Kisah Ibu-ibu Kurir Gula Sabang

BELASAN wanita terlihat sibuk di Pelabuhan Ulee Lheue, Rabu 29 Agustus 2012. Mereka rata-rata berusia 30 hingga 40 tahun. Peluh muncul di wajah mereka di tengah sengatan matahari siang.

Para perempuan itu memikul karung besar berisi benda padat. Karung tersebut ada yang dibungkus dengan kain sarung, baju hingga kotak kardus. Jika ditaksir beratnya mencapai 50 kilogram.

"Itu gula impor dari Sabang yang diseludupkan ke Banda Aceh," ujar Cek Wan, awak kapal KMP BRR kepada The Atjeh Post.

Menurut dia, pemandangan itu terjadi saban hari. Belasan wanita dipekerjakan sebagai kurir untuk mengangkut gula impor dari Sabang ke Ulee Lheue.

Dari penilaian Cek Wan, aktivitas itu dilakukan untuk menyiasati peraturan karena Pemerintah melarang gula impor murah di Sabang untuk diperdagangkan ke Banda Aceh. Kecuali, gula impor tersebut dibeli masyarakat dengan tujuan untuk keperluan rumah tangga. Itupun tidak boleh lebih dari 30 kilogram.

"Nah, hal inilah yang disiasati oleh oknum. Mereka membeli gula dalam kapasitas besar dan membayar ibu-ibu untuk membawa ke Ulee Lheue," ujar Cek Wan.

Setiba di Ulee Lheue, gula impor tadi akan ditampung seseorang dan dinaikkan truk dengan tujuan ke daerah lain.

Secara ekonomi, kata pria ini, para pengusaha yang melakukan trik tadi akan untung banyak. Mereka membeli gula impor per karung di Sabang Rp450 ribu. Sedangkan saat dijual di Banda Aceh, kata Cek Wan, harga gula mencapai Rp600 ribu lebih per karungnya.

"Upah ibu-ibu tadi sekitar Rp50 ribu sekali jalan. Ini belum termasuk tiket mereka. Jika dihitung bersih, para pengusaha bisa mendapatkan untung Rp100 hingga 150 per karung gula," ujarnya.

Nurbaiti, sebut saja begitu, salah seorang kurir gula impor itu mengaku sudah melakukan aktivitas tersebut hampir sebulan.

Kerja tersebut, kata ibu satu anak ini, bersifat untung-untungan. Dikatakan untung-untungan, karena jika ada razia dari Bea Cukai atau polisi, maka gula tersebut akan disita. Imbasnya, dia dan rekan-rekan tidak akan mendapat upah kerja.

"Kalau beruntung, ya, seperti sekarang. Kami hanya diminta mengantarkan gula ini ke truk di Ulee Lheue. Jika ada razia, kami harus mampu menyakinkan petugas bahwa gula ini milik kami dan akan dipakai pribadi," ujarnya sambil menyeka peluh.

Saat itu jarum jam menunjukan pukul 10.45 WIB. Nurbaiti meminta izin guna kembali ke seberang setelah melaksanakan misinya.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply