Kata lulusan Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung soal teater di Aceh

LULUSAN Jurusan Seni Teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, Rasidin, menilai seni teater di Aceh mengalami perkembangan yang pesat. Ini terlihat dengan banyaknya muncul komunitas teater kampus,  Namun, ia menilai sejauh ini belum ada komunitas teater ideal di Aceh.

“Teater di Aceh belum bisa memberikan pesan moral dan pesan sosial dari pertunjukan yang ditampilkan,” ujar Rasidin, ditemui ATJEHPOSTcom di Banda Aceh, Jum'at 4 Oktober 2013.

Rasidin yang akrab dipanggil Wig menyebutkan kini di Aceh sudah ada 30 komunitas teater yang tersebar di Banda Aceh, Aceh Besar, Lhokseumawe, Aceh Tengah dan Langsa.

Meski menunjukkan perkembangan pesat, kata Rasidin, teater di Aceh masih bersifat musiman. Sebab komunitas teater baru aktif berlatih ketika mereka mendapat tawaran untuk tampil pada suatu acara. Artinya, kata dia, tidak ada organizer khusus agar komunitas teater tersebut punya kesinambungan.

Menurut dia, teater di Aceh belum memiliki peggemar yang setia. Minat masyarakat untuk menyaksikan  pertunjukan seni tersebut masih rendah. “Teater masih belum ada di hati masyarakat Aceh,” ujar Rasidin yang aktif mengajar di Universitas Serambi Mekkah.

Dia menilai para aktor yang bermain teater di Aceh belum memiliki kemampuan untuk menarik perhatian audiensnya. Baik di awal penampilan hingga suasana penonton sudah terlihat lengang dan diam.

“Seharusnya di lima menit awal penampilan aktor-aktor teater tersebut bisa mengalihkan perhatian audiensnya dan hanya terpusat pada aksi-aksi yang mereka mainkan,  kemampuan seperti ini belum dimiliki aktor teater yang ada di Aceh,”  ujar Rasidin.

Dia mengharapkan ke depan seni pertunjukan teater di Aceh bisa menjadi alat pengontrol sosial dan lapangan pekerjaan baru.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply