Koki Meuligoe Juru Masak Tujuh Gubernur Aceh

SETIAP hari ia mengawali aktivitasnya dengan berbelanja ke pasar Peunayong, Banda Aceh. Sesekali ia berbelanja ke pasar Lambaro. Ia tak sendiri, ditemani Mursalin sang sopir yang bertugas mengantarkannya. Barang yang ia beli macam-macam, ada sayuran, ikan, beras, dan rempah-rempah.

Lakon itu telah dijalaninya sejak 17 tahun lalu, ketika umurnya masih 32 tahun. Dan, setahun setelah itu sampai sekarang ia menjabat sebagai kepala penanggung jawab dapur di Meuligoe Gubernur Aceh. “Saya bertugas di sini sejak Gubernur Syamsuddin Mahmud,” katanya kepada The Atjeh Post, Minggu, 4 Maret 2012.

Itu artinya, ia telah melayani tujuh gubernur: Syamsuddin Mahmud, Pj Gubernur Ramli Ridwan, Abdullah Puteh, Pj Gubernur Azwar Abubakar, Pj Gubernur Mustafa Abubakar, Irwandi Yusuf hingga Penjabat Gubernur Tarmizi Karim. 

Namanya satu kata. Ramlah. Usianya kini 49 tahun. Sehari-hari dialah yang mengatur menu makanan untuk gubernur di Meuligoe. Pun begitu, ia tak pernah menentukan sendiri mengenai menu yang akan dimasak. Ramlah selalu berkoordinasi dengan 10 orang teman lainnya.

Perempuan yang berasal dari Rima, Aceh Besar ini awalnya hanya seorang buruh cuci di kampungnya. Beruntung, ia dikenalkan oleh seorang teman hingga akhirnya bisa masuk Meuligoe.

Ia pun merasa nasibnya berubah, mendapat makan dan tempat tinggal gratis. Sehingga gaji yang mereka terima setiap bulannya bisa ditabung. “Gaji kami yang dibayar oleh Pemda tetap utuh,” kata Ramlah.

Belasan tahun tinggal di Meuligoe, tampaknya Ramlah faham betul akan karakter selera lidah pemimpin-pemimpin Aceh. Entah karena terbiasa dengan rasa asam sunti, entah karena ada alasan lain. Ramlah mengatakan bahwa hampir semua gubernur yang yang pernah dilayaninya di Meuligoe memiliki selera yang sama: kuah asam keueung.

“Kalau Pak Tarmizi tidak terlalu suka asam keueung karena tidak bisa makan pedas. Bapak lebih suka sop,” kata Ramlah.

Sebelum berangkat ke pasar untuk berbelanja, Ramlah dan kawan-kawan telah lebih dulu menyiapkan menu sarapan pagi untuk sang gubernur. Setelah shalat subuh biasanya hidangan sudah tersaji di meja makan.

Dalam hal mengoperasikan perkakas dapur keahlian mereka tak perlu diragukan lagi. Meskipun tak pernah sekolah di jurusan boga, perempuan tamatan Sekolah Menengah Pertama ini sangat lihai dalam meracik bumbu dan mengolahnya menjadi menu yang lezat dan nikmat. “Kami memperoleh ilmu secara turun-temurun dari orang tua kami.”

Percakapan kami terhenti ketika dari luar terdengar suara memanggil Ramlah. Perempuan yang belum pernah menikah ini bergegas. Rupanya, saatnya berbelanja telah tiba. Ia akan segera memulai harinya, berbelanja ke pasar Peunayong atau Lambaro untuk bekal makan siang sang gubernur.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply