Kesaksian Orang Minang Tawanan Pasukan Suami Cut Meutia

HARI ini, 25 Oktober 2014, tepat 114 tahun meninggalnya pahlawan Aceh Cut Meutia. Perempuan perkasa itu ikut dalam perjuangan melawan Belanda bersama suami pertamanya Teungku Chik Tunong, dan suami keduanya Pang Nanggroe. 

Salah seorang yang merekam detail perjuangan Cut Meutia bersama suami pertamanya adalah Joesoef Sou'yb. Joesoef yang orang Minangkabau itu pernah menjadi tawanan pasukan Teungku Chik Tunong di kawasan Keureutoe, sekarang di sekitar Lhoksukon, Aceh Utara. Joesoef yang berada dalam tawanan selama 21 hari, menuliskan apa yang disaksikan dan dirasakan selama menjadi tawanan dalam sebuah buku. Berjudul Pengalamanku Masa Perang Aceh, buku itu diterbitkan pada April 1941, empat tahun sebelum Indonesia merdeka. 

Sejarah mencatat, salah satu prestasi Teungku Chik Tunong adalah menyerang pasukan Belanda di Krueng Keureutoe pada November 1903. Disebutkan, pasukan yang dipimpin Letnan Kok itu dapat dihancurkan oleh Teungku Chik Tunong. 

Peristiwa itu direkam dengan detail oleh Joesoef Sou'yb yang menyaksikan peristiwa itu dengan mata kepalanya sendiri. Saat peristiwa itu terjadi, adalah hari ke-21 Joesoef menjadi tawanan pasukan Teungku Chik Tunong. Ia yang bekerja di kereta api Atjeh Tram, berada dalam kereta api yang sedang mengangkut tentara Belanda yang terluka setelah diserang pasukan gerilyawan di sekitar Lhoksukon. 

Dalam bukunya, Joesoef menuturkan, pasukan Teungku Chik Tunong mendapat informasi pergerakan pasukan Letnan Kok dari dua orang Aceh yang tertangkap karena menjadi mata-mata Belanda. 

Karena nyawanya terancam, dua cuak itu pun membeberkan pergerakan pasukan Belanda. Dari mereka lah diperoleh informasi ada pasukan Belanda yang sedang bergerak mencari jejak Teungku Chik Tunong. 

"Keduanya dibawa menjumpai Teuku Tjhiek Tunong. Ketika ia diancam hendak dibunuh, maka entah karena takutnya, keduanya pun membukakan rahasia kompeni, bahwa sekarang ada sepasukan kompeni yang lagi mencari dan mengikuti jejak Teuku Tjhiek Tunong. Pasukan itu dikepalai oleh Luitenant Kock dan terdiri atas empat puluh lima orang dengan persenjataan lengkap. Malam ini mereka akan menyeberangi krueng yang ada dekat Sampoiniet," tulis Joesoef.

Joesoef juga menceritakan bagaimana cara Teungku Chik Teunong membuat kedua cuak itu buka mulut. 

"Sunyi senyap beberapa jurus lamanya. Kesunyian itu kemudian dipecahkan oleh suara Teuku Tjhiek Tunong: "Dengar!" katanya dengan suaranya yang menyatakan agung dan hebatnya, perkataannya itu dihadapkannya kepada kedua tangkapan itu. "Kami suka menjanjikan kemerdekaan dirimu, asal kamu bersetia dan bersumpah, akan ikut bersama kami. Maukah kamu?"

Mendengar itu, kedua orang Aceh yang menjadi mata-mata Belanda itu menurut. Joesoef menyebut sikap mereka itu sebagai "sifat ganjil." 

"Disini perlu saja ceritakan bahwa sifat orang Atjeh sangat ganjil. Kehormatan mereka kepada Uleebalang-nya sangat dalam tertanam di dalam hati setiap mereka. Seorang dua mungkin terbujuk oleh kompeni tapi bilamana tengah jauh berada dari kepalanya. Manakala mereka telah berada kembali di depan Uluebeulangnya, sifat keperwiraan dan pengorbanan mereka timbul kembali. Relalah mereka mati asal untuk Rajanya. Demikian pula dengan kedua tawanan ini. Mereka segera bersumpah dan belot menjadi orang muslimin kembali."

"Sekalian mereka bersukacita menyambut kedua teman baru ini. Dalam pada itu mereka lalu bermupakat mencari ikhtiar untuk memasang perangkap bagi pasukan patroli tersebut. Akhirnja putuslah juga suatu daya upaya, begini jalannya: Pang Mobin bersama temannja itu mesti balik kembali ke Sampoinit. Keduanja tak boleh menunjukkan perubahan pendiriannya," tambah Joesoef.

Skenario penghadangan pun disusun. Karena untuk menyerangi Krueng Sampoiniet pasukan Belanda harus menggunakan perahu, Pang Mobin dengan temannya mesti menawarkan diri sebagai penunjuk jalan. Nantinya, pasukan Teungku Chik Tunong (Joesoef menyebutnya pasukan muslimin) akan menanti dengan alat senjata lengkap. 

"Bila sudah tiba di tengah-tengah sungai besar itu kelak, yang berarus deras dan sangat dalam, dan dari pinggir seberang telah terdengar dua tembakan selaku alamat, Pang Mobin dengan temannya harus membalikkan perahu itu hingga terbenam. Atau kalau tidak, mencabut sumbat lobang airnya. Dalam keadaan yang sangat kacau balau itu segenap pasukan muslimin dari pinggir seberang akan melepaskan hujan peluru. Mana yang sanggup diantara serdadu itu berenang ke tepi akan disambut dengan kelewang dan rencong. Demikianlah!" tulis Joesoef. 

Ide itu, kata Joesoef, disambut dengan suka cita. Namun, Joesoef sendiri meragukan kesetiaan kedua cuak itu. 

"Segenap mereka sangat bersukacita menyambut buah pikiran yang dipandang cerdik dan sempurna itu. Tapi saya termenung. Dibalik itu bermacam pikiran timbul dalam kepalaku. Kedua bekas tangkapan itu berjandji dan bersumpah akan melakukannya. Maka tiada lama antaranya keduanyapun dilepaskanlah kembali. 

Ketika mereka lenyap sudah dari pemandangan karena kelindungan oleh semak belukar, dalam hatiku timbul pertanyaan : "Dapatkah keduanya akan setia kepada janjinya?" Tatkala bimbang hatiku itu saja katakan kepada Njak Osen, ia menjawab dengan tersenjum : "Keduanya orang Atjeh, sahabat!" 

Saya biarkan dia dengan kebanggaan hatinya itu, karena kepala saya sendiri sedang penuh pula oleh pikiran akan melepaskan diri ! Tapi caranya?

Bersambung

  • Uncategorized

Leave a Reply