Mapesa Gotong Royong di Komplek Makam Meurah Je’e

MASYARAKAT Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) mengadakan meuseuraya atau gotong royong di Komplek Makam Meurah Je'e di Gampoeng Lamblang Tring, kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Minggu 7 Desember 2014.

Informasi yang diperoleh Atjehpost.co, komplek makam ini berada di sebidang tanah yang luasnya lebih dari 300 meter, berupa gundukan yang tingginya hampir 3 meter dari permukaan tanah sekitarnya, dan dikelilingi oleh  parit. Tampak gundukan itu adalah buatan yang dikhususkan untuk penguburan tokoh-tokoh penting Kerajaan Aceh.

Sebagian besar nisan di komplek ini telah jatuh, bahkan beberapa nisan  ada yang terbenam dan sebagaian lainnya ada juga yang sudah patah. Beberapa nisan yang jatuh itu ada yang berukuran besar yang tIngginya mencapai 130 meter.

Nisan-nisan tersebut dipadati oleh ragam ornamen hiasan serta tulisan-tulisan kaligrafi Arab yang indah. Nisan-nisan di komplek Makam  Meurah Je'e ini bertipologi Aceh Darussalan berasal dari periode penghujung abad 16 Masehi.

“Meuseuraya pada komplek makam ini belum selesai dan akan kita lanjutkan minggu depan, mengingat ada beberapa nisan lagi yang belum kita perbaiki letaknya. Namun seluruh nisan yang berukuran besar sudah kita angkat untuk ditata selayaknya makam, dengan dibantu oleh belasan masyarakat,” ujar Sekretaris Mapesa, Mizuar Mahdi, kepada Atjehpost.co, Minggu 7 Desember 2014.

Hal yang paling unik, kata Mizuar Mahdi lagi, adanya sebuah tanda atau simbol yang diukir pada bagian bawah dalam satu nisan. Simbol ini berbentuk garis bundar dengan tanda silang di dalamnya.
“Sejauh ini baru pertama kali kita temukan simbol yang terpahat pada bagian bawah yang dibenamkan ke dalam tanah, kita belum tahu maksud dari pemahatan simbol tersebut. Kita  berharap kepada peneliti untuk mengkaji hal ini dengan didukung berbagai kepustakaan bukan hanya interpretasi bebas,” ujar Muzuar.

Sementara itu, Edi Arahman, pemuda gampong Lamblang Trieng, mengatakan  di gampong ini ada sejumlah lokasi situs lainnya peninggalan Kerajaan Aceh Darussalam abad ke 16 Masehi.

“Ini membuktikan secara tegas bahwa zaman Kerajaan Aceh Darussalam itu besar Dan kehidupan budaya serta ilmu pengetahuannya sangat dinamis,” ujar edi yang juga pengurus Mapesa.

Ia berharap pemerintah dan masyarakat ikut berpartisipasi dalam melestarikan peninggalan sejarah yang bernilai ini agar dapat disaksikan secara berkelanjutan oleh generasi-generasi berikutnya.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply