Kisah Wak Nong, supir labi-labi perempuan dari Blangpidie

BADANNYA tergolong tambun. Sebuah topi dengan tali yang diikat dengan tali bertengger di kepalanya. Di jemarinya terselip sebuah cincin besar bermata batu. Sepintas, orang akan menyangkanya laki-lakinya.

Dia adalah Salwani. Sehari-hari perempuan itu berprofesi sebagai supir angkot, atau biasa disebut labi-labi di Aceh. Orang-orang sering menyapanya dengan nama Wak Nong. Setiap hari ia mangkal di Jalan Pasar Baru, Blang Pidie, menanti penumpang untuk trayek Babahrot- Seumayam.

Ditemui ATJEHPOSTcom di Pasar Baru pada Jumat pagi, 8 Maret 2013, Wak Nong berkisah tentang perjalanan hidup yang mengantarnya menjadi supir labi-labi, sesuatu yang identik dengan pekerjaan laki-laki.

"Selama bawa labi-labi saya tidak pernah mengeluh, walaupun terkadang susah mendapat sewa untuk menutupi setoran," kata Wak Nong yang mengenakan t-shirt lengan pendek.

Lahir di Lama Inong, Kuala Batee, Aceh Barat Daya, pada 2 Februari 1972, Wak Nong memulai kerjaannya sebagai kernet labi-labi sejak 1998. Ia naik pangkat pada 2003. Sang pemilik mobil mempercayakannya menjadi supir.

Sewaktu masih menjadi kernet, Wak Nong menghadapi banyak tantangan. Salah satunya soal pembayaran ongkos dari penumpang. "Kadang-kadang penumpang suka tawar menawar ongkos. Ada juga yang bayarnya tidak sesuai tarif," ujarnya.

Namun begitu, kata dia, dulu lebih gampang mencari uang dengan labi-labi. Setiap hari pendapatan berkisar antara Rp150-250 ribu per hari. "Sekarang untuk mendapat uang setoran saja terasa sulit," ujarnya.

Namun, bagi Wak Nong, itu adalah tantangan sekaligus resiko profesinya.

Sewaktu Aceh masih dilanda konflik bersenjata, Wak Nong juga pernah mengalami tindak kekerasan. Ia dipukul dan ditendang sampai memar di depan Kantor Polsek Susoh.

Trauma hidup dalam suasana konflik, ia pun sempat hijrah ke Malaysia pada 2004. Sempat pulang kampung pada 2006, ia kembali lagi ke Malaysia pada 2008. Pertengahan 2010, barulah ia benar-benar pulang ke kembali ke kampung halamannya. "Di sana enak cari uangnya," ujarnya.

Kini, Wak Nong sudah punya labi-labi sendiri. Ia juga dipercaya sebagai Ketua Persatuan Labi-Labi Babahrot Seumayam (PLBS). Tak tanggung-tanggung, ia sudah tiga periode memimpin organisasi isinya semua laki-laki. Setiap periode yang berakhir 2 tahun masa jabatan, ia terpilih kembali lewat mekanisme Mubes.

Saat ini, Wak Nong mulai merasakan penumpang labi-labi tak lagi sebanyak dulu. Menurutnya, itu terjadi karena warga sekarang sudah banyak yang punya motor sendiri. "Sekarang gampang sekali mendapat kredit motor dengan harga murah," ujarnya.

Sebelumnya, Wak Nong juga sering mendapat order membawa barang-barang ke pasar Blangpidie berupa kacang tanah, kayu, sayur mayur dan lain-lain. Saat ini, kata dia, becak angkutan barang pun membawa orang sebagai penumpang. "Perlu ada aturan untuk menertibkan hal ini," ujarnya.

Hal lain, kata Wak Nong, awak labi-labi kini harus bersaing dengan Damri dan Bus Sekolah yang ikut mengambil penumpang umum di jalanan kampung.

Wak Nong pernah memprotes hal itu ke DPRK Aceh Barat Daya. Namun, kata dia, hingga kini kondisi itu masih terjadi. "Apa memang kendaran plat merah itu bandel," ujarnya.

Selama menekuni profesi supir labi-labi, Wak Nong pernah mengalami kecelakaan. Pada 2011, ia terjatuh dari mobilnya saat sedang mengikat barang di atas atap mobil. Tali yang dipakai untuk mengikat terputus. Akibatnya, ia terpelanting jatuh ke aspal. Kepalanya berdarah. Ia tak sadarkan diri. Ia pun harus dibawa ke Banda Aceh untuk menjalani operasi kepala dan perawatan selama 15 hari.

Walaupun sudah berusia 41 tahun, Wak Nong hingga kini masih hidup sendiri. Ia mengaku pernah punya pacar, namun akhirnya putus di tengah jalan. Namun begitu, hasil kerja kerasnya sebagian dipakai untuk menyekolahkan keponakannya.

Ia pun bertekad menjalani profesi sebagai supir labi-labi selama ia masih mampu menjalaninya.[] (yas)

  • Uncategorized

Leave a Reply