Kisah Tragis Penerima Beasiswa Pilot Aceh (2)

Pengantar: 
Ini adalah bagian kedua dari dua bagian tulisan tentang nasib para pemuda yang ikut program beasiswa pilot Pemerintah Aceh sejak 2009. Bagian pertama klik: Kisah Tragis Penerima Beasiswa Pilot Aceh (1)

***

Masalah lain muncul lagi ketika mereka diminta melanjutkan pendidikan di Aceh Pilot School, sekolah penerbangan yang berpusat di Blang Bintang, Aceh Besar, yang juga di bawah Lembaga Dirgantara Aceh. Namun, penerima beasiswa menolaknya. Mereka menganggap dua pesawat Cessna milik Aceh Pilot School kondisinya tidak laik terbang. "Kalau kami dipaksa melanjutkan pendidikan di Aceh Pilot School, itu sama saja mau bunuh kami," ujarnya. 

Catatan ATJEHPOST.com, dua pesawat rusak di Aceh Pilot School itu adalah aset PT Aviasi Upata Raksa Indonesia yang bermarkas di Halim Perdanakuma Jakarta, lalu diakuisisi oleh Pemerintah Aceh lewat perusahaan plat merah Perusahaan Daerah Pembangun Aceh (PDPA) pada Desember 2010. PT Aviasi ini saat dibeli oleh Pemerintah Aceh, Direktur Utamanya adalah Teuku Syahril, yang juga Kepala Lembaga Dirgantara Aceh. Sementara Aceh Pilot School, juga dikelola oleh Teuku Syahril dan orang-orangnya.  Padahal, aturan perundang-undangan melarang pejabat pemerintahan menjadi direktur di perusahaan swasta.  

Ketika pembelian PT Aviasi berikut aset-asetnya dilakukan, dari lima pesawat bekas aset PT Aviasi, hanya dua yang bisa beroperasi termasuk satu unit dalam kondisi rusak. Hal itu diketahui setelah Komisi D DPR Aceh yang waktu itu dipimpin Jufri Hasuddin meninjau aset PT Aviasi pada akhir Mei 2011. 

Lantaran para calon itu menolak sekolah di Aceh Pilot School, kasus ini sampai ke Gubernur Zaini Abdullah yang belum tahu duduk perkaranya. Maklum, program ini sudah dimulai sejak 2009. Sementara Zaini Abdullah dilantik sebagai Gubernur Aceh pada 25 Juni 2012. 

Dalam pertemuan dengan Gubernur Zaini di Meuligoe Gubernur pada Januari 2014, 7 penerima beasiswa pilot tahap pertama ini dibebaskan melanjutkan pendidikan ke mana saja mereka suka, tidak harus di Aceh Pilot School. Dalam pertemuan itu, Teuku Syahril juga hadir bersama Kepala Sekretariat Lembaga Dirgantara Aceh, Fakhrulsyah Mega. 

"Namun anehnya, Lembaga Dirgantara Aceh seperti memaksa kami agar mau sekolah di Aceh Pilot School. Ini ada apa? apakah supaya ada alasan untuk bisa tarik anggaran membiayai Aceh Pilot School?" 

Pria ini lalu bercerita, untuk biaya pendidikan lanjutan hingga mendapat lisensi CPR/IR biayanya sekitar Rp450-500 juta. Sementara yang dianggarkan untuk mereka dan belum diterima hingga sekarang adalah Rp350 juta. "Artinya apa? Kan supaya bisa minta uang lagi bahwa dana yang ada tidak mencukupi," ujarnya.  

Dalam pertemuan dengan gubernur Aceh, Kepala Dirgantara Aceh Teuku Syahril membantah pesawat aset PT Aviasi yang dulu dibeli dari perusahaan yang dipimpinnya tidak layak terbang. "Pesawat mau tahun berapa di seluruh dunia silakan periksa tahun 1979, 1981, 1982 masih dipakai di luar negeri,” ujarnya.

Kini, enam bulan setelah pertemuan dengan gubernur, nasib mereka juga belum jelas. Alasannya, dana tak kunjung turun. Dari Biro Keistimewaan dan Kesejahteraan mereka dijanjikan akan segera sekolah lagi. Namun tunggu punya tunggu, janji itu tak kunjung terwujud. 

"Di depan gubernur mereka bilang segera diselesaikan, tapi sampai hari ini kami tidak mendapat kepastian," tambahnya. 

Calon pilot ini kini hanya bisa menyesali nasib. Seharusnya, kata dia, jika pemerintah tidak bisa bertanggung jawab terhadap nasib mereka, mengapa harus menjanjikan beasiswa yang pada akhirnya malah membuat masa depan mereka kian tidak jelas. 

"Sekarang mau kuliah lagi sudah tidak mungkin. Umur sudah 24 tahun. Dulu ketika ikut program ini masih 19 tahun," ujarnya dengan suara pelan. 

Kini, sehari-hari anak muda ini hanya bisa menunggu. Meski perjalanan pendidikannya penuh lika-liku, ia masih memendam harapan menjadi pilot sesungguhnya. Haruskah impian itu dipadamkan oleh pihak-pihaknya yang dulu menjanjikan masa depan cerah untuk para penerima beasiswa pilot ini?[] 

Baca juga:
Kemana Dana Beasiswa Pilot Aceh Mengalir?

Puluhan Miliar untuk Sekolah Pilot Aceh

Rp50 Miliar untuk Lembaga Dirgantara Aceh, Apa Hasilnya?

Inspektorat Usut Dugaan Korupsi di Lembaga Dirgantara Aceh

  • Uncategorized

Leave a Reply