Kisah Pembuat Film Malaysia ‘Berjihad’ di Suriah

MALAYSIA  kini sedang heboh dengan keputusan sejumlah pemuda negeri jiran itu yang ikut ambil bagian dalam perang melawan pasukan pemerintah Suriah.  Hal itu dianggap berlawanan dengan tindakan pemerintah Malaysia di dalam negeri yang sedang getol-getolnya menguber mereka yang diyakini terlibat dalam kelompok muslim militan.

Koran berbahasa Inggris Malaysia, The Star, hari ini, 7 Juli 2014, menurunkan laporan utama bertajuk Confessions of a Malaysian Militant.

Menurut koran ini, diperkirakan ada sekitar 100 warga Malaysia yang ikut ambil bagian atas nama jihad di Suriah. Yang sudah diketahui pasti ada 3 nama: Ahmad Salman Abdul Rahim (38 tahun), Muhammad Fadhlan Shahidi (21 tahun), dan bekas ketua bidang informasi sayap pemuda Partai PAS Kedah.

Ketiganya membuat heboh lantaran tanpa ragu-ragu mengunggah foto-foto mereka memakai pakaian militer dan memegang peralatan perang di jejaring sosial semisal Facebook dan Twitter. Mereka juga mempublikasikan videonya di Youtube.

The Star mewawancarai salah satu dari mereka bernama Ahmad Salman Abdul Rahim. Wawancara dilakukan lewat pesan Facebook.

Ahmad Salman ini sebelumnya adalah pekerja di industri pembuatan film. Ia diketahui menempuh pendidikan di London dari 1997 hingga 2008, sebelum memutuskan berjihad.

Namun demikian, kepada The Star Ahmad Salman mengaku bekerja sendirian, tidak bergabung dalam kelompok jihad mana pun.

“Kami bergerak sendiri. Kami hidup sendiri. Kami memegang senjata sendiri. Kami tidak terkait kelompok mana pun,” kata Ahmad Salman.

Sejumlah foto-foto Ahmad Salman di laman Facebook-nya memperlihatkan ia memegang senjata berat, juga berpose di depan tank tempur lapis baja.

Menolak dugaan tergabung  dalam al-Qaida maupun ISIL (Islamic State of Iraq and the Levant), dia menekankan bertarung secara independen. Ia juga membantah tergabung dalam salah satu kelompok militan di Malaysia.

“Saya tidak kenal dengan ISIL dan kelompok mujahidin lainnya. Saya juga tidak berharap bergabung bersama mereka. Saya satu kadang-kadang metode mereka terlalu ekstrim, dan saya tidak setuju dengan cara mereka,” kata Ahmad.

Ahmad Salman yang lahir di Parit Buntar mengatakan keputusannya berjihad di Suriah sebagai “panggilan Allah” untuk mempertahankan Islam melawan musuhnya.

Katanya, ia juga tak membuat teror atau membunuh orang tak bersalah, melainkan melawan tentara pemerintah Bashar Assad.

“Saya di sini untuk membela kaum muslimin yang mengalami penyiksaan, pemerkosaan, dan pembunuhan. Saya di sini tidak untuk membunuh dan membuat aksi teror, melainkan mempertahankan agama saya dari ancaman musuh.”

Selama di Suriah, kata Ahmad Salman, ia merasa lebih dekat dengan Allah. Ia lalu membandingkan dengan kehidupannya saat di Malaysia yang sering berbuat dosa dan jarang menyentuh Quran.

Sebelum masuk ke Suriah, Salman mengaku telah terlibat membantu muslim Rohingya di Myanmar . Ia juga telah berusaha masuk ke Palestina namun sulit menembus perbatasan di Lebanon.

“Saya telah mengunjungi 11 negara muslim sebelum ke Suriah,” katanya. “Akhirnya saya putuskan berjuang di Suriah. Sebagian besar kelompok mujahidin berbasis di sini.”

Salman mengatakan, keputusannya berjuang di Suriah mendapat dukungan dari keluarganya di Malaysia.  Ia mengaku rutin berkomunikasi dengan keluarganya. “Mereka mengerti dan mendukung misi saya,” ujarnya.

Selama bulan puasa, Salman tetap menjalani ibadah puasa meskipun di sana orang-orang berpuasa 16 jam meskipun cuaca sangat panas, di atas 40 derajat celcius.

Pantauan ATJEHPOST.com, Ahmad Salman memang tergolong rajin menulis status di Facebook. Status terbaru ditulisnya 12 jam sebelum sebelum tulisan ini dipublikasikan.

"Bismillah…Selepas solat zohor sebentar tadi dinding markas bergegar… sudah menjadi kebiasaan aku disini bila mendengar bom baramil jatuh menghentak bumi bagaikan rutin harian… disusuli dengan paluan jet pejuang basyar beberapa kali mengelilingi bandar kafr zatay bersama bedilan rangkaian missile… terdiam aku seketika kali ini agak luar biasa…Berita rasmi yang baru aku terima Kem Jabhah Nusrah telah diserang… aku difahamkan 10 orang dikalangan mujahideen gugur syahid dan puluhan lagi cedera parah termasuk orang awam… semoga mereka diterima sebagai syuhada…"

Sementara itu, kantor berita Bernama melaporkan, belum lama ini polisi Malaysia dilaporkan telah menahan 19 orang yang diyakini terlibat grup militan muslim. Mereka diduga kuat bagian dari kelompok militan di selatan Filipina dan negara-negara Timur Tengah.

Dalam pengembangannya, polisi telah menangkap 5 orang yang termasuk dalam daftar buronan. Mereka termasuk dosen Fakultas Studi Islam Universitas Malaya bernama Dr Mahmud Ahmad (35 tahun), dan Muhammad Najid Hussein, pemilik toko fotokopi dan peralatan kantor di University of Malaya.

Di Suriah, sambil melakukan akvititas yang diyakininya sebagai bentuk jihad, Ahmad Salman juga memelihara keyakinan bahwa kiamat sudah dekat.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply