Kepala Dinas Pariwisata Aceh: Jangan lagi memandang negatif dunia wisata

SEKTOR pariwisata di Aceh pernah mandeg selama berpuluh tahun. Pencanangan Visit Aceh Year 2013 awal tahun ini, momentum bangkitnya pariwisata Aceh.

“Kita sudah lama terlibat dalam banyak persoalan beberapa tahun lalu. Sekarang, kita harus sama-sama menggagas untuk membangkitkan kembali sektor ini. Aceh reborn (lahir kembali),” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Drs Adami, M.Pd saat dihubungi ATJEHPOSTcom, Rabu malam, 10 April 2013.

Dengan banyaknya potensi alam dan budaya yang dimiliki, menurut Adami, bukan tidak mungkin ke depan Aceh menjadi pusat destinasi wisata nasional dan internasional. Hal ini disampaikan Adami merujuk kepada cakupan potensi yang tersebar di seluruh Aceh.

Adami mengatakan banyak hal harus dibenahi. Selain menyediakan infrastruktur memadai dan mengajak para investor masuk, kata dia, membangun pemahaman masyarakat terhadap potensi pariwisata, hal paling utama.

Menurutnya, sampai kini banyak masyarakat masih berpandangan negatif terhadap pariwisata. “Dominan masyarakat kita masih menganggap dunia pariwisata dari sisi buruknya. Bahkan ada juga yang berpandangan bicara pariwisata adalah bicara maksiat,” ujarnya.

Pada dasarnya, kata dia, anggapan seperti itu tak bisa disalahkan karena syariat Islam di Aceh dijunjung tinggi oleh semua unsur.

"Namun jika kita bisa memahami dasar pariwisata secara menyeluruh, kita yakin masyarakat tidak berpandangan negatif lagi terhadap dunia pariwisata,” ujar Adami.

Adami menilai pariwisata tidak mesti ditakutkan. Sebab, kata dia, dalam ketentuan internasional terdapat satu poin penting yang harus dipahami oleh semua pihak, yaitu, “setiap wisatawan dituntut untuk bisa menyesuaikan diri dengan segala bentuk kearifan lokal tempat yang dituju.”

Dengan ketentuan seperti itu, kata Adami, warga tempat lokasi wisata tidak mesti takut ketika dikunjungi banyak wisatawan. Sebab masyarakat tidak berkewajiban menyesuaikan diri dengan wisatawan, tapi sebaliknya.

“Di sini yang perlu dipahami bagaimana kita menjaga kearifan lokal kita sendiri dengan baik termasuk mengokohkan diri dalam bersyariat. Bahkan sisi religius masyarakat kita bisa memancing minat wisatawan juga. Wisatawan dari Malaysia misalnya,” ujar Adami.[](rz)

  • Uncategorized

Leave a Reply