Kapolda Jambi: Penembakan wartawan di luar prosedur

KAPOLDA Jambi Brigjen Satriya Hadi Prasetya menyatakan berdasarkan hasil penyelidikan sementara, penembakan oleh polisi yang mengenai wartawan Trans 7 Anton Nugroho, di luar prosedur standar kepolisian.

"Memang di luar prosedur. Ini masalah, kelihatan seperti itu," kata Satriya di RSUD Jambi seusai menjenguk korban, Senin (17/6). Demikian dilansir dari Antara.

Satriya menyatakan sudah meminta maaf kepada Anton, keluarga korban dan para wartawan atas kejadian itu.

"Saya sudah bertemu langsung dengan korban (Anton), istri, serta orang tuanya. Saya sampaikan permintaan maaf. Kami akan perhatikan kesehatan korban hingga benar-benar sembuh," katanya.

Hingga saat ini, pihaknya tengah melakukan penyelidikan, sehingga belum dapat memberikan keterangan tentang pelaku dan lainnya.

"Sedang dalam penyelidikan. Kita sudah ketahui siapa-siapa anggota pemegang senjata gas air mata. Dan akan diinformasikan secepatnya," kata Satriya.

Satriya menyatakan siap bertanggung jawab atas kejadian tersebut. "Yang bertanggungjawab saya. Saya siap bertanggung jawab. namun yang penting saat ini, kami akan perhatikan terus kondisi Anton hingga dia sembuh," tegasnya.

Sementara itu, kondisi Anton Nugroho, hingga sore ini sudah agak membaik walaupun masih terlihat lemah. Anton dapat diajak berkomunikasi dengan suara yang pelan.

"Saya takut menjadi cacat akibat peluru ini," katanya.

Pihak Rumah Sakit Umum Daerah Raden Mattaher Jambi tidak bersedia memberikan keterangan terkait kondisi korban.

Direktur RSUD Raden Mattaher Ali Imran yang ditemui wartawan, bungkam dan berlalu dengan langkah yang tergesa-gesa.

Sementara, dokter spesialis mata yang menangani operasi Anton juga tutup mulut, meski sejumlah wartawan telah menunggunya sejak operasi.

Wartawan Trans7 Anton Nugroho yang bagian bawah mata kanannya terkena serpihan proyektil gas air mata menyatakan polisi menembak langsung ke arah kerumunan massa, bukan ke atas.

Kejadian itu bermula ketika ia melihat aksi dorong-dorongan mahasiswa dengan polisi di depan kantor DPRD. Ia mengambil posisi mengambil gambar di tengah-tengah massa Anton menyatakan peluru yang mengenai matanya itu langsung, bukan pantulan.

"Saya ini anggota Perbakin. Jadi tahu posisi senjata yang ditembakkan langsung ke arah massa," ujarnya.

Anton masih terbaring lemas di ruang perawatan THT dan Mata RSU Raden Mattaher setelah menjalani operasi lebih kurang dua jam, proyektil peluru gas air mata berhasil diangkat dari bawah mata kanan Anton.

Ia menyatakan saat ini pandangannya kabur. Rahang dan giginya terasa nyeri. | sumber: merdeka.com

  • Uncategorized

Leave a Reply