Mahasiswa Aceh di Jakarta Desak Polisi Bebaskan Koordinator Demo PT Arun

IKATAN Mahasiswa Pasca Sarjana Aceh (IMPAS) Jakarta mendesak Kapolres Lhokseumawe Provinsi Aceh untuk membebaskan Tri Juanda. Ia merupakan Koordinator Aksi masyarakat Eks Blang Lancang dan Rencong yang memperjuangkan relokasi 542 korban pembangunan kilang LNG Arun yang belum tuntas.

"Kami menyesalkan penangkapan dan penahanan paksa koordinator aksi damai Tri Juanda oleh anggota Polres Lhokseumawe. Ini menunjukkan pihak kepolisian tidak memiliki sanse of crisis terhadap korban penggusuran yang sudah puluhan tahun menuntut keadilan," ujar Sekretaris Jenderal, Ikatan Mahasiswa Pasca Sarjana Aceh (IMPAS) Jakarta, Muntasir Pasai melalui siaran pers kepada ATJEHPOST.co, Kamis, 30 Oktober 2014.

Ia mengatakan seharusnya kepolisian ikut menjamin dan memberikan rasa aman kepada masyarakat untuk menuntut keadilan dan menyampaikan pendapat di muka umum. Namun menurutnya yang dilakukan polisi malah sebaliknya yaitu menangkap dan menahan paksa koordinator aksi untuk mengagalkan masyarakat menuntut keadilan.

"Tindakan represif yang diilakukan pihak kepolisian telah merampas hak-hak rakyat dan kebebasan penyampaian pendapat di muka umum yang merupakan hak setiap Warga Negara Indonesia, yang telah dijamin serta dilindungi oleh konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," katanya.

Ia menilai penangkapan tersebut patut diduga sebagai bentuk pembukaman demokrasi yang sedang berlangsung di Indonesia, khususnya Kota Lhokseumawe. Ada tiga poin yang dituntut IMPAS menyikapi penahanan koordinator aksi tersebut.

Pertama, IMPAS mendesak Kapolres Lhokseumawe agar segera membebaskan Tri Juanda, koordinator aksi demonstrasi yang sudah tiga hari ditahan di Mapolres Lhokseumawe. Kedua, katanya, Kapolri Jenderal Sutarman diminta untuk mengevaluasi Kapolres Lhokseumawe akibat kelalaian dalam memberikan rasa aman terhadap penyampaian pendapat di muka umum. Menurutnya kelalaian tersebut telah menyebabkan terbukanya peluang terjadinya aksi anarkisme yang tidak diharapkan.

Selain itu, IMPAS juga mendesak Wali Kota Lhokseumawe, Gubernur Aceh, DPRK dan DPRA untuk turun tangan membantu masyarakat mendapatkan keadilan dan kepastian hukum, terhadap hak-hak masyarakat yang belum dipenuhi oleh PT. Arun, LNG.

"Apabila Kapolres Lhokseumawe tetap menahan koordinator aksi damai Tri Juanda dengan alasan diduga telah melakukan tindakan pengrusakan pagar PT. Arun, atas nama keadilan mahasiswa dan masyarakat sipil di Jakarta akan menggelar aksi simpatik untuk mengumpulkan koin ganti rugi pagar PT. Arun NGL dan sumbangan untuk Kapolres Lhokseumawe agar bekerja profesional," katanya.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply