Mahasiswa Aceh di Semarang sesalkan alihfungsi gedung PDIA

MAHASISWA Aceh di Semarang menyesalkan beralihfungsinya gedung Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh menjadi ruang kuliah Fakultas Kedokteran Gigi Unsyiah. Hal tersebut disampaikan Mujiburahman, mahasiswa S-2 asal Aceh yang kini mengenyam pendidikan Pasca Sarjana di Universitas Diponegoro, Semarang, kepada ATJEHPOSTcom, Jumat, 27 September 2013.

"Saya sangat menyesali dan menyayangkan itu. Padahal itu sebuah ide besar dari Almarhum Prof Dr Ibrahim Alfian untuk menjadikan PDIA sebagai pusat dan media pembelajaran sejarah untuk generasi Aceh masa depan," katanya.

Dia mengatakan sudah pernah menyorot kebijakan tersebut beberapa waktu lalu. Namun, kata dia, pihak universitas sama sekali tidak menggubrisnya. "Ini harus disikapi bersama dan dibawa ke ranah hukum," ujarnya.

Dia mengatakan secara statuta, pengalihan bangunan PDIA menjadi ruang kuliah untuk Unsyiah saja sudah bermasalah. "Mahasiswa dan masyarakat pecinta sejarah di Aceh harus memperjuangkan keberadaan PDIA," tuturnya.

Untuk diketahui, PDIA merupakan salah satu badan mandiri hasil kerjasama Pemerintah Aceh dengan Universitas Syiah Kuala. Berdasarkan statuta tertanggal 26 Juli 1978, lembaga ini dibentuk sejak 1975 melalui Surat Keputusan Gubernur Aceh Nomor 062/423/78 dan Surat Keputusan Unsyiah Nomor 82/1978.

Sebelumnya diberitakan, Gubernur Aceh dan Rektor Universitas Syiah Kuala diminta untuk menyelamatkan Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Hal tersebut disampaikan Ketua Kaukus Penyelamat PDIA, Thayeb Loh Angen kepada ATJEHPOSTcom, Jumat, 27 September 2013.

"PDIA selama ini berfungsi sebagai sumber data berbentuk buku dan gambar (foto). Seharusnya gedung seperti itu (museum, pustaka) kita perbanyak bukan malah dikurangi," ujarnya.[](bna)

Download Statuta PDIA pada tautan di bawah ini:

Statuta pendirian Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh.pdf

  • Uncategorized

Leave a Reply