Ketika Cisah membuat film Teluk Samawi

HALAMAN rumah itu bermandikan cahaya putih. Cahaya lampu neon secerah rembulan. Di bagian tengah lampu, terukir tulisan Arab. Tulisan warna hijau membentuk bola lampu indah. Bagian atasnya tertulis, “Misykah”. Bagian bawah tertera, “Dari Samudra Pasai Menuju Kebudayaan Asia Tenggara”. Kata “Misykah” bermakna lampu atau penerang.

Lampu itu menempel pada dinding depan dekat pintu rumah berkonstruksi kayu. Rumah bercat hijau muda di sebuah lorong Gampong Uteun Bayi, Lhok Seumawe. Depan rumah, parkir tiga sepeda motor. Ada pula lima pot bunga, kursi plastik hijau dan kursi kayu.  

Samping kanan rumah, berdiri sebuah balai, juga bercat hijau muda. Tampak papan nama, “Cisah (Central Information for Samudra Pasai Heritage)”. Bagian sudut belakang balai, ada bilik. Dekat pintu balai, tergeletak meja kecil, tepat di bawah papan tulis.

Malam itu, Jumat, 20 September 2013, empat laki-laki duduk bersila beralaskan karpet di atas balai Cisah. Salah satunya, Taqiyuddin Muhammad, peneliti sejarah kebudayaan Islam. Ia sedang berbicara dengan seseorang lewat telpon seluler. Tiga anggota Cisah lainnya, Herman, Mawardi dan Andi Alam menyimak perbincangan Taqiyuddin yang menghidupkan speaker telpon genggamnya.

“Ustad, kapan datang ke PKA,” terdengar suara Sukarna Putra, anggota Cisah yang berbicara dengan Taqiyuddin. “Ustad” adalah sapaan akrab untuk Taqiyuddin. Sukarna Putra sedang berada di lokasi Pekan Kebudayaan Aceh atau PKA di Banda Aceh.   

“Saya, kalau sudah siap booklet (buku berukuran kecil), baru datang ke sana. Nye lheuh thon ukeu, kakeuh thon ukeu lon jak (kalau selesai tahun depan, maka tahun depan saya datang),” ujar Taqiyuddin sarat canda. Booklet yang dimaksud berisi penjelasan sejarah Lhok Seumawe di masa Samudra Pasai.

“Malam ini, kami upayakan finalisasi narasi film (dokumenter) sejarah Lhok Seumawe,” kata Taqiyuddin lagi. “Bereh that nyan (bagus sekali itu),” timpal Sukarna Putra.

Taqiyuddin melanjutkan, “Ini kali pertama kita luncurkan ke publik, informasi terbaru hasil penelitian Cisah yang akan kita publikasikan melalui film itu”.

Perbincangan Taqiyuddin dengan Sukarna Putra kemudian terputus. “Mungkin  hape-nya sudah habis batre,” kata Mawardi.

Mawardi lantas membaca narasi film dokumenter Lhok Seumawe berjudul “Berlian di Jalur Sutra Bahari”. Narasi tersebut ditulis oleh Taqiyuddin, hasil penelitian tentang sejarah Lhok Seumawe era Kerajaan Islam Samudra Pasai. Rencananya, film tersebut akan diputar di Anjungan Lhokseumawe di PKA ke-6.

… dari sini pula armada-armada perdagangan dan militer Kerajaan Samudra Pasai telah dipersiapkan untuk berlayar mengembangkan hubungan antarbangsa, serta dakwah kepada agama Allah. Untuk itu pula kemudian teluk tersebut dinamankan dengan nama Teluk Samawi,” Mawardi membacakan sepenggal narasi film tersebut. Suaranya gemetaran.

Selesai menyimak dengan tekun, Taqiyuddin mengambil alih teks narasi itu dari tangan Mawardi. “Ada beberapa kata yang perlu saya koreksi lagi,” kata Taqiyuddin.

Ia lantas membuka laptopnya di atas meja di balai Cisah dan memperbaiki narasi tersebut. Bersamaan dengan itu, Mawardi, Herman dan Andi Alam masuk ke bilik. Mereka menonton film dokumenter sejarah Teluk Samawi lewat layar komputer 21 inc.
 
***

Berada di balai Cisah membuat kita terasa dekat dengan situs-situs sejarah Samudra Pasai. Balai itu memamerkan sejumlah gambar situs sejarah. Pada dinding balai, ada gambar nisan dengan beragam motif tetumbuhan melambangkan kemakmuran dan ketentraman (makam Sitti Rahimah bint Paduka Raja, di Kuta Karang, Samudera, Aceh Utara).

Ada pula gambar makam Husain ibn Syaikh Ahmad ibn Ra Zakriy (lokasinya di komplek makam Raja Khan, Kuta Karang, Samudera, Aceh Utara). Gambar situs makam Habib (di Leubok Tuwe, Meurah Mulia, Aceh Utara). Gambar situs makam Raja Ahmad (di Leubok Tuwe).

Dekat pintu bilik, dipajang gambar makam Khawajah atau Khoja (di Gampong Pie, Aceh Utara). Gambar surat Sultan Zainal ‘Abidin (sultan terakhir Samudra Pasai, wafat 1518 masehi), surat itu tersimpan di Ussabon Portugis. Lalu gambar dirham Zainal ‘Abidin Malik Azh-Zhahir dan Abu Zaid Malik Azh-Zhahir yang ditemukan di kawasan inti tinggalan Samudra Pasai.

Dalam ruangan bilik, gambar khat unik pada nisan makam di Lhok Euncin, Baktya Barat, Aceh Utara. Gambar relief pada nisan makam di Blang Sialet, Paya Bakong, Aceh Utara. Gambar nisan makam Khujah Tajuddin bin Ibrahim (wafat 875 masehi) di Kuta Karueng, Samudera, Aceh Utara. Gambar peta alur sungai Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Juga sejumlah gambar lainnya.

Balai Cisah ini pernah dikunjungi berbagai kalangan yang tertarik dengan sejarah Samudra Pasai. “Rafli, penyanyi Aceh, misalnya, sudah beberapa kali berkunjung ke markas Cisah untuk berdiskusi dengan Ustad Taqiyuddin,” ujar Heman.

Sepuluh menit berlalu. Taqiyuddin akhirnya selesai memperbaiki narasi film dokumenter sejarah Teluk Samawi atau Lhok Seumawe. Ia kemudian memanggil Mawardi untuk membaca kembali naskah tersebut.

… Samawi diambil dari kalimat Sama Thar yang berarti langit penaung, sebuah julukan yang diberikan kepada Samudra Pasai pada pertengahan abad ke-15 masehi dikarenakan wilayah kekuasaannya yang luas”.

Nama Samawi ini pulalah yang kemudian diambil untuk menyebutkan daratan di mana teluk ini berada, Lhok Seumawe….

Anda ingin menonton film dokumenter sejarah Teluk Samawi? Kata Mawardi, nantikan pemutarannya di arena PKA.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply