Krueng Meusegop, Desa ‘Serba Salah’ di Kabupaten Bireuen

Krueng Meusegop, Desa ‘Serba Salah’ di Kabupaten Bireuen

BIREUEN – Tidak banyak yang mengenal desa ini, namun bagi warga Samalanga, Krueng Meuseugop cukup punya nama. Karena di desa ini terdapat dua aliran sungai dari pegunungan yang airnya sangat jernih dan sejuk.

Dulu desa ini memiliki banyak tanaman buah seperti durian, timun, pisang dan lainnya. Sekarang semuanya berubah, desa yang secara geografis berbukit-bukit itu mulai ditanami sawit, karet dan pinang.

“Masyarakat di sini sekarang banyak yang menjadi penjaga ternak orang,”kata salah seorang warga setempat, M. Din, kepada portalsatu.com di Simpang Mamplam, Bireuen, Sabtu, 6 Juni 2015.

Selama beberapa kali penulis berkunjung ke Krueng Meuseugop, secara fisik tidak mengalami perubahan apa-apa. Jalan utama yang menjadi akses warga desa hanya setengahnya saja yang teraspal dari Simpang Mamplam. Menurut Din, kabarnya jalan tersebut akan diaspal tahun 2015 ini. “Itu kabar yang beredar,” katanya.

krueng meuseugop-2 @joe

Bisa jadi, kata Din, jalan tersebut memang tidak diselesaikan dulu karena ada proyek perusahaan yang mengambil batu-batu besar untuk menimbun pantai.

“Kalau jalan itu selesai, warga akan melarang truk yang berkapasitas beratk masuk menginjak aspal,” ujarnya.

M. Din menceritakan perihal desanya sambil menunggu kerbaunya mandi di Krueng Dua, sebutan sungai kedua setelah krueng atau sungai di pusat desa yang bernama Krueng Meuseugop. Melewati Krueng Dua akan ditemui kawasan Blang Naleung yang menjadi daerah perkebunan sawit dan karet.

Setiap sore kata Din, banyak aktivitas petani yang memandikan kerbau dan sapi mereka di sungai itu. Warga juga menjadikan sungai untuk mencuci sepeda motor dan mandi.

“Daerah ke atas itu namanya Blang Naleung, kalau dulu di sanalah banyak pejuang Gerakan Aceh Merdeka berkumpul,” kata warga lainnya, Pak Nuh.

krueng meuseugop-3 @joe

Walau jalan menuju daerah Blang Naleung cukup lebar, namun tidak bisa dilintasi kendaraan roda empat, karena terhambat sungai. Namun, bisa dilalui bila air sungai sedang kering.

Desa Krueng Meusagop ini memiliki potensi yang besar. Namun entah mengapa sejak dulu desa ini sepertinya menjadi desa yang ‘serba salah’. Di daerah ini hanya tumbuh padi, namun sangat terbatas. Air melimpah, tapi sedikit produk pertanian yang dikembangkan. Masyarakat tercetus untuk mengajukan daerah ini sebagai kawasan memproduksi ikan air tawar.

Amatan portalsatu.com, pembuatan kolam ikan air tawar sudah dilakukan secara tradisional oleh warga, belum diketahui secara pasti berhasil atau tidak, namun usaha itu masih berjalan.

Masyarakat setempat mengeluhkan kurangnya perhatian pemerintah daerah pada desa ini. Apalagi sangat terbatas pejabat yang berkunjung ke sana. Sebelumnya, pada masa Bireuen dipimpin oleh Bupati Mustafa Glanggang, sempat tercetus wacana kawasan industri di Bireuen akan dikembangkan ke arah barat menuju Banda Aceh. Namun setelah Bireuen dipimpin Nurdin, pembangunan berbalik arah ke timur menuju Medan.

Sementara itu, niat menjadikan Krueng Meuseugop sebagai kawasan produktif tinggal kenangan. Dalam perjalanannya sedikit demi sedikit daerah di Krueng Meuseugop terus terkikis, bukit-bukitnya terus gundul karena dikeruk terus menerus. Kabarnya kekuasaan gampong membolehkan pengerukan tanah timbun untuk dijual keluar. Inilah yang menjadikan saban hari truk berlalu-lalang di desa ini. Desa yang masih ‘serba salah’ hingga kini.[]

Leave a Reply