Masjid Bujang Salim Krueng Geukuh mengadopsi Baiturrahman Banda Aceh

MASJID Besar Bujang Salim, Krueng Geukueh, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, didirikan pada tahun 1923. Pembangunan masjid ini dirintis oleh Teuku Rhi Budjang Selamat, salah seorang putra Ulee Balang dari Nisam, Aceh Utara. Saat itu, luas masjid ini hanya 12 x 10 meter di atas tanah yang diwakafkan oleh Budjang Selamat.

Dalam perkembangannya, masjid tersebut sudah tiga kali direnovasi, dari ukuran 12 x 10 meter, diperluas menjadi 20 x 15 meter. Pada tahun 1980 diperluas lagi menjadi 50 x 30 meter dengan menambah teras depan serta samping kiri dan kanan.

Bentuk bangunan Masjid Bujang Salim diadopsi dari Masjid Raya (Besar) Baiturrahman, Banda Aceh. Hal tersebut berdasarkan saran masyarakat pada masa itu. Sebelum direnovasi, terlebih dahulu diminta pendapat masyarakat melalui kotak saran yang ditempatkan di masjid dan beberapa tempat lainnya.

“Banyak masyarakat meminta masjid ini dibangun seperti Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Bahkan, sebagian tukang (pekerja) bangunan masjid ini juga orang yang sama mengerjakan bangunan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh,” ujar Ketua Pengurus Harian Badan Kemakmuran Masjid Besar Bujang Salim, Tgk. Jalaluddin H. Ibrahim didampingi sekretarisnya, H. T. Syamsul Bardi H. Abbas ditemui ATJEHPOSTcom, Selasa, 23 April 2013.

Hasil musyawarah seluruh mukim dan geuchik dalam Kecamatan Dewantara bersama pimpinan BUMN seperti PT. AAF dan PT. PIM, Masjid Bujang Salim kembali direnovasi untuk memperluas bangunan menjadi 95 x 80 meter pada tahun 1996. Saat ini masjid tersebut salah satu masjid terbesar di Aceh Utara yang memiliki kapasitas lebih 2.500 jemaah.

Pembangunan masjid tersebut mengabiskan dana lebih Rp15 miliar. Dana tersebut, kata Tgk. Jalaluddin, berasal dari bantuan swadaya masyarakat dan  PT. AAF, PT. PIM, PT. Arun, Pemda Aceh Utara serta Pemerintah Aceh. Dulu, ketua panitia pelaksana pembangunan masjid ini adalah (almarhum) H. Abu Bakar Bin Pang Risyad.

Selain sebagai tempat menunaikan salat lima waktu dan salat Jumat, Masjid Bujang Besar Salim juga digunakan untuk pengajian rutin atau majelis ta’lim. Di antaranya, setiap malam Senin setelah Magrib diadakan pengajian umum yang diasuh oleh Waled Jalaluddin, kemudian usai salat Isya ada pengajian di bawah asuhan Tgk. Efendi.

Senin malam atau malam Selasa libur, karena pengurus masjid ini mengikuti pengajian di tempat Tgk. H. Mustafa Ahmad atau Abu Paloh Gadeng, Pimpinan Dayah Paloh Gadeng, Dewantara, yang juga Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Utara.

Selasa malam atau malam Rabu, pengajian usai Isya yang diasuh oleh Tgk. Hasanuddin. Rabu malam usai Magrib pengajian diasuh Waled Jalaluddin, usai Isya diasuh Tgk. H. M. Yunus. Kamis malam usai Isya pengajian diasuh oleh Tgk. H. Isa Ahmadi. Sedangkan malam Sabtu libur. Lalu setiap malam Minggu, pengajian khusus di bawah asuhan ulama besar ulama besar Abu Tumin dan Abu Samalanga. Selain itu, setiap malam kedua di awal bulan juga diisi pengajian oleh Abu Paloh Gadeng.

Selain pengajian-pengajian tersebut juga ada majelis ta’lim dari kelompok pemuda dari kawasan sekitar Masjid Bujang Besar Salim, juga kelompok pengajian kaum ibu yang diasuh oleh Imum Chik Masjid, Tgk. Zainuddin Basyah. Ada pula Tempat Pengajian Anak (TPA) di bawah asuhan Hj. Aisyah Puteh yang melakukan aktifitas pengajian setiap Senin sampai Sabtu usai salat Ashar.

Di masjid tersebut selain Tgk. Zainuddin Basyah sebagai Imum Chik Masjid, juga ada dua imum tetap lainnya atau imum rawatib yaitu Tgk. Samsul Ismail dan Tgk. Zulkifli Hanafiah.

Masjid Besar Bujang Salim saat ini memperoleh sumbangan dari berbagai kalangan dan masyarakat, baik berupa dana maupun material bangunan seperti semen, yang kemudian dipergunakan untuk memperbaiki kerusakan lantai tempat wudhuk dan lainnya.

Juga memperoleh dana dari PT. PIM yang berada tidak jauh dari masjid tersebut. Saat ini, kata T. Syamsul Bardi, perusahaan pupuk tersebut masih mensubsidi biaya rekening listrik Rp5 juta per tahun. Listrik yang harus ditanggung masjid itu rata-rata Rp3 juta sampai Rp3,5 juta per bulan.

“Dulu di era kejayaan PT Asean Aceh Fertilizer, perusahaan itu ikut membantu pembangunan masjid tersebut. Bahkan AAF membatu hampir 60 persen,” ujar T. Syamsul Bardi.

Pada awal tahun 2013 lalu, Masjid Besar Bujang Salim mendapat bantuan genset otomatis berukuran besar dari Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf atau Mualem. Mulanya, saat Mualem sedang i’tikaf dalam masjid tersebut usai Magrib, tiba-tiba listrik padam.

“Kemudian beliau bertanya apakah di masjid ini tidak ada genset. Saat itu masjid ini memiliki genset manual yang hanya bisa dihidupkan oleh orang tertentu. Berdasarkan pengalamannya tersebut, sebulan kemudian Mualem menyumbangkan satu genset otomatis,” ujar T. Syamsul Bardi.

Menurut pengurus masjid ini, pada tahun 2009 Masjid Bujang Salim memperoleh bantuan dana sekitar Rp6,8 miliar. Tahun 2010 dan 2011 hampir Rp7,5 miliar, sedangkan tahun 2012 lalu, masjid itu memperoleh lebih dari Rp10 miliar. Dana  digunakan untuk keperluan membayar listrik, merehab bangunan seperti lantai, tempat wudhuk, toilet, mengganti bola lampu, membeli peralatan yang rusak, biaya pengajian termasuk uang jerih teungku pengasuh serta segala biaya operasional para pengurus.

Pengurus Masjid Besar Bujang Salim periode 2012-2017

Penasehat:
Muspika Kecamatan Dewantara
Tgk. H. Mustafa H. Ahmad
Kepala KUA Kecamatan Dewantara
Imum Mukim Krueng Geukuh, H. Abubakar Abas, H. Yasin H. Ishak dan H. Azahari H. Cut SE.

Pembina:
Tgk. Zainuddin Basyah (Imum Chik)
Tgk. H. Syamsul Bahri HG, SH (Wakil Imum Chik)

Pengurus Harian:
 Tgk. Jalaluddin H. Ibrahim (Ketua)
Tgk. Amiruddin (Wakil Ketua)
H. T. Syamsul Bardi H. Abbas (Sekretaris)
Tgk. Edi Saputra (Wakil Sekretaris)
H. Muslem H. Hasan (Bendahara)
H. Ramli Daud (Wakil Bendahara).[](iip)

  • Uncategorized

Leave a Reply