Konspirasi siluman jabatan

PELANTIKAN pejabat baru di Provinsi Aceh telah memantik kontroversi yang begitu luas. Andaikata hanya sebatas gesekan-gesekan antarkepentingan barangkali sudah jamak. Namun di Aceh muncul sesuatu yang luar biasa, sehingga menarik perhatian media selevel Harian Kompas yang mengupas pelantikan pejabat di Aceh selama dua hari berturut-turut di halaman pertama.

Kemarin, Harian Kompas menurunkan cerita soal Gubernur Aceh Zaini Abdullah yang melantik pejabat yang ternyata sudah almarhum. Hari ini, Harian Kompas menurunkan cerita soal seorang pejabat baru yang ditempatkan di Badan Dayah (pesantren) Aceh yang ternyata pernah diciduk polisi syariah lantaran berbuat mesum di sebuah salon di Banda Aceh.

Jelaslah topik itu penting buat dibahas, ini menyangkut kepentingan public di Aceh. Jadi wajar saja jika dua masalah ini menjadi bahasan utama di media-media lokal di Aceh dan juga di Sumatera Utara.

Cerita inilah yang kemudian merasuk di warung-warung kopi di seluruh pelosok Aceh. Cerita yang sama juga muncul di meunasah-meunasah hingga ke rangkang-rangkang, ataupun jambo-jambo. Umumnya, mereka mengupas cerita pelantikan yang kemudian diselingi anekdot-anekdot dan bumbu satir yang ditingkahi suara tawa terbahak-bahak. Bagaimana pula pandangan para elit Jakarta maupun di Departemen Dalam Negeri.

Yang paling seram jika membayangkan lawan politik Partai Aceh yang jelas mengunyah cerita ini. Tak perlu mengupas lebih dalam. Tak perlu dengan analisa yang cerdas untuk menggambarkan bahwa dua persoalan itu akan menjadi rudal politik yang akan ditembakkan pada Pemilu 2014.

Jika sudah begini yang paling merana tentu saja kader-kader Partai Aceh dan juga para mantan kombatan yang kini berada di bawah naungan Komite Peralihan Aceh. Sebab merekalah yang menjadi motor politik dalam menggerakkan kemenangan Partai Aceh pada Pilkada 2012 yang lalu. Tahun depan, mereka lagi yang bekerja untuk pemilihan umum. Sekarang mereka harus berhadapan dengan rakyat Aceh yang sedang mengkritisi soal pelantikan itu. Entah bagaimana mereka menjawabnya?

Ini bukan main-main, sebab taruhannya adalah nama baik sebuah organisasi besar yang sarat dengan sejarah Aceh. Jadi sangat wajar jika kemudian KPA menerbitkan sebuah statement pers untuk menjawab persoalan ini. “Itu pekerjaan sebuah kelompok yang kami namakan kelompok siluman,” kata Mukhlis Abee, Juru Bicara KPA, kepada wartawan.

Sangat tajam pernyataan ini. Tentu saja menyampaikan pesan yang sangat terang. Kelompok siluman ini mengisyarakatkan beberapa orang yang campur tangan dalam penentuan pejabat, namun tak bertanggungjawab jika ada masalah. Laksana gerakan siluman, mereka hanya bayang-bayang yang tak akan menanggung akibat dari perbuatannnya. Adalah Gubernur Aceh Zaini Abdullah yang menelan nila perbuatan siluman jabatan itu.

Abee melokalisir mereka pada tiga kelompok, yaitu calo, birokrat, dan rival politik. Para calo biasanya bekerja mengeruk keuntungan materi dari orang-orang yang diupayakannya untuk menduduki sebuah jabatan tertentu, selain mendapat segepok uang mereka juga akan menuai proyek-proyek pemerintahan. Di sini akan lahir potensi-potensi korupsi.

Adapun para birokrat yang dimaksud di sini adalah orang-orang di pemerintahan yang sangat haus akan jabatan dan uang. Dia melakukan apa saja untuk meraih jabatannya, bahkan menggunakan calo.

Sedangkan kelompok rival politik tak bertujuan memperoleh materi, namun gerakan untuk merontokkan wibawa dan nama baik pemerintahan yang nanti bisa digunakan untuk kampanye dalam pemilu 2014. Andai dalam operasi ini mereka mendapatkan uang, itu adalah bonus saja.

Jika benar tiga kelompok ini yang beroperasi, mereka telah menuai hasilnya. Yaitu munculnya sejumlah kontroversi dari pelantikan pejabat itu.

Mencermati pernyataan Abee, maka ketiga-tiga kelompok siluman ini telah bermain serentak seirama laksana sebuah orkestra. Bisa dilihat dari begitu banyaknya pejabat yang dilantik waktu itu, mencapai ratusan orang. Mungkin ini rekor pelantikan yang pernah terjadi di Aceh, bahkan mungkin juga di Indonesia.

Tentu calo-calo yang bermain sudah menuai hasil, walau cuma menembak di atas kuda. Maksudnya, si calo cuma berjanji mengurus dan mengambil uang seseorang namun tak mengurusnya. Dan ternyata si orang itu ikut dilantik, maka amanlah uang yang sudah diterimanya. Tentu saja dari ratusan orang itu ada orang-orang yang haus jabatan dari kalangan birokrat yang berhasil masuk.

Lalu dari mana indikasi rival politik yang bermain. Dicurigai, merekalah yang menyusupkan nama-nama orang yang sudah meninggal, dan orang-orang yang terlibat kriminal untuk ikut dilantik menjadi pejabat. Hasilnya ya seperti sekarang ini, setelah dilantik lalu dibocorkan. Dan seperti inilah akibatnya. Kasusnya meledak hingga ke seluruh penjuru Aceh.

Jika benar, maka jelas ini sebuah rencana yang matang dan terorganisir. Mereka memiliki jaringan mulai dari calo, birokrat, bahkan juga berhasil masuk ke jantung pemerintahan. Aktivitas ini tak bisa dianggap enteng, ini sebuah konspirasi yang bertujuan merontokkan sebuah benteng kokoh yang berjejak sejarah di Aceh.

Yang jelas, jika persoalan adminstrasi saja bisa mereka acak-acak dengan mudah, maka tak mustahil mereka akan melakukan tindakan-tindakan yang lebih kuat lagi daya serangnya.

Andaikata analisis ini tak benar, artinya sang rival politik telah ketiban bulan ke pangkuan. Tak perlu bekerja keras, mereka hanya perlu waktu sejenak untuk berpesta. Mereka tinggal merancang serangan untuk menyerang program pemerintahan bersih dan bebas korupsi yang selama ini dikampanyekan.

Mereka tak berpeluh mencari isu, sebab telah datang dengan sendirinya. Ibarat makanan lezat gratis yang disajikan dengan manis di meja makan untuk dilahap. Tinggal menambahkan beberapa bumbu penyedap saja untuk menambah kelezatannya. []

Penulis adalah wartawan ATJEHPOSTcom

 

Baca Juga:
Tersangkut kasus mesum, pejabat ini mendapat posisi baru di Badan Dayah Aceh

Cerita orang meninggal masuk SK pejabat yang dilantik gubernur

  • Uncategorized

Leave a Reply