Kata Doto Zaini Mengenai Surat Izin Mengemudi di Indonesia

BANDA ACEH – Gubernur Aceh Doto Zaini Abdullah mengaku heran melihat banyaknya anak-anak di bawah umur yang bebas bersepeda motor di jalan raya di Aceh. Padahal mereka secara ketentuan perundang-undangan belum diizinkan berkenderaan. Ini disampaikannya saat bertemu dengan Komunitas Intelejen Daerah (Kominda) Aceh, Kamis 13 September 2012.

”Mereka tidak  hanya berkenderaan sendiri bahkan membonceng lebih dari satu orang," ujar Zaini.
Kata dia, salah satu cara menertibkan budaya berkenderaan di Aceh, pihak kepolisian harus  segera memperketat proses penerbitan Surat Izin Mengemudi (SIM).

“Permohonan SIM jangan terlalu mudah diproses, hari ini diminta besok sudah keluar,” kata Zaini.
Sebelum SIM diberikan kepada seseorang, Zaini meminta agar yang bersangkutan harus melewati prosedur yang telah ditentukan. Termasuk tes kejiwaan dan dipastikan memahami sejumlah ketentuan beralalulintas yang bytelah ditetapkan.

“Saya minta pihak Polda segera membenahi kondisi berlalu lintas di Aceh, termasuk selektif dan mengeluarkan SIM,” tutur Zaini.

Zaini juga menceritakan perihal tingginya budaya berlalu lintas di Swedia. Di sana, kata dia, kesadaran masyarakat dalam berlalulintas sangat tinggi dan anggka kecelakaan di jalan raya sangat rendah. Mengurus SIM di sana, cerita Zaini, tidak semudah dan secepat mengurus SIM di Indonesia.

“Ketika saya pertama menetap di Swedia, saya telah memiliki SIM Indonesia. Tetapi sesampai di sana saya butuh waktu setahun untuk mendapatkan SIM. Untuk mendapatkan izin mengemudi di Swedia akan dilakukan tes yang ketat, sedikit salah akan diulangi kembali sampai seorang pemohon benar-benar memahami ketentuan berlalulintas,” kenang Zaini.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply