Kisah Perempuan Israel dan Gaza Bertahan Hidup di Ladang Perang

SETIAP pagi, Adele Raemer hanya punya sedikit waktu untuk jalan-jalan dengan dua anjingnya, sebelum akhirnya berlari ke kamar mandi. Pengalaman membuatnya paham benar kapan dia harus melakukan apa.

Di penghujung pagi, ia harus segera berlari ke lubang perlindungan di rumahnya. Itu adalah saat sirene melengking, tanda peringatan bahwa hujan roket segera tiba.

Di lubang itu, ia hanya bisa melakukan satu hal: menunggu serangan berlalu.

***

Di sisi lain perbatasan, dibalik tembok Gaza, Rasha tak punya tempat yang aman untuk berlindung. Jet tempur yang memuntahkan roket bisa datang setiap saat, siang atau malam hari.

Di tempat itu, salah satu kawasan dengan penduduk terpadat di dunia, Rasha menyadari segala kemungkinan bisa terjadi, termasuk bom jatuh di dekatnya, dan mungkin akan merontokkan rumahnya.

Yang bisa dilakukannya hanya berdoa, berharap Allah melindunginya.

****

Episode kehidupan seperti itulah yang dialami para perempuan di Gaza setelah ketegangan kembali meningkat antara Israel dan Palestina sejak Selasa lalu. Roket dan serangan udara berseliweran di antara Gaza dan Israel.

Raemer tinggal di Kibbutz Nirim, komunitas pertanian Yahudi di Eshkol, hanya satu setengah mil dari Gaza.

Di sana, ia telah menyiapkan segala sesuatunya, berjaga-jaga jika sewaktu-waktu sirene pertanda serangan roket dibunyikan.

"Semuanya sudah dipersiapkan.  Saya tahu kemana harus berlari jika sewaktu-waktu bahaya mengancam," kata wanita Amerika kelahiran Israel itu seperti dilaporkan CNN, 10 Juli 2014.

Dia juga telah menggeser benda-benda apa pun yang bisa menghalangi langkahnya menuju bunker perlindungan. Dengan begitu, dalam sekejap ia bisa berlari.

Pihak berwenang telah memberitahukan, bahwa mereka hanya punya waktu 15 detik untuk menyelamatkan diri setelah sirine peringan terdengar. Namun, Raemer merasa ledakan roket datang lebih cepat.

"Bukan 15 detik, di bawah 10 detik," katanya. "Terkadang ledakan bom terdengar saat saya masih berlari menuju tempat perlindungan."

***

Rasha tinggal di Khan Yunis di selatan Gaza. Dia menolak nama aslinya disebutkan. Dia khawatir seseorang yang tidak setuju dengan pernyataannya bisa saja sewaktu-waktu datang dan mengintimidasi.

Seperti Raemer, serangan yang datang bukanlah sesuatu yang dia inginkan.

Sekolah-sekolah ditutup. Toko-toko dilarang buka.

Dia pun hanya bisa duduk di rumah sepanjang hari. Ketika tak berdaya, dia duduk dalam gelap, mendengarkan suara bom yang dijatuhkan.

"Suaranya sangat kuat," katanya kepada CNN.

***

Raemer adalah seorang guru pelatihan komputer online. Dia lebih banyak bekerja dari rumahnya. Dia tidak banyak keluar rumah untuk bekerja yang dapat mempertaruhkan nyawanya setiap waktu.

Sejak ketegangan memuncak, toko di Kibbutz hanya buka satu jam di pagi hari, dan satu jam saat sore tiba. Suatu waktu, saat sedang belanja di toko, ia mendengar sesuatu.

"Aku berlari ke ruang pendingin," katanya.

Di sana telah ada orang lain. Empat roket mendarat di Nirim pekan ini. Dia juga khawatir Hamas akan menggali terowongan bawah tanah di Kibbutz dan mengisinya dengan bahan peledak.

***

Sejak  Selasa lalu, pesawat-pesawat tempur Israel terus melancarkan serangan mematikan di Gaza. Di sisi lain, para pejuang Hamas juga menembakkan roket ke pemukiman Israel.

Dari Amerika, Presiden Barack Obama menawarkan diri sebagai penengah. Ia telah menelepon Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan menawarkan diri untuk memjembatani gencatan senjata di Gaza.

Obama mengatakan ia khawatir pertempuran bisa meningkat. Itu sebabnya ia menyerukan semua pihak melakukan sesuatu yang mereka bisa untuk melindungi warga sipi;

Sejak selasa lalu, setidaknya 88 warga Palestina yang kebanyakan masyarakat sipil, meregang nyawa akibat serangan Israel di Gaza. Israel juga dilaporkan sedang menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan serangan darat.

Dalam sebuah serangan mematikan, delapan anggota keluarga Palestina, termasuk lima anak-anak, tewas dalam serangan udara yang merontokkan dua rumah di Khan Younis, di selasan Gaza, Kamis pagi.

Reporter Aljazeera melaporkan dari Gaza, meski ada dua pihak yang bertikai, namun perang itu tak berjalan seimbang. Di sisi Palestina, setidaknya 88 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka. Sementara dari phak Israel, belum ada laporan tentang korban tewas maupun yang terluka.

Bentrokan baku tembak roket antara Hamas dan militer Israrel telah menuai reaksi keras dari para pemimpin di seluruh dunia.

Sekjen PBB Ban Ki-moon telah mengeluarkan pernyataan keras. Ia mengutuk serangan roket dan mendesak Israel menahan diri.

Petugas media di Gaza yang dikuasai Hamas mengatakan dari 88 warga Palestina yang meregang nyawa, terdapat setidaknya 60 warga sipil termasuk seorang gadis empat tahun dan anak laki-laki usia lima tahun tewas pada hari Kamis.

Dalam sebuah pernyataan, pejabat militer Israel mengatakan,"selama operasi berlangsung, IDF telah menyerang sejumlah di Gaza yang sedang dipakai untuk tujuan militer…Rumah-rumah ini dapat digunakan untuk penyimpanan senjata, komando dan pusat kendali, atau komunikasi."

Serangan Israel dimulai setelah pembunuhan terhadap tiga pemuda Israel bulan lalu, dan pembunuhan seorang remaja Palestina yang diduga sebagai aksi balas dendam.

Israel mengatakan telah menyerang lebih dari 750 sasaran di Gaza. Pemimpin Israel telah memperingatkan serangan udara bisa menjadi invasi darat. Sebanyak 20 ribu tentara telah disiapkan, kata pejabat militer Israel.

***

Di Khan Yunis,  orang-orang yang mengamati puing-puing rumahnya akibat terjangan roket telah menjadi pemandangan umum.

Hal itu kembali terjadi pada Selasa lalu, ketika jet tempur Israel berputar-putar di atas rumah sebuah rumah yang diketahui milik anggota Hamas. Di atas atap, beberapa lelaki tampak bersiaga.

Serangan itu menyebabkan 7 orang meninggal, termasuk dua bocah berusia 10 dan 11 tahun.

"Di rumah itu tinggal seorang lelaki tua dan istrinya bersama 5 anak lelaki dan istri mereka, juga anak-anak mereka," kata Ahmad, yang tinggal tak jauh dari Rasha. "Setiap warga Palestina adalah target."

Ketika mendengar kabar tentang kematian itu, Rasha tak sanggup mengontrol emosinya.

"Untuk Palestina, rakyat Gaza, dan semua orang," katanya.

***

Rasha dan Raemer selalu memantau pemerintaan dari televisi.

"Saya punya tiga televisi di rumah. Terkadang ketiganya menyala," kata Raemer.

Maka hari-hari terakhir dalam pekan ini, layar televisi dihiasi berita yang menyedihkan, juga menebar rasa takut.

Lebih dari 130 roket dijatuhkan di pemukimin sipil Israel. Melbih dari 200 serangan udara mendarat di Gaza. Setidaknya 88 warga Palestina dilaporkan meregang nyawa. Sekitar 1000 warga sipil Israel dipanggil untuk wajib militer.

Hari Selasa itu, putri Rasha sebenarnya sudah bersiap-siap hendak ke kampus. Namun ada banyak ledakan di luar rumah. Dia pun mengurungkan niatnya, dan menonton televisi di rumah.

Parahnya, listrik hanya menyala enam jam sehari. Ketika listrik padam, mereka seringkali hanya bisa mendengar siaran radio yang menggunakan batterai.

