Kepala Rutan Lhoksukon: Jika Ingin Wawancara Harus Ada Surat Izin Khusus

LHOKSUKON – Kepala Rumah Tahanan (Rutan) Lhoksukon, M Saleh melarang wartawan mewawancarai narapidana, tahanan dan sipir.

“Jangan wawancara narapidana, tahanan dan sipir. Jika memang ingin wawancara harus ada surat izin khusus,” ujar dia, saat dimintai izin oleh ATJEHPOSTcom untuk mewawancarai napi dan sipir terkait narapidana dan tahanan kabur, Senin 3 Desember 2012.

Dia melarang untuk mewawancarai napi dan tahanan, mengingat baru kemarin kejadian napi kabur.
"Untuk apa pula mewawancarai sipir, kan sudah ada saya. Lagipula apa keterangan saya tidak cukup,” kata M Saleh.

Dia mengatakan, jika memang wartawan ingin mewawancarai narapidana dan sipir maka harus mengantongi surat izin khusus, kendati ia tak menjelaskan surat izin seperti apa dan dari siapa.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, “setiap pagi pukul 06.15 WIB, sel kamar napi dan tahanan selalu dibuka untuk sarapan pagi. Tepat pukul 07.00 WIB saat yang lainnya mengambil sarapan, delapan napi dan tahanan memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur,” ujar Mursyidin, petugas Pengamanan Pintu Utama (P2U).

Mursyidin merincikan petugas jaga saat para napi dan tahanan itu kabur. Masing-masing, komandan regu piket Ari Sugiono dan Sulaiman Daud selaku Waka Jaga, dengan anggota jaga Junaidi Syahputera. Sedangkan Salihin (anggota jaga lainnya) tidak masuk dinas. Sementara dua anggota PAM Polres Aceh Utara, yakni Briptu Bambang dan Bripda Samiran.

Salah seorang sipir yang tak ingin namanya ditulis menambahkan, mereka memanjat dinding sel setinggi 8,5 meter melalui pagar kawat yang memang rendah, sehingga mudah dijangkau.

“Mereka kabur dari sisi kiri dan kanan. Namun dari sisi kiri agak sulit karena langsung ke lantai parkir, makanya mereka terluka. Sedangkan dari sisi kanan ada tumpukan pasir,” katanya.

Sementara itu salah seorang narapidana yang kerap disapa Ateng, 32 tahun, menceritakan pada pukul 06.15 WIB seluruh napi dan tahanan keluar untuk sarapan bersama.

“Saya melihat Umar tidak langsung mengambil sarapan, namun singgah di kantin dan memakan sepotong roti. Gelagatnya kala itu memang sedikit aneh.”

Saat sedang mengambil sarapan pagi, Ateng mendengar suara ribut di atas seng, seperti suara kaki orang yang sedang berjalan. Petugas sipir lainnya merincikan, napi dan tahanan yang kabur itu berasal dari empat ruang sel.

Masing-masing kamar C-2 atas nama Safriandi (ditangkap kembali) dan Abdurrahman (masih buron). Kamar C-3 atas nama Umar (ditangkap kembali) dan Zainal Abidin (masih buron). Kamar C-4 atas nama Khairun (ditangkap kembali), Ikhwan dan Rahmat Syah (masih buron), serta Kamar C-6 atas nama Ilyas (masih buron).

“Yang kabur dari sisi kiri parkir terlebih dahulu memanjat jerjak sel dekat Pos Pengamanan di dalam rutan. Sedangkan yang kabur dari kanan memanjat jerjak sel di belakang kantin,” ujar petugas sipir itu.(bna)

  • Uncategorized

Leave a Reply