Kutukan APBA

Kutukan APBA

APBA terlambat, tender terlambat, realisasi terlambat, kontraktor bekerja buru-buru dan akhirnya APBA jadi Silpa. Tentang hal ini rasanya kita bosan membaca dan mendengar. Siklus ini terus-menerus sepanjang waktu di negeri kita.‎

Apa yang salah sehingga Pemerintah Aceh tidak bisa keluar dari siklus ini? Kutukan apa ini? Siapa yang salah? Bagaimana harus memperbaikinya?

Sepertinya ini kutukan, sehingga kita seperti menerima takdir. Tidak terelakkan dan tidak mampu kita tolak.

Bermacam analisa, bermacam hujatan, kritikan dan bermacam bantahan. Sepanjang waktu. Semua itu tidak juga mengubah keadaan.

Apakah kita terlalu bodoh, buta dan lemah? Sehingga terus berjalan di jalan yang sama. Bertemu di lubang yang sama dan jatuh selalu di lubang yang sama.

Saat ini sudah triwulan kedua. Tapi sedikitpun APBA belum menetes ke rakyat. Uang 12 triliun lebih masih terkunci rapat di kas Aceh. Rakyat melihat fatamorgana dalam kehausan. Padahal uang itu diharapkan menjadi stimulus utama pergerakan ekonomi Aceh.

Para pengambil kebijakan tahu tidak hal ini? Atau mereka merasa masih April 2014, belum April 2015.

Kenapa dengan pemimpin kita? Kenapa dengan para pejabat yang diamanatkan menjadi operator negeri kita.

Kemana nurani mereka? Seberapa kuat lutut mereka sehingga lecetpun tidak saat jatuh di lubang itu terus menerus. Ataukah mereka sengaja agar mereka selalu punya anggaran lebih. Karena SILPA umunya adalah anggaran publik.

Sedangkan anggaran aparatur selalu tak bersisa? Mereka mengambil honor, gaji, berbagai tunjangan dan biaya lainnya seperti perjalanan dinas. Belum lagi sebagian di antara mereka punya penghasilan ilegal dari utak-atik program dan anggaran.

Tapi lihatlah kinerja mereka! Kemana nurani mereka? Mengapa pemimpin kita membiarkan para pembantunya menganiaya rakyat. Menyengsarakan rakyat. Duhai pemimpin untuk inikah kami memilih Anda. Untuk mengambil dan mengabaikan hak hak kami. []

Leave a Reply