.

Ai mengatakan mata pencahariannya dan rata-rata orang daerah setempat dari hasil rotan tersebut. Namun pendapatannya tidak menjanjikan, pendapatan tergantung banyaknya pembeli atau tidak.[] (ihn)

Foto: Hasil kerajinan rotan produksi masyarakat Keude Bieng, Lhoknga, Aceh Besar @portalsatu.com/Zahratil Ainiah

Leave a Reply