Kopi Keliling, Hidupkan Kantata Kopi

KOMPONIS klasik era Barok, Johann Sebastian Bach, pada 1734 membuat opera komedi singkat berjudul Kantata Kopi (Schweigt stille, plaudert nicht). Ceritanya tentang seorang gadis bernama Lieschen yang kecanduan kopi. Christian Friedrich Henrici, penulis kantata itu, menggambarkan kopi lebih manis daripada seribu ciuman, lebih ringan daripada minum anggur. "Jika saya tidak bisa minum secangkir kopi tiga kali sehari, saya akan mengerut seperti sepotong kambing panggang," kata Lieschen.

Ayah Lieschen, Schlendrian, berusaha menghentikan kecanduan putrinya. Ia mengancam tidak akan mencarikan jodoh untuk Lieschen jika sang putri tidak berhenti minum kopi. Hati gadis itu melunak. Tapi, ketika bertemu dengan jodohnya, Lieschen mengatakan harus mengizinkannya minum kopi lagi. Pada babak terakhir, ketiga karakter menyanyikan moral cerita itu, yaitu meminum kopi adalah hal yang lumrah.

Tiga abad setelah kantata itu dibuat, minum kopi masih menjadi aktivitas yang lazim dilakukan masyarakat sehari-hari. Konsumsinya tidak eksklusif di perkotaan yang memiliki gerai-gerai kopi waralaba internasional. Di pinggir Jalan Ulee Kareng, Banda Aceh, warung-warung kopi bertebaran dan selalu dipenuhi pengunjung.

Karena itu, tiga pemuda bernama Raymond Malvin, Arris Aprillo, dan Anggara Lukita alias Roget melakukan apa yang telah dilakukan Bach. Mereka menggabungkan seni dengan kopi lewat gerakan Kopi Keliling (Kopling). Tapi mereka tidak memakai musik klasik yang rumit, melainkan pameran seni, pergelaran musik, bincang seni, bincang kopi, dan aktivitas kreatif lainnya.

Komunitas ini awalnya terbentuk atas inisiatif Raymond, Arris, dan seorang teman. Mereka sering berkumpul sambil minum kopi. Kebetulan Arris juga memiliki kedai kopi di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, bernama That's Life Coffee. Kebiasaan minum kopi dan latar belakang mereka di bidang seni menggerakkan ide untuk menggabungkan keduanya.

Bukan tanpa alasan mereka memilih cara ini. "Ada korelasi seni dan kopi yang sangat identik di Indonesia," kata Raymond, 30 tahun. "Tapi keduanya kurang diapresiasi." Ia mengatakan kualitas kopi lokal salah satu yang terbaik di dunia. Varietasnya pun paling beragam. Tapi sayangnya, kekayaan tersebut tidak terlihat dari dalam. Malah orang luar yang lebih mengapresiasinya, seperti munculnya gerai kopi internasional dengan memakai nama Java, Gayo, atau Toraja.

Di bidang seni pun terjadi hal serupa. Banyak karya seniman lokal yang justru mendapatkan penghargaan di luar negeri. Hal ini terjadi, menurut Raymond, karena asumsi karya seni sebagai benda mahal dan eksklusif masih menjadi pemikiran awam di masyarakat. "Kami mau mendekatkan seni itu, seperti kopi yang bisa diminum sehari-hari," ujarnya.

Ketika memamerkan karya-karya orang-orang kreatif Indonesia, misalnya di Anomali Cafe Plaza Indonesia, Jakarta, pada awal Desember tahun lalu, Kopling menampilkan tema kopi. Seniman muda Monica Hapsari menggambarkan nasib para petani kopi di Sumatera melalui karya ilustrasinya. Mereka hidup miskin, sementara hasil pertaniannya dijual mahal ke luar negeri. Kondisi ini membuat kopi Sumatera berkualitas baik sulit ditemukan di dalam negeri.

Ilustrator Nugraha Pratama pernah menampilkan 8 Antologi (Kopi Tubruk) di Kopling. Ilustrasi delapan seri panel itu membahas keseharian Nugraha, yang biasa dipanggil Aga, bersama teman-temannya. Kopi tubruk menjadi cerita dan fantasi berbeda-beda pada setiap orang yang meminumnya. Misinya adalah memperkenalkan kopi tubruk secara global.

Roget, 28 tahun, menjadi salah satu pengunjung pertama Kopling pada Februari tahun lalu. Konsep pameran dan diskusi ketika itu, menurut dia, berbeda dengan yang biasa ia datangi. Suasananya lebih akrab sehingga orang betah berlama-lama di sana. Ia pun akhirnya tertarik untuk terlibat dengan komunitas ini, meskipun latar belakangnya jurnalistik.

Sejak Februari itu, Kopling telah lima kali menggelar pameran bertema kopi. Lokasinya selalu di kedai kopi lokal dengan konsep 70-80 tempat duduk. "Tapi yang datang selalu 200 orang lebih saat pembukaan pameran," kata Roget. Panitia menempatkan karya-karya seniman di dinding sekeliling tempat duduk. Pengunjung bisa menikmati karya itu sambil menikmati kopi kesukaannya.

Pengunjung juga bisa menggambar sendiri ilustrasi soal kopi melalui kertas dan pensil gambar yang disediakan panitia. Di tengah-tengah aktivitas itu, panitia akan memulai diskusi soal kopi dengan melibatkan para pakar dan penikmat kopi. Tentu saja ada hiburan musik band akustik untuk menambah suasana santai dan akrab selama pameran yang berlangsung sekitar dua minggu itu.

Kopling tidak terobsesi menggeser dominasi kedai kopi merek asing. "Kami bukan mengibarkan bendera perang," ujar Arris yang menyukai kopi Toraja. Paling tidak gerakan ini bisa mengubah pola pikir masyarakat. Misalnya, dengan datang ke acara Kopling, seseorang bisa pindah dari kopi kemasan ke tubruk. Atau, ia jadi tidak sekadar minum, tapi juga tahu cerita di balik pembuatannya, dari mana asal biji kopinya, dan apa jenisnya.

Selain itu, Kopling memperkenalkan kopi buatan petani lokal, seperti dari Mandailing, Gayo, dan Toraja sehingga semakin diterima di kedai-kedai kopi setempat. Sekarang anggota komunitas ini terus bertambah, tidak hanya dari kalangan seniman, tapi juga mahasiswa dan pekerja kantoran. "Gerakan kami terbuka untuk siapa pun," ujar Raymond. "Intinya, kami ingin berbagi soal kopi dan seni lokal dengan format lebih akrab." | sumber: tempo.co

  • Uncategorized

Leave a Reply