Lomba Gerakan Sayang Ibu di Lhokseumawe, Ada Timphan hingga Kemenyan

LHOKSEUMAWE – Puluhan ibu, semuanya bergaun batik warna kuning kecoklatan. Mereka berbaris di belakang meja yang sesak dengan berbagai barang. Ada juga sejumlah pria berkemeja batik, terasing di sudut ruangan.

Siang itu, Senin, 4 Juni 2012, di lantai dua meunasah Desa Uteun Bayi, Banda Sakti, Lhokseumawe, puluhan kaum ibu itu tengah “unjuk gigi” kepada tim penilai Gerakan Sayang Ibu Kota Lhokseumawe.

“Nyoe timphan asoe kaya, kon asoe u (ini timpan srikaya, isinya bukan kelapa),” kata seorang ibu mempromosikan kue tradisional Aceh.

Selain timphan, di meja dekat pintu masuk ruangan itu ada bingkang, dodol, dan kue basah lainnya. Di samping makanan itu ada bunga hiasan, jilbab, dan bakal baju.

Di meja lainnya, ada sayur-mayur, telur, susu, juga timbangan bayi dan boneka bayi. “On bayam, boh reuteuk, boh pik, boh tomat, boh jagong dan boh putek muda (bayam, kacang panjang, gambas, tomat, jagung dan pepaya muda) ini sebagai tanda kebun gizi,” kata seorang ibu lainnya.

Di meja satu lagi, ada kain kafan, kapas, ramuan-ramuan seperti kapur barus, kayu cendana, jeruk puruk, sabun, minyak wangi, bunga dan kemenyan. “Ini bahan-bahan untuk pengurusan jenazah,” kata ibu yang menjaga meja itu.

“Bahan pengurusan jenazah dan kue-kue, bunga hiasan, pakaian bordir hasil kerajinan tangan itu sebagai nilai tambah dari program Gerakan Syang Ibu yang kita miliki,” kata Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Uteun Bayi, Fadriah kepada The Atjeh Post.

Hal penting yang ditunjukkan oleh PKK dalam lomba Gerakan Sayang Ibu, kata Fadriah, adalah sarana-prasarana dan kepedulian masyarakat terhadap ibu hamil. “Kita punya struktur organisasi, kelompok kerja dan satuan tugas ibu hamil, suami siaga, apotik hidup, kelengkapan administrasi, juga sarana kesehatan seperti ambulan dan becak siaga,” katanya.

“Saat lomba Gerakan Sayang Ibu tingkat Kota Lhokseumawe tahun 2009, kita dari Desa Uteun Bayi berhasil meraih juara dua, tahun ini kita harapkan memperoleh prestasi lebih baik lagi,” kata Fadriah.

Ketua Tim Penggerak PKK Kota Lhokseumawe Ny Alia Arifin Abdullah menyebutkan Desa Uteun Bayi ialah desa yang mewakili Kecamatan Banda Sakti sebagai salah satu peserta lomba Gerakan Sayang Ibu tingkat Pemko Lhokseumawe tahun 2012.

“Tiap kecamatan ada satu desa yang jadi peserta. Dan, yang jadi juara pertama akan mewakili Kota Lhokseumawe mengikuti lomba Gerakan Sayang Ibu tingkat Provinsi Aceh nantinya,” kata Alia.

Fokus penilaian, Alia melanjutkan, tentang kepedulian tokoh masyarakat dan para pemuda terhadap kaum ibu. Selain itu kebun gizi di setiap rumah ibu hamil, tabungan ibu bersalin.

“Paling utama, kesiapan suami dan partisipasi semua lapisan masyarakat untuk kaum ibu. Termasuk ada atau tidak data calon pendonor darah yang suatu waktu dibutuhkan untuk ibu melahirkan,” kata Alia.

Alia bilang, timphan dan kemenyan yang ikut dipamerkan oleh kaum ibu Tim Penggerak PKK Desa Uteun Bayi pada acara itu hanya sebagai bahan pendukung dari kegiatan lomba.

Adanya timphan, kata Alia, menunjukkan kaum ibu desa itu masih bisa membuat kue tradisional Aceh. Begitu juga dengan kemenyan dan ramuan lainnya, pertanda mereka bisa mengurus jenazah.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply