Mal’a Ulu

Mal’a Ulu

Apa jadinya jika bagian anggota tubuh dijadikan idiom. Inilah yang terjadi pada bahasa Devayan di Simeulue.

Sebut saja misalnya ulu yang berarti kepala. Berkaitan dengan ulu ini, ada idiom dalam bahasa Devayan yaitu mal’a ulu, artinya keras kepala. Sebagaimana idiom keras kepala dalam bahasa Indonesia mal’a ulu juga digunakan untuk menyatakan orang yang tidak mau menuruti nasihat.

Berkaitan dengan muka, ada pula idiom aduon muko, yang artinya tidak punya muka. Idiom ini dipakai untuk menyatakan bahwa seseorang merasa malu karena sesuatu. Jadi, makna idiom aduon muko ini bukan ‘tidak punya malu’, melainkan sebaliknya, yaitu merasa malu.

Selain aduon muko, ada mansem muko. Makian ini untuk orang yang sering bermasam muka. Penggunaan makian ini dalam kali­mat, misalnya Sasara-falal mansem muko-ne u-enak ‘Seharian saya lihat cemberut sekali dia.’

Dalam bahasa Devayan juga ada idiom yang berkaitan dengan mulut. Idiom yang dimaksud adalah avorat fakba yang berarti berat mulut. Idiom ini digunakan untuk mengungkapkan ketidaktegaan seseorang akan sesuatu. Penggunaan idiom ini dalam kali­mat, misalnya Avorat fakbang o mang-ahan masalah  sok-ede mek ise ‘Tidak tega saya menyampaikan masalah itu  kepadanya’.

Berat mulut dalam bahasa Indonesia adalah idiom. Akan tetapi, maknanya tentu saja berbeda dengan avorat fakba. Dalam bahasa Indonesia berat mulut bermakna pendiam.

Berkaitan dengan bibir, bahasa Devayan juga punya idiom, salah satunya atare-tare bevel ‘panjang-panjang bibir’. Idiom ini dipakai untuk orang yang suka memecah belah. Dalam bahasa Indonesia idiom ini berpadanan dengan mengadu domba.

Untuk urusan perut, bahasa Devayan punya idiom atare vessel ‘panjang perut’. Idiom ini ditujukan untuk orang yang rakus. Selain itu ada juga a-vesel-an ‘berperutan’. Makna idiom ini adalah hamil. Namun, Monita dalam hasil penelitiannya (2012) menyebutkan bahwa idiom ini termasuk ungkapan kasar. Artinya, ungkapan tersebut khusus dipakai untuk wanita yang hamil di luar nikah.

Idiom a-vesel-an bermakna sama dengan idiom mansinadek. Perbedaannya adalah pada penggunaannya. Idiom a-vesel-an meru­pakan ungkapan kasar dan seharusnya dipakai untuk binatang, sedangkan mansinadek meru­pakan ungkapan halus dan lebih lazim digunakan untuk manusia (wanita hamil setelah menikah).[]

*Maklumat: substansi berupa data kebahasaan, contoh kali­mat, dan beberapa redaksi kali­mat dalam tulisan ini sepenuhnya dikutip dari hasil penelitian Asma Monita (2012), “Idiom dalam Bahasa Devayan”.

Leave a Reply