Maya Soetoro-Ng: Tidak Perlu Takut Dengan Kompetisi Global

Lahir di Jakarta dan tumbuh besar di Amerika Serikat tidak membuat Maya Soetoro-Ng gamang akan identitas. Justru kata Maya, ia selalu merasa “ada di rumah sendiri”, atau yang ia istilahkan dengan “feel at home”, kemanapun ia pergi karena berdarah campuran Asia dan Amerika.
 
Abang satu-satunya, Presiden Barack Obama, adalah keturunan Kenya, Afrika sedangkan suami Maya berasal dari China. Ia sendiri berayahkan Lolo Soetoro, seorang ahli geografi dari Yogyakarta dan Ann Dunham, ibunya, adalah antropolog asal Amerika Serikat.
 
Berbeda dengan Obama yang memilih jalur politik, di Amerika Maya Soetoro Ng dikenal sebagai pendidik. Ia mengajar pendidikan multikultural di University of Hawaii. Suaminya, Profesor Konrad Ng, adalah ilmuwan politik dari universitas yang sama.
 
Saat berinteraksi dengan publik Jakarta di Pusat Kebudayaan Amerika, Selasa sore, Maya Soetoro-Ng mengakui ketatnya kompetisi pendidikan global saat ini. Meskipun demikian, kompetisi global itu tidak boleh membuat kecil hati asalkan tetap fokus pada tujuan yang ingin dicapai di masa depan.
 
“Memang kita sekarang berada dalam situasi yang penuh dengan kompetisi. Dulu saya ingat di TVRI ada acara kuis untuk pelajar (Cerdas Cermat), ada spirit kompetisi juga di sana, mencoba jadi yang terbaik maka dia bisa jadi pemenang. Kompetisi yang main-main asalkan fokus tidak masalah. Pendidikan di sekolah bukan hanya mengajarkan nilai-nilai mendasar, tapi harus dipraktekkan. Di Indonesia itu persaudaraan dan masyarakat tradisional juga punya ikatan yang kuat,” kata Maya.
 
Pemaparan Maya tentang metode pengajaran bagi anak-anak terkait “Education for Global Competence” atau “Pendidikan untuk Kompetisi Global” sangat menarik dan ‘dalam’.
 
Ia menggunakan metafora gelas dan piring kuno milik ibu dan hadiah pernikahan dari mertuanya yang asli Tionghoa. Ia katakana semula menyesal, tapi belakangan pecahan piring dan gelas itu mengeratkan memorinya, tentang hidupnya yang multikultural sejak kecil dan membentuk pribadinya sekarang sekaligus cara pandangnya atas dunia luar.
 
“Dalam kompetisi global itu kita saling belajar satu sama lain, kita bekerjasama. Anak-anak harus diajarkan untuk mau berbagi. Jika ini sudah dibiasakan hasilnya kelak akan baik. Indonesia siap bersaing secara global? Tentu! Jurnalistik juga ide yang baik untuk masuk dalam kompetisi global karena jurnalis banyak menemukan hal-hal baru, “ ujar Maya.
 
Perempuan berusia 42 tahun ini fasih berbahasa Indonesia; hanya sesekali ia ber bahasa Inggris jika ada kata-kata atau kalimat tertentu yang sulit ia cari padanannya dalam bahasa Indonesia.  
 
Ia memutuskan menjadi guru pada usia 18 tahun, dimulai ketika bekerja paruh waktu sepulang sekolah. Sejak itulah ia mantap ingin jadi menjadi pengajar.
 
“Satu-satunya pekerjaan yang paling membahagiakan adalah bekerja paruh waktu sepulang sekolah, ada program dengan anak-anak SD dan SMP. Lalu saya merasa itu kesempatan yang bagus untuk belajar sekaligus menciptakan hubungan. Berada diantara anak-anak kecil itu membuat saya happy,” kenang Maya dalam sesi wawancara khusus dengan wartawan.
 
Sebelum berpisah, Maya bilang ingin menjadi ibu yang lebih baik untuk kedua putrinya.
 
“Saya ingin membawa mereka lebih sering ke Yogyakarta dan Semarang, ke pasar burung, main pingpong dan badminton. Saya juga ceritakan pada mereka soal Menteng Dalam (daerah tempat Maya, Obama, dan kedua orangtuanya tinggal di Jakarta), ada suara azan pagi-pagi. Saya selalu mencoba bicara dalam bahasa Indonesia meskipun mereka tidak mengerti,” ungkapnya kepada wartawan.  
 
Maya Soetoro-Ng berada di Indonesia selama 4 hari. Selain diskusi di Pusat Kebudayaan Amerika, ia sempat mengunjungi sebuah pesantren dan ke Bekasi. Rabu ia akan bertolak ke Kuala Lumpur untuk bicara soal pendidikan global. Seterusnya ia akan kembali ke Amerika Serikat, untuk mendukung kampanye pra-pemilu bagi Barack Obama.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply