Lebaran di Aceh, Jokowi Ingin Rangkul Umat Islam?

Lebaran di Aceh, Jokowi Ingin Rangkul Umat Islam?

BUKAN suatu yang baru pemimpin-pemimpin level nasional datang ke Aceh untuk ambil “berkah” dalam isu-isu Islam dan kepentingan kekuasaan. Barangkali, ini karena Aceh tanoh para aulia yang adalah satu-satunya wilayah yang tidak pernah berhasil ditundukkan sepenuhnya oleh penjajah Belanda. Lebih dari itu, tidak bisa dipungkiri juga, Aceh adalah satu-satunya Provinsi yang selalu menampilkan budaya khas sendiri yang Islami dan berbeda dari  wilayah lainnya. Plus, catatan sejarah bahwa Aceh adalah pintu gerbang masuk Islam ke Nusantara.

Ketika mengalami goncangan dalam mendirikan negara, Soekarno datang ke Aceh mengambil berkah. Seokarno menjumpai para ulama dan sekaligus meminta modal untuk republik ini. Menangis di depan ulama dan meminta dukungan ulama untuk penguatan Republik. Ulama Aceh langsung luluh. Bukan hanya mendo’akan, bahkan rakyat Aceh dari kantong sendiri menyumbang dua pesawat sebagai modal bagi Republik.  Ya, walau kemudian Soekarno mengkhianati sepenuhnya kepercayaan rakyat Aceh. Tuntutan syari’at Islam yang diminta rakyat Aceh, namun ide Nasionlis komunis (Nasakom) yang diberikan Soekarno kepada republik sehingga menyebabkan negara dalam distabilitas.

Dan kini, upaya mendekat dan merangkul umat Islam dan masyarkat Aceh dilanjutkan oleh Jokowi, Presiden Indonesia. Presiden Jokowi dikabarkan akan merayakan lebaran Hari Raya Idul Fitri di Aceh, sebagaimana diberitakan Harian Serambi Indonesia, (14/7). Tentu saja, ini sebuah tindakan baik yang perlu diapresiasi oleh rakyat Aceh disatu sisi. Kendati demikian, di sisi lain, rakyat Aceh  harus manfaatkan kehadiran Jokowi untuk selamatkan Indonesia, bukan hanya untuk sisi keuntungan bagi Aceh. Apalagi jika kehadiraan Jokowi ke Aceh hanya semata menguntungkan Jokowi dari segi citra.

Secara tersurat, memang tidak ada alasan khusus ‎Jokowi memilih Aceh sebagai tempat pertama dirinya merayakan Idul Fitri, sejak menjabat Presiden RI sebagaimana disampikan Teten Masduki, Liputan6.com, [15/7].

“Enggak ada (alasan khusus). Malah tadinya kan ini ada 2 pilihan, antara Aceh atau Padang (Sumatera Barat), tapi Presiden akhirnya memilih Aceh,” kata dia. Menurut Teten, tidak hanya Idul Fitri, saat Natal, Jokowi juga memilih Papua sebagai tempat perayaan Natal Nasional 2014.

Kekuasaan Jokowi mulai goyah?

Namun, dari keterangaan orang dekat Jokowi ini, saya menilai bahwa secara tersirat Jokowi memilih Aceh karena faktor keIslaman masyarakat Aceh, sebagimana Jokowi memilih Papua karena faktor kekuatan Kristen disana lebih kuat mungkin. Oleh sebab itu, dapatlah disimpulkan, bahwa lebaran Jokowi di Aceh adalah untuk mendekat dengan umat Islam karena dirasa Aceh adalah representasi kekuatan Islam yang solid di Indonesia.

Pemimpin manapun di negara-negara yang mayoritas umat Islam pasti akan selalu berjuang untuk mencari simpati dan mendekat dengan umat Islam dalam rangka memperkut posisi kepemimpinan mereka. Dan memang, sebuah kekuatan politik akan senantiasa membutuhkan dukungan besar dari rakyat, apalagi saat kepemimpinan seorang pemimpin sudah mulai goyah atau apoh apah dalam bahasa Aceh.

Lalu, benarkah kekuasaan Jokowi sudah mulai goyah? Bisa benar bisa tidak tentu saja. Tergantung dari sisi mana kita menganalisa peta politik nasional. Jika kita menganalis pernyataan Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono, tidak bisa dipungkiri bahwa kekuasaan Jokowi sudah mulai digoyahkan oleh internal mereka sendiri.

