Melestarikan tarian Aceh setelah sang maestro pergi

“Krueng Raya meugah meu ganong
Kapai jitamong KM Rumbia
Kapai jitamong ganong pih jiweh
Malam nyoe jadeh ta meu prang haba

Ji gob di meuprang ngon aneuk budee
Tanyoe rakan e… ta meuprang haba
Hana di laot geu tarek awee
Hana ateuh glee geu taguen sira”

DUA bait pantun itu masih melekat dalam ingatan Iskandar Norman, penulis buku “Adat dan Budaya Pidie Jaya”. Pantun tersebut diucapkan Syeh Rih Muda saat Iskandar Norman menemui adik Syeh Lah Baguna itu, sekitar enam tahun silam.

Kini, dunia seni budaya Aceh berduka. Maestro tari Seudati, Syeh Rih Muda atau Syeh Rih Meurudu, meninggal di Rumah Sakit Harapan Bunda, Banda Aceh, Sabtu, 25 Mei 2013, setelah enam hari dirawat karena menderita hepatitis.

Jenazah almarhum, kata Keumala Sari, putri Syeh Rih, dimakamkan di Gampong Pante, Beureunee, Meurah Dua, Pidie Jaya. Berbagai kalangan melayat ke rumah duka, di Gampong Dayah Kleng, Meureudu, termasuk Gubernur Aceh Zaini Abdullah. Itu sebagai bukti Syeh Rih tidak hanya dicintai pelaku seni tari.

Syeh Rih bernama lengkap Idris Husen adalah pelatih seudati di Sanggar Cut Nyak Dhien Meuligoe Aceh sejak masa Gubernur Ibrahim Hasan. “Dua puluh tiga tahun menjadi pelatih seudati di Sanggar Cut Nyak Dhien, bukti konsisten Syeh Rih dalam seni tari ini,” kata Iskandar Norman.

Kepergian Syeh Rih Muda dinilai kehilangan besar bagi dunia seni tari Aceh. “Kita telah kehilangan guru besar tari seudati Aceh,” ujar Kaka Zafana, Ketua Lembaga Seulanga yang banyak belajar dari Syeh Rih saat ia bergabung dengan Sanggar Cut Nyak Dhien selama enam tahun.

Itu sebabnya, Kaka Zafana berharap generasi muda saat ini terus menggali seni tari tradisi Aceh secara mendalam agar terawat dengan baik.

***

KESENIAN Aceh sudah lahir sejak masa lampau sesuai kehidupan masyarakat berbudaya. Di Aceh Utara, misalnya, berkembang seni tari, drama, sastra dan kesenian lainnya.

Data dari buku “Aceh Utara: Dari Kerajaan Samudera Pasai ke Era Industrialisasi”, kesenian di Aceh Utara yang berkembang dan digemari: Seudati, Saman, Rapai Pasai, Rapai Debus, Rapai Lahee, Rapai Grimpheng, Rapai Pulot, Alue Tunjang, Poh Kipah, Biola Aceh, Meurukon, Sandiwara Aceh, Hikayat atau Cerita Rakyat.

Ada pula tari kreasi baru berpola tari tradisional: Ranup Lampuan, Rampoe Aceh, Peumulia Jame, Tarek Puekat, Limong Sikarang, Rampat Dua dan Rubani Wahit.

Di tengah perkembangan seni tari, Bupati Aceh Utara Muhammad Thaib atau Cek Mad, tiba-tiba mengimbau perempuan dewasa jangan menari di muka umum, termasuk tari tradisi Aceh.

Imbauan tersebut disampaikan saat membuka pelatihan Peradilan Adat di Aceh Utara, 7 Mei 2013. “Bupati menyatakan akan menghilangkan budaya tarian gadis-gadis dalam menyambut tamu di pendopo (bupati) dan tempat acara seremoni lainnya,” kata seorang pegawai negeri sipil peserta kegiatan tersebut.

Penari dewasa, kata PNS itu mengutip pernyataan Bupati Cek Mad, akan diganti penari cilik. Sebab, lenggak lenggok penari perempuan dewasa dinilai menimbulkan kesan negatif.

Bupati Cek Mad kemudian menyampaikan imbauan tersebut pada acara perlombaan gampong di Uteun Geulinggang, Dewantara, Aceh Utara, 21 Mei 2013. Ia mengklaim imbauan itu sesuai semangat syariat Islam.

