Ketentuan Puasa Bagi Musafir dalam Islam

Ketentuan Puasa Bagi Musafir dalam Islam

TAKENGON – Seorang musafir yang melakukan perjalanan minimal sejauh 86 kilometer diperbolehkan untuk berbuka puasa dalam bulan Ramadan. Namun diwajibkan baginya untuk mengganti puasa tersebut di bulan lain.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Tengah, Teungku Rajali Irsyat, kepada portalsatu.com, Sabtu, 11 Juli 2015.

“Itu ketentuan dalam Alquran. Berlaku mulai diturunkan hingga sampai akhir dunia ini,” katanya.

Meskipun begitu, dia mengatakan sebaik-baiknya musafir adalah mereka yang sanggup menjaga puasanya hingga waktu berbuka tiba. Apalagi saat ini untuk menempuh jarak 86 kilometer hanya membutuhkan waktu sektiar 1,5 jam.

Kondisi ini, kata dia, berbanding jauh kala masa Rasulullah yang menggunakan unta sebagai alat transportasi.

“86 kilo kan dari Takengon-Bireun cuma. Apalagi saat ini kita pakai mobil atau kereta (sepeda motor). Rasanya sangat kita sayangkan kalau ada yang berbuka puasa karena perjalanan seperti itu,” ujarnya.

Teungku Rajali mengatakan Islam juga memperbolehkan musafir untuk menggabungkan salat antara ashar ke zuhur atau sebaliknya. Dalam Islam istilah ini disebut jama’ taksir atau jama’ takdim.

“Hal ini lagi-lagi juga harus kita lihat kondisi zamannya. Kalau kita berangkat setelah zuhur di Takengon, tidak pun tiba waktu ashar kita sudah sampai ke Bireuen. Rasanya juga sangat kita sayangkan kalau salat tidak kita sempurnakan sesuai raka’at,” katanya.[](bna)

Leave a Reply