Korban Pembacokan Sawang Bantah Ejek Ulama

Korban Pembacokan Sawang Bantah Ejek Ulama

LHOKSEUMAWE – Muhajir, korban pembacokan warga Jurong, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, membantah telah mengejek ulama di depan santri. Ia mengatakan dirinya menjadi korban lantaran ada salah seorang yang sangat berambisi memukulinya.

“Saya tidak tahu persoalan apa yang terjadi sehingga kejadian ini menimpa saya,” kata Muhajir saat ditemui di Rumah Sakit PMI Lhokseumawe kepada portalsatu.com, Sabtu, 27 Juni 2015.

Muhajir mengatakan pagi sebelum kejadian, dia pergi ke kebun dan baru pulang saat petang, Rabu, 24 Juni 2015. Sesampai di rumah, Nurmala, istri Muhajir menceritakan ada seorang pria berinisial IL mendatangi rumahnya. Pria tersebut merupakan penduduk Jurong dan menanyakan prihal Sulaiman kepadanya.

Nurmala mengatakan tidak ada nama Sulaiman di rumahnya kepada IL. Tapi, kata Muhajir, IL tidak percaya dan langsung memaki-maki istrinya.

Mendengar hal itu, Muhajir lantas menghubungi Kepala Dusun Cot Rawatu untuk menceritakan kejadian tersebut. Dia menyampaikan keberatannya atas tindakan IL yang memaki-maki istrinya di rumahnya sendiri.

“Jika saya langsung nanti bertanya kepada IL ujung-ujung pasti ribut,” ujar Muhajir.

Namun Rabu malam, 24 Juni 2015, IL kembali bersama rekannya seraya mengacung-acungkan sebilah parang kepada Muhajir. Korban mengatakan bukan warga yang membacok dirinya tetapi hanya IL dan salah satu rekannya.

“IL lah yang sangat berambisi dengan saya. Entah kenapa begitu saya tidak tahu,” ujar Muhajir.

Akibat kejadian ini, Muhajir terlibat perseteruan dengan IL yang berujung pada luka bacokan di tubuhnya. Selain itu, Muhajir juga terkena benda tumpul di mulutnya. Tak hanya itu, Nurmala turut terkena benda tumpul di matanya sehingga memar sampai saat ini.

Muhajir membantah dirinya mengejek ulama sebelum kejadian tersebut. Namun dia mengaku sempat menghampiri santri beberapa waktu lalu. “Kala itu saya dengan seorang teman melintasi tempat dimana santri itu mengaji,” katanya.

Di lokasi tersebut, Muhajir dan temannya melihat para santri sedang mencuci sepeda motor di tempat wudhu. Teman Muhajir kemudian menasehati para santri karena perbuatan mereka.

“Mereka orang berpendidikan tinggi, pastinya tahu enggak bagus mencuci kereta di tempat wudhu, dan ketika itu aman-aman saja tanpa ada percekcokan dengan mereka,” katanya.

Dia bersumpah tidak melakukan hal yang dituduhkan saat menjumpai para santri tersebut. “Jika pun saya mengatakan hal tersebut, mana buktinya? Kepada siapa saya megolok-olok itu. Itu fitnah yang sangat besar yang saya terima,” kata Muhajir.

Di sisi lain, Muhajir mengaku tidak pernah memiliki masalah dengan kelompok IL.

“Saya sangat menyesalkan apa yang telah dilakukan IL tanpa alasan yang jelas dan dengan ulah mereka itu sampai-sampai mata istri saya memar dan kini masih bengkak,” katanya.

Sementara itu, petugas medis di Rumah Sakit PMI Lhokseumawe mengatakan kondisi Muhajir sudah membaik. “Lukanya tersebut akan tetap dilakukan observsi lanjutan. Dua hari ke depan Muhajir sudah dibolehkan pulang,” kata petugas medis.

Sebelumnya diberitakan, sejumlah warga membakar satu unit rumah di Dusun Cot Rawatu, Desa Jurong Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Rabu malam 24 Juni 2015.

Rumah yang dibakar diketahui milik seorang pemuda berinisial SL. Sebelumnya, SL dan beberapa pemuda mengolok-olok beberapa ulama di depan santri yang sedang melakukan pengajian di kampungnya tersebut. Hal ini membuat massa marah dan meluapkan emosinya.

Informasi yang dihimpun Portalsatu.com, kejadian pembakaran tersebut terjadi, sekitar dua jam pasca pembacokan terhadap Muhajir, 27 tahun.

Abdul Aziz, Kepala Dusun Cot Rawatu, saat dihubungi portalsatu.com Jumat malam, mengatakan massa membakar rumah semi permanen ukuran 5×7 meter milik SL, 37 tahun, yang diduga sebagai otak pelaku dalam kejadian pengejekan terhadap beberapa ulama di daerah tersebut.

Abdul Aziz mengatakan, pada saat itu dirinya dengan aparat desa lainnya tidak dapat membendung emosi para masyarakat. Alhasil aksi pembakaran pun tak dapat terelakkan.

“Kami sudah melarang, tapi massa pada saat itu sudah naik pitam apa yang boleh dikatakan,” kata Abdul Aziz.

Abdul menambahkan, massa membakar rumah tersebut disebabkan SL yang ikut mengejek ulama tidak dapat berhasil diamankan oleh warga.

“Maka tak dapat orangnya, rumahnya pun dibakar massa. Pada saat itu tidak ada pemiliknya, istri SL pergi mencari nafkah. Sedangkan anaknya dititipkan tempat orang tuanya jadi pada saat kejadian pembakaran tidak memakan korban yang hanya rumah hangus dilalap api,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, Muhajir, 27 tahun, warga Desa Jurong, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, kritis dibacok oleh massa dari kampungnya sendiri di Dusun Cot Rawatu, Rabu malam, 24 Juni 2015, sekitar pukul 19.30 WIB.
Akibat pembacokan ini, Muhajir terpaksa dilarikan ke Puskesmas Muara Batu untuk mendapatkan pertolongan.

Menurut Informasi yang dihimpun portalsatu.com, penyebab peristiwa itu diduga karena sebelumnya ia mengolok-olok beberapa ulama di depan santri yang sedang melakukan pengajian di kampungnya tersebut. (Baca: Ejek Ulama, Seorang Pemuda Sawang Dibacok Massa).[](bna)

Foto: Ilustrasi

Leave a Reply