AM Hendropriyono sebagaimana dilansir Tribunnews.com, Kamis (10/7/2015), mengingatkan kepada Kepala BIN yang baru, Sutiyoso, untuk mengantisipasi krisis yang kemungkinan bisa saja terjadi seperti tahun 1987 lalu. Dikatakan kemungkinan krisis bisa saja terjadi pasca Hari Raya Idul Fitri atau saat perombakan kabinet. Krisis bisa juga terjadi saat pelaksanaan pilkada serentak.

“Kecenderungan krisis lagi hanya mungkin, jika terjadi adanya rush terhadap perbankan nasional. Kemudian demonstrasi besar di pusat dan di berbagai daerah. Selain itu indikasi ekonomi kita yang melambat, antara lain terlihat dari nilai transaksi yang sampai drop 18 persen. Ada 17 pabrik sarung Majalaya yang tutup, karena tidak mampu lagi beli bahan baku impornya,” ungkap Hendropriyono.

Ini artinya, diam-diam sedang terjadi kondisi yang mengkhawatirkan di level nasional yang diawali oleh karena kekisruhan faksi-faksi internal rezim yang berkuasa. Sebab,  sebagaimana disadari, AM Hendropriyono adalah orang dekat Jokowi sekaligus salah satu elit yang paling paham rahasia negara sehingga setiap statmennya mesti dianggap serius.

Momentum Aceh selamatkan negeri

Oleh sebab itu, isu dan momentum ini sudah seharusnya mendapat perhatiaan dari elit Aceh, sehingga bukan saja Jokowi akaan berhasil membangun citra mampu merangkul umat Islam, namun juga Aceh harus manfaatkan momentum ini untuk “selamatkan” republik. Elit-elit Aceh harus ingatkan Jokowi bahwaa negeri ini tidak bisa dibangun dengan hutang, karena hutang hanya akaan membuta kita semaakin menderita. Sudah cukup berhutang ke Cina, IMF dan sebagainya.

Hutang hanya akan memperbudak bangsa ini menjadi sapi perah bagi bangsa-bangsa lain yang kapitalistik. Kekuatan kapitalisme global, sesuai prinsipnya, tidak pernah berniat membangun sebuah negara. Negara kita hanya alat bagi mereka untuk menguras kekayaan bangsa kita. Yunani telah memberi bukti bagaimana mereka terseok-seok dalam ancaman kebangkrutan oleh sebab hutag negara. Jangan lagi berhutang supaya kita menjadi bangsa yang mandiri dan mampu menegakkan kepala sendiri di hadapan bangsa lain.

Lebih dari itu, secara geopolitik, umat Islam di berbagai negara mengalami penindasan dari rezim tiran. Dari umat Islam di Suriah, sampai Muslim Uighur di Cina. Sebagai negara dengan umat Islam terbesar di dunia, Indonesia seharusnya berada di garda terdepan dalam upaya mengdvokasi derita umat Islam. Elit-elit Aceh yang nanti sempat diskusi dengan Jokowi harus sampaikan ini, karena ini adalah peluang dakwah terbesar sekaligus akan menjadi pertanggung jawaban kita bangsa Aceh kelak di akhirat  ketika ditanya Malaikat apa yang sudah kita lakukan untuk selamatkan negeri ini dan untuk umat Islam lain.

Lebih dari itu, Jokowi-Jusuf Kalla cukup  banyak berjanji semasa Kampanye Pilpres atau janji pembangunan setelah mereka berdua terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Antara lain, janji Jokowi-JK Besarkan Pertamina Kalahkan Petronas dalam 5 Tahun, Janji Bangun 50 Ribu Puskesmas, janji Swasembada Pangan, janji membuat Bank Tani untuk Mengurangi Impor pangan, Janji Cetak 10 Juta Lapangan Kerja Jika Jadi Presiden, Janji Buka 3 Juta Lahan Pertanian, Jokowi Janji Batasi Bank Asing, janji menghentikan impor daging walapun kini justru semakin parah, janji menaikkan gaji guru, janji Sekolah gratis, janji membeli kembali Indosat, janji membangun industri maritim dan puluhan janji lainnya yang sampai saat ini masih bisa kita browsing di Google.

Dan khusus untuk konteks Aceh, ini adalah momentum untuk mendesak Jokowi selesikan berbagai turunan UU Pemerintahan Aceh, seperti RPP Migas, dan soal pelanggaran HAM dan sebagainya. Jika Jokowi berkomitmen akan penuhi tuntutan-tuntutan ini, silahkan Jokowi ambil berkah di Aceh. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Penulis adalah Teuku Zulkhairi, Ketua Senat Mahasiswa Pascasarjana IAIN r-Raniry periode 2010-2011. Email: abu.erbakaan@gmail.com

Leave a Reply