Media Australia Sebut Syariat Islam Aceh Ekstrim

PENERAPAN hukum cambuk di Aceh masih menjadi sorotan media luar negeri. Hari ini, Selasa, 28 Oktober 2014, media Australia news.com.au menurunkan laporan tentang syariat Islam di Aceh. 

Dalam laporan bertajuk "Inside Sharia law: SBS reporter Patrick Abboud reveals life under the morality police in Aceh" media Australia ini mengisahkan pengalaman Patrick Abboud, seorang reporter SBS Dateline yang merekam kehidupan masyarakat Aceh di bawah pengawasan polisi syariat. Mereka menyebutnya "moral police" alias polisi moral. 

Disebutkan, Aceh adalah satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan hukum syariat. "It is extreme and while those living there may not necessarily disagree with it, many have issues how it is dispensed (Itu ekstrim dan banyak orang yang tinggal di sana tidak setuju dengan hukuman itu dan mengupayakan hukuman seperti itu dibatalkan.

Mengutip Abbound, News.com.au mencontohkan seorang perempuan yang dihukum cambuk lantaran menjual makanan saat Ramadan.  

Selama liputan, Abbound ikut patroli bersama Kepala Dinas Syariat Islam Langsa, Ibrahim Latif, dan menyaksikan petugas menginterogasi perempuan yang dinilai memakai pakaian ketat. 

Seorang polisi syariat perempuan berkata kepada Abbound,"Perempuan yang memakai pakaian ketat mengundang hal buruk bagi mereka sendiri, seperti pemerkosaan. Sebenarnya, kejahatan terjadi karena kita sendiri yang mengundangnya."

Tidak hanya kaum perempuan yang menjadi sasaran. Termasuk juga mereka yang minum minuman keras, homoseksual, dan penzina. 

Dikutip pula ucapan Ibrahim Latif yang mengatakan,"biasanya, hukuman untuk mereka yang sama-sama telah berkeluarga tetapi melakukan hubungan badan dengan yang bukan pasangan sahnya, biasanya ditanam di jalanan."

"Yang pria ditanam sampai ke pinggang di tepi jalan, dan siapa yang lewat harus melemparkan batu ke arahnya sampai meninggal. Sedangkan untuk wanita yang sudah menikah ditanam sampai ke leher dan dilempari batu sampai mati." 

Abbound juga mengatakan, meskipun Indonesia adalah negara mayoritas muslim, tapi hukum cambuk hanya ada di Aceh. Di tempat lain, kata Abbound, jauh dari ekstrim. 

"Itu bukan karena mereka tidak percaya hukum syariat, tapi di tempat lain di Indonesia mayoritas adalah orang yang penyayang dan cinta damai," kata Abbound.

Abbound juga bercerita ia hanya sehari berada di Aceh, lantaran kemudian dia diusir. Padahal, menurut Abbound, sebelumnya ia telah mendapatkan izin untuk membuat film tentang syariat Islam di Aceh. 

"Meskipun mengaku tidak takut, tapi Abbound mengatakan dia akan berada dalam bahaya jika tetap memaksa untuk tetap tinggal di Aceh dan melanjutkan pekerjaannya."

Malam ini, pukul 9.30 malam waktu setempat, hasil liputan Patrick Abbound akan ditayangkan SBS Dateline.

Semoga saja tayangan itu akan memperbanyak kunjungan wisatawan asing ke Aceh seperti ditargetkan Dinas Pariwisata Aceh yang sedang menggalakkan Visit Aceh Year. Minimal mereka bisa mendapatkan hiburan menyaksikan orang-orang dipermalukan di depan umum dan meringis kesakitan ketika cambuk mendera tubuh terhukum. Setuju? [] 

Baca juga:
Yuk, Mari Wisata Cambuk ke Aceh

  • Uncategorized

Leave a Reply