Kepala Dusun dan Anak Toke Sawit Ikut Mencuri Sawit di Simpang Kramat

LHOKSEUMAWE- Dua dari enam pencuri sawit di Desa Batee Lapan atau Kilometer Delapan, Simpang Kramat, Aceh Utara ternyata kepala dusun dan anak toke sawit di desa itu. Mereka mengaku aksi itu dilakukan atas kesepakatan bersama guna memberi “pelajaran” kepada pemilik kebun sawit yang tidak pernah memberi sumbangan untuk meunasah maupun masjid.
 
Ditemui The Atjeh Post di Markas Satuan Reserse Kriminal Polres Lhokseumawe, Rabu malam, 22 Februari 2012, enam tersangka pencuri sawit ini mengaku yang pertama ditangkap oleh tim Reserse Mobil adalah Heri,25 tahun, saat berada di kebun milik Muslim di Desa Batee Lapan. “Saya ditangkap di lokasi pencurian, karena saya juga pekerja kebun milik Pak Muslim,” katanya.
 
Setelah Heri, polisi menciduk Nanda Mundasir,21 tahun, saat memperbaiki sepeda motornya di bengkel Keude Simpang Kramat. Hasil pengembangan terhadap Heri dan Nanda, giliran Safrizal,23 tahun, yang ditangkap saat bersantai di Keude Simpang Leupee, Simpang Kramat.
 
“Saya, orang ke empat yang ditangkap. Saya sedang duduk di pos jaga, tiba-tiba datang mobil anggota Resmob menanyakan yang mana Pak Kadus, saya langsung tunjuk tangan. Lalu, saya langsung disuruh masuk ke mobil, dan saya sudah tahu kalau saya sedang dicari,” kata Abdullah, Kepala Dusun Simpang Jambee, Desa Batee Lapan.
 
Usai Abdullah, tim Resmob menangkap Nazaruddin,28 tahun, di lapangan bola Desa Batee Lapan. Dan, yang terakhir dibekuk adalah Said Marzuki,22 tahun, saat berada di rumahnya di Desa Batee Lapan. Said Marzuki merupakan anak toke sawit di daerah itu.
 
Selain terlibat mencuri sawit, Said Marzuki juga menjadi penampung hasil curian tersebut. “Sawit yang kami curi kalau dihitung secara bersih seberat lebih kurang 1,2 ton atau seharga Rp1.250.000. Uang itu kami bagikan untuk 10 orang atau Rp125 ribu per orang,” katanya.
 
Menurut Said Marzuki, yang terlibat mencuri sawit milik Muslim di Desa Batee Lapan semuanya 10 orang. Tapi polisi baru berhasil menangkap enam orang. “Selain 10 orang yang terlibat, ada beberapa orang lainnya yang datang ke lokasi sekedar meramaikan,” kata Said.
 
Saat pencurian itu, Said mengaku terlibat menaikan sawit ke mobil bak terbuka jenis Ford Ranger BM 9221 TA. “Mobil itu saya pinjam pada salah seorang pengusaha sawit asal Kuta Makmur (Aceh Utara),” katanya.
 
Said dan Abdullah menambahkan, pihaknya mencuri sawit milik Muslim atas kesepakatan bersama guna memberi “pelajaran” kepada pemilik kebun sawit itu. “Pak Muslim orang Lhokseumawe, punya kebun sawit di Batee Lapan, Simpang Kramat, tapi tidak pernah memberi sumbangan dari hasil sawit untuk meunasah atau masjid. Sedangkan pemilik kebun sawit lainnya semua memberi sumbangan saat panen,” kata Abdullah.
 
“Jadi kami mencuri bukan karena perlu uang, apalagi seperti saya yang juga punya kebun sawit dan punya mobil Taft. (Pelaku) yang lain, rata-rata juga ada kebun sawit sendiri. Saya akui perbuatan kami salah secara hukum, tapi kakueh kiban ta peugot ka terlanjur (apa boleh buat sudah terlanjur mencuri),” katanya.
 
Ia mengaku terlibat menjaga pintu pondok di areal kebun milik Muslim setelah  mengurung Joko Adi,27 tahun dan istrinya, pekerja kebun sawit itu.  “Saya pakai sebo (penutup wajah) agar tidak dikenali oleh Joko Adi,” kata Abdullah.
 
Seperti diberitakan, enam pencuri sawit yang sempat mengurung pekerja kebun di Desa Batee Lapan (Kilometer Delapan), Simpang Kramat, Aceh Utara, Minggu malam, 19 Februari, akhirnya berhasil ditangkap oleh tim Reserse Mobil Polres Lhokseumawe, Rabu sore, 21 Februari 2012.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply