Keluarkan Banyak Cairan, Pemulangan Jenazah Warga Bangladesh Ditunda

BANDA ACEH – Jenazah Muhammad Abul Kalam, 45 tahun, warga Bangladesh yang meninggal dunia dalam kapal penarik tongkang, tidak jadi diterbangkan ke negara asalnya.

Uli, petugas Palang Merah Indonesia (PMI) Aceh, kepada The Atjeh Post mengatakan korban ditunda dipulangkan karena jenazahnya banyak mengeluarkan akibat sudah terlalu lama meninggal.

Seharusnya, kata Ulil, tadi siang usai diotopsi di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin, jenazah sedianya diterbangkan ke Jakarta dan selanjutnya dikirim ke Bangladesh.

“Korban saat ini masih ditangani oleh pihak dokter, dan hari ini belum bisa diterbangkan ke Jakarta, lantaran harus menunggu pihak imigrasi dari Jakarta," ujar Ulil yang ikut mengevakuasi jenazah ke kapal penarik tongkat bernomor lambung ACS3203 tersebut.

Korban menurut Ulil sudah meninggal sejak 28 Februari 2012.  "Saat ini (jenazah) sudah mulai mengeluarkan cairan tubuh terus-menerus dan telah menghabiskan formalin lebih kurang tiga liter," ujar Ulil.

Formalin tersebut digunakan untuk menghentikan keluarnya cairan tersebut. "Dokter masih menunggu hasil apakah cairan tersebut akan terhenti atau tidak, karena butuh waktu satu jam untuk memastikan itu,” kata Ulil kepada The Atjeh Post tadi sore pukul 15.40 WIB.

Hasil visum sementara, kata Ulil, korban diduga meninggal dunia akibat serangan jantung. "Ini dari hasil visum pihak KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan) dan berdasarkan informasi yang diperoleh dari kru kapal penarik tongkang tersebut,” kata Ulil.

Jenazah Muhammad Abul Kalam dievakuasi tadi pagi sekitar pukul 08.00 WIB, dari kapal penarik tongkang ACS3203 yang sedang berlayar dari Sri Lanka menuju Singapura. Lokasi kapal saat itu sekitar lima mil dari daratan Aceh. Ikut dalam evakuasi tersebut petugas PMI Aceh, anggota Polsek Krueng Raya, dan KKP.

Sebelumnya, kapal penarik tongkang tersebut sudah berkoordinasi dengan Badan Pengusahaan Kawasan Sabang pada dua hari lalu saat kapal tersebut masih di tengah laut dengan jarak 200 mil dari daratan Aceh.

Tapi setelah berkoordinasi dengan Imigrasi dan KKP, petugas mengarahkan pada koordinat yang lebih dekat lagi dengan daratan Aceh. Kapal lalu dievakuasi ke Pelabuhan Malahayati.

Setibanya di pelabuhan pada pukul 11.30 WIB, jenazah langsung dibawa ke RSUDZA Banda Aceh untuk diotopsi.

“Saat ini korban tengah dimandikan layaknya hukum Islam, dan masih diletakkan di ruang jenazah RSUDZA. Korban direncanakan akan dipulangkan besok pagi sekitar pukul 10.00 WIB, setelah kondisi jasad korban tidak mengeluarkan cairan lagi,” kata Ulil.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply