Melihat Islam di Titik Nol Ekuador (1)

Melihat Islam di Titik Nol Ekuador (1)

Quito – Kali ini destinasi Jazirah Islam adalah negara di pantai barat Amerika Selatan, Ekuador. Sama halnya dengan Indonesia, Ekuador juga dilalui garis ekuator atau khatulistiwa. Dari sinilah nama Ekuador berasal.

94 Persen penduduk Ekuador adalah penganut Katolik. Agama yang dibawa Spanyol ketika menjajah negara ini selama 300 tahun. Namun di antara 14 juta warganya, ternyata ada segelintir muslim yang memberi warna di Ekuador. Hanya ada 0,13% muslim di sini, atau sekitar 19 ribu orang.

Warga Ekuador baru mengenal Islam lebih dekat pada era 80-an, ketika banyak kaum intelektual yang menimba ilmu di Eropa dan Amerika Serikat. Dan seiring waktu makin banyak generasi baru yang merantau ke berbagai penjuru dunia, dan bersentuhan dengan Islam. Salah satunya adalah Stefania Escobar, yang baru dua bulan silam mengucapkan dua kalimat syahadat.

Stefania mengenal Islam ketika bekerja di Australia. Di sana Ia bertemu muslimah dari Pakistan. Bahagia, murah hati, dan memiliki tujuan hidup yang pasti, adalah hal yang ia lihat dari teman muslimnya tersebut.

Dua tahun Stefania tinggal di Australia. Selama itu pula ia terus belajar dan bahkan mulai menerapkan ajaran Islam seperti puasa. Setelah kembali ke Ekuador dan menjalani  kehidupan lamanya, Stefania merasakan ada yang hilang dalam hidupnya. Saat itulah ia mulai datang ke masjid  dan akhirnya memantapkan hatinya untuk mengucap syahadat.

islam ekuador lom

Namun tidak mudah bagi Stefania untuk berbagi cerita membahagiakan ini bersama keluarganya yang non-muslim. Ia mulai memberikan buku dan video tentang Islam sebelum membuka diri pada keluarganya. Alhamdulilah ibunya menghormati keputusannya.

Shiomara, ibu Stefania sudah ikhlas menerima keputusan Stefania kini meski berat di awalnya. Ia bahagia selama anaknya bahagia. Hanya satu hal yang masih menjadi ganjalan bagi Shiomara, hijab yang dikenakan Stefania karena budaya di Ekuador yang tidak terbiasa mengenakan pakaian yang rapat.

Desember 2014 lalu adalah Natal pertama yang dilalui Stefania sebagai muslim. Jika biasanya ia menjadi bagian dari perayaan ini, sekarang semua berbeda. Alhamdulillah, hubungan Stefania dan ibunya senantiasa harmonis. Tidak ada yang berubah di antara mereka. Perbedaan agama tidak membuat jurang pemisah, justru semakin menegaskan kasih ibu dan anak tidak akan bisa dipisahkan oleh apapun. | sumber: detik.com

Foto: Aditya Jakun

Leave a Reply