***

Di Nirim, setiap terdengar suara ledakan bom, Raemer meloncat dari tempat duduknya. Dia yakin itu adalah tanda-tanda trauma.

Pada akhirnya, untuk mengatasi ketakutan, ia mencoba melucu dengan mengunggah secara online tentang cara memasak di tengah-tengah serangan roket.

"Potong, potong. Lari, Lari! Potong, Lari!," katanya merujuk pada perempuan yang harus berlarian saat sedang memasak sesuatu.

***

Tal Tzukan dan suaminya, Dagan, tinggal di Ohad, sebuah komunitas yang bertentangga dengan Nirim. Mereka punya dua anak perempuan usia 5 dan 2 tahun.

Setiap kali pintu terbanting keras, atau raungan suara mobil pecah, anak-anak itu  terlonjak kaget.

Tal Tzukan mencoba membuat anak-anaknya punya kesibukan dengan membawa mereka ke taman kanak-kanak, belajar di kelas seni dan kerajinan tangan.

Saat sedang mengendarai mobil dan terdengar sirine merauang-raung, ia segera mengehntikan laju mobil, lalu menarik anak-anaknya keluar dari sedan mereka untuk tiarap di tanah.

Putrinya yang berusia lima tahun tampaknya telah mengerti bahwa ketika sirine berbunyi di perbatasan Gaza, akan membuat jendela rumah mereka ikut bergetar.

Dari rumahnya, Tzukran bisa melihat bom meledak di Gaza yang disusul dengan kepulan asap hitam membumbung ke langit. Sulit baginya untuk tidak membayangkan apa yang terjadi dengan anak-anak Gaza.

Itu sebabnya, bagi Tzukran, hal paling penting yang harus dilakukan oleh kedua pihak adalah menciptakan perdamaian. "Itu yang kami inginkan dan butuhkan, demi kedua belah pihak."

Tetapi itu bukan perkara gampang. Konflik ini sudah berlangsung puluhan tahun. Mereda sebentar, lalu meletus lagi di lain waktu.

Raemer telah tinggal di Nirim sejak 1975. Dia merasakan benar suasana yang berbeda. Ia ingat benar masa-masa ketika ia sering menyetir mobilnya sendirian ke Gaza. Ia juga terkenang seorang lelaki Gaza yang bekerja membangun rumahnya.

"Mereka bukan musuh saya," katanya. "Saya tidak ragu bahwa mereka juga ingin anak-anak mereka aman."

Raemar lahir dan besar di Kibbutz. Satu anak lelaki dan seorang anak perempuannya juga tinggal di sana dan punya bunker perlindungan  di rumah mereka.  Namun setelah serangan roket kian gencar, mereka mengungsi ke pusat Israel.

Awalnya Raemer ingin berangkat juga, tetapi akhirnya ia memutuskan tinggal di rumah bersama dua anjingnya.

***

Di Gaza, Rasha sebenarnya ingin meninggalkan tempat itu. Setidaknya hingga serangan mereda. Namun perbatasan Gaza telah ditutup. Ia tak punya pilihan lain, selain pasrah pada keadaan.

"Di  seluruh dunia, tak ada tempat lain seperti Gaza," katanya. "Sebuah penjara besar untuk dua juta orang."

Akhirnya, ia menghabiskan hari-harinya dengan membaca Quran, dan menunggu perang lebih besar yang diyakininya akan segera datang.

***

Ketika malam tiba, Raemer buru-buru menyikat gigi, lalu bergegas ke tempat tidur di ruang yang disebut sebagai "ruang aman."

Saat pertempuran memanas di malam hari, dia merasa lebih aman di dalam bunker daripada di tempat tidurnya.

Sementara di Gaza, tidur bukanlah sesuatu yang mudah, kata Rasha. Anak-anak meringkuk di pangkuan ibu mereka, ketakukan jika sewaktu-waktu bom dijatuhkan.

Ketika matahari terbit lagi, Raemer akan menghabiskan harinya dengan berlari ke bunker sepanjang hidupnya. Sementara di Gaza, kata Rasha, ia hanya bisa menunggu kematian datang menjemput.[] sumber: CNN | Aljazeera

  • Uncategorized

Leave a Reply