Masyarakat Aceh Kutuk Sabotase Listrik

BANDA ACEH – Aksi penumbangan tower transmisi listrik interkoneksi Sumut-Aceh di kawasan Desa Matang Sijuek Barat, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara, Sabtu (7/1) malam memunculkan reaksi dan kemarahan luar biasa masyarakat daerah ini. “Benar-benar keji dan keterlaluan,” begitu rata-rata komentar yang diterima Serambi hampir sepanjang hari kemarin.

Seperti diketahui, tower PLN Nomor 354 di Desa Matang Sijuek Barat, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara diketahui roboh menjelang subuh kemarin. Tower transmisi yang menyuplai arus listrik ke kawasan pantai timur-utara Aceh hingga ke wilayah tengah dan Banda Aceh itu digergaji oleh komplotan yang belum diketahui, diperkirakan menjelang tengah malam, Sabtu (7/1).

Dampak robohnya tower 354 tersebut, suplai arus listrik ke Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, Bireuen, Pidie Jaya, Pidie, Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Besar, dan Kota Banda Aceh putus. Kalaupun hingga tadi malam listrik tetap menyala, pasokan arus bersumber dari pembangkit sektor di masing-masing kabupaten/kota yang kehandalannya semakin berkurang, bahkan kapasitasnya pas-pasan.

Di tengah upaya PLN mengatasi persoalan yang terjadi, ternyata reaksi masyarakat yang mengutuk aksi penumbangan tower tersebut tak terbendung. Hampir sepanjang hari kemarin puluhan masyarakat dari berbagai wilayah Aceh menelepon Serambi sambil meluapkan kemarahan terhadap pelaku yang mereka nilai sangat keji dan keterlaluan. Tak sedikit pula yang meluapkan kemarahan melalui account facebook serambinews.com.

“Kami sangat berkeinginan melihat polisi membekuk pelaku penumbangan tower itu dan memberikan hukuman seberat-beratnya karena aksi yang dilakukan nyata-nyata telah mengganggu kepentingan umum dalam jumlah yang besar,” kata seorang penelepon yang mengaku dari Pidie.

Seorang penelepon lainnya mengibaratkan pelaku sebagai orang berantena pendek sehingga tak tahu kalau yang dilakukan itu sangat merugikan semua pihak.

“Dalam perang sekalipun para pihak yang terlibat perang berusaha menjaga agar fasilitas-fasilitas strategis seperti listrik dan telekomunikasi tidak menjadi target serangan karena itu akan bermanfaat untuk mereka juga. Tetapi yang herannya, ada yang tega menumbangkan tower untuk target yang tidak jelas, kecuali mendapat caci maki dan kutukan dari masyarakat,” kata Syahrial Hamzah, seorang penelepon yang mengaku dari Bireuen. Komentar juga disampaikan melalui account facebook serambinews.com

Digergaji

Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE melalui Kasat Reskrim, AKP Marzuki kepada Serambi menyebutkan, pihaknya turun ke lokasi tower yang dirobohkan itu sekitar pukul 02.30 WIB, Minggu (8/1).

Di lokasi polisi menyita sejumlah barang bukti seperti oli, kaleng sprite, dan gergaji. “Kami menduga pelaku menyiramkan sprite ke besi lalu dilumuri oli sehingga kekuatan besi melemah lalu menggergajinya,” kata AKP Marzuki.

Menurut Marzuki, berdasarkan analisa jejak tapak kaki di lokasi kejadian, pelaku diduga berjumlah lima orang. “Motif pelaku memotong tower ini belum kita ketahui. Semoga pelakunya bisa segera tertangkap,” pungkas AKP Marzuki.

Di lokasi kejadian pada siang kemarin, selain aparat kepolisian juga terlihat Kepala PLN Ranting Lhoksukon Zulfitri, Supervisor Pemeliharaan Jaringan Unit Pelayanan Transimisi (UPT) Banda Aceh dan Transimisi Gardu Induk Langsa, Hermawan.

Manajer PLN Area Lhokseumawe, Defiar Anis mengatakan, pihaknya telah melakukan sejumlah langkah darurat seperti mengoperasikan genset cadangan di Bayu, Cot Trieng, Sigli, dan sejumlah lokasi lainnya.

Sedangkan untuk proses perbaikan, telah didatangkan tower emergency dan diperkirakan dalam sepekan ke depan tower permanen sudah siap dan bisa kembali mengalirkan arus. | sumber: serambinews.com

  • Uncategorized

Leave a Reply