“Pak Bupati hanya mengimbau secara lisan. Alangkah baiknya perempuan dewasa tidak tampil menari di tempat-tempat umum, lenggak lenggok perempuan dewasa tentu tidak baik dilihat kaum laki-laki,” kata Fakhrurradhi, Kepala Bagian Humas Sekretariat Daerah Aceh Utara.

Imbauan itu, kata Fakhrurradhi, lebih diarahkan ke lingkungan pemerintah. “Ke depan bupati ingin hanya tampil penari anak-anak usia sekolah dasar, itu lebih tepat, karena anak-anak juga bisa menari,” ujarnya.

Kepala Bidang Pariwisata dan Kebudayaan Aceh Utara, Nurliana menyebutkan Bupati Cek Mad ingin tarian disesuaikan. Perempuan dewasa bisa menampilkan tari Ratoh Duek, Selawat Badar, Rebana, Asmaul Husna tanpa lenggak lenggok. “Saya lihat sisi seperti itu yang diinginkan Pak Bupati, bukan mematikan seni, tapi minta disesuaikan,” kata Nurliana.

***

MAESTRO tari Seudati Syeh Lah Geunta menilai hampir semua seni tradisi yang berkembang di Aceh dibawa ulama masa lampau. Seudati, misalnya, sebagai media mengembangkan ajaran Islam dengan syair-syair yang Islami dan mengajak berbuat kebajikan.

Seni tari tradisi, kata Syeh Lah, bisa tumbuh dan berkembang di Aceh karena tidak mengandung unsur pornografi. “Tari Ranup Lampuan yang biasa dipakai menyambut tamu ditarikan perempuan memakai busana adat Aceh,” katanya.

Gerakan tarian Aceh, kata Syeh Lah Geunta, berada dalam konteks etika, norma dan moral. Gerakan tari Tarek Pukat, misalnya, mengisahkan masyarakat pesisir pantai menangkap ikan menggunakan pukat.

Para pencetus tari tradisional Aceh memahami ajaran agama dan norma yang berlaku. “Busana dalam tarian tradisional Aceh, semuanya menutup badan dan tidak membentuk badan,” kata Anton Setia Budi, koreografer tari.

Dalam tari tradisi Aceh tak ada gerakan yang dapat menimbulkan nafsu. Kata Anton, “Jika melihat tarian, lihatlah makna yang disampaikan dalam tarian itu”.

Guru seni tari perempuan di SMKN 1 Lhokseumawe, Rima Septiana, menilai tarian Aceh bernuansa islami, baik dari segi kostum maupun syair-syairnya. “Gerakan tarian adalah gerak tubuh yang memiliki arti seni,” kata lulusan Universitas Negeri Yogyakarta ini.

Ketua Dewan Kesenian Aceh (DKA) Aceh Utara Nurdin Ismail atau Ayah Din menyarankan Bupati Cek Mad duduk dengan pakar seni, pelatih tari dan ketua sanggar seni untuk membahas perlu atau tidak larangan terhadap perempuan dewasa menari.

***

DI semua kabupaten kota di Aceh masih berkembang seni tari. Sanggar-sanggar seni mengukir prestasi tingkat lokal dan nasional. Mereka  mengharumkan nama daerahnya sampai ke mancagenara.

Sanggar Pocut Meurah Inseun binaan Pemerintah Lhokseumawe pernah tampil di Malaysia dan Thailand. Seni tradisi yang mereka kuasai antara lain Seudati, Rapai Geleng dan Tarek Pukat.

Di Langsa, Sanggar Banda Beutari, mengembangkan tari Ranub Lampuan, Rampoe Aceh, Saman dan Rapai. Sanggar Pusaka Nanggroe di Pidie mendalami tari Ranup Lampuan, Laweut, Seudati, Seudati Inong, Rapai Geleng, Saman Gayo, Ratoh dan Tarek Puekat.

“Ada juga tari garapan baru, Prang Sabilillah, Bungong Nanggroe, Geunta, Ramphak Nanggroe,” kata Teuku Tarmizi, koordinator Sanggar Pusaka Nanggroe.

Sanggar-sanggar itu terus melestarikan kesenian Aceh. “Seni dan budaya kekuatan suatu daerah,” ujar Syeh Lah Geunta